
๐น๐น๐น
Disisi lain, Arse terus mengamati keadaan lewat kemudi kapalnya. Keadaan berkabut jadi bintang juga tidak terlibat, Arse terus saja melihat peta yang dibuat Sean sebelumnya.
"Saharusnya sudah mendekati lokasi kan," gumamnya.
Tak lama Bianca datang dan ikut bergabung bersama suaminya membawa mie instan.
"Kenapa cuma 1 porsi, Bee?" tanya Arse heran.
"Aku sedang tidak bernafsu makan!" jawab Bianca sambil mengingat apa yang dilakukannya sebelumnya pada Silver.
Lalu dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sedetik kemudian Bianca menangis yang mana membuat Arse panik.
"Kenapa, Bee?" tanya Arse dengan memeluk istrinya.
"Aku bodoh, aku tidak bisa jadi ibu yang baik. Aku tidak suka!" keluh Bianca dengan isak tangisnya.
Bianca mengurai pelukan suaminya lalu menatap Arse dengan lekat. "Apa mungkin ingatanku bisa kembali? Aku sangat ingin menjadi diriku yang sesungguhnya! Aku ingin mengingat semuanya! Hiksss...."
Arse mengusap airmata yang jatuh dipipi Bianca lalu mengecup keningnya. "Aku dan anak-anak bisa menerimamu apa adanya, Bee!"
"Tapi aku tidak bisa menerimanya, kadang aku membenci diriku sendiri yang seperti ini!"
Bianca kembali memeluk Arse dengan erat mencari kehangatan suaminya. "Maafkan aku!" lirihnya.
"Kenapa minta maaf? Kau tidak salah apa-apa, Bee!" ucap Arse mencoba menenangkan.
CEKREK!
__ADS_1
Naku yang ingin mendatangi Arse dan melihat kedua orangtuanya berpelukan langsung mengabadikan momen itu.
Sontak membuat keduanya langsung menoleh kearah sumber suara.
"Aku ingin melihatkan pada Blue nanti kalau orangtuaku harmonis sampai tua!" ucap Naku kemudian.
"Apa kau dan saudara-saudaramu tidak malu mempunyai mommy sepertiku?" tanya Bianca memelas.
Naku langsung berlutut di hadapan Bianca dan memegang tangan mommynya itu. "Kami semua mencintaimu, Mom!"
"Walaupun kadang kami rindu masakan mommy yang normal!" tambah Naku.
Bianca terkekeh mendengarnya sampai tiba-tiba Grey mendatangi mereka dengan berlari tergopoh.
"Mom, Dad....," pekik Grey. "Silver!"
"Silver kenapa?" mereka semua langsung panik.
"APA?!"
Mereka semua langsung berlari mendatangi Silver dan kaget bukan main melihat keadaan Silver yang bersimbah darah.
"Mom, sakit!" lirih Silver yang wajahnya memucat.
Yang mana membuat Bianca dengan segera membantu Silver ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Mom, aku bau!" ucap Silver tak enak hati.
"Bukan saatnya mencemaskan itu! Buat mommy berguna sekarang!" Bianca dengan telaten membersihkan darah di kedua paha Silver.
__ADS_1
"Kau kenapa, Sweety?"
"Perutku keram dan sakit lalu tiba-tiba keluar darah!" jelas Silver.
"Kita di tengah lautan dan tidak ada dokter. Bagaimana ini?" Bianca cemas sampai menangis.
Silver yang melihat mommynya seperti itu menjadi tidak tega. "Aku janji tidak akan merepotkan lagi setelah ini, Mom!"
"Kau bicara apa? Aku ini mommy yang mengandung dan melahirkanmu!" sahut Bianca.
Sementara Grey saat ini tengah gemetaran karena Arse dan Naku lagi-lagi menodongkan senjata mereka dikepalanya.
"Kau apakan Silver, hah!"
Grey menggeleng. "Aku tidak melakukan apapun! Silver merasa sakit dan mengeluarkan darah!"
"Apa kau mencabulinya dengan kasar?"
"Tidak, Silver sedang sakit bagaimana mungkin melakukan penjelajahan hutan rimba!" ucap Grey membela diri.
"Lantas kenapa Silver bisa sampai pendarahan?" timpal Naku.
Grey terdiam sambil memikirkan kemungkinan yang dialami Silver karena bersama dengan keluarga Silver membuat kepintarannya memudar.
Sampai Grey mengingat jika Silver bulan ini belum datang bulan. "Astaga! Apa pembuahan bibit sotong laut berhasil!"
"Sotong laut?" tanya Arse yang tidak mengerti istilah cabul anak dan menantunya.
"Itu sesuatu yang bisa membuat Silver boka-boka!"
__ADS_1
"Boka-boka? Apa lagi itu!"
๐น๐น๐น