
๐น๐น๐น
Di kapal, semua tampak saling pandang karena Bianca sudah membuka kotak-kotak makanan hasil masakannya.
"Mommy, sudah belajar masak yang lebih baik. Jadi, kalian semua pasti suka," ucap Bianca kemudian.
"Kau masak apa, Bee?" tanya Arse cemas.
"Aku masak kepiting kuah kecap!" jawab Bianca dengan membuka hasil masakannya.
Arse dan Pandawa langsung mengangkat tubuh mereka bersamaan dan melihat hasil masakan kepiting itu. Jreng! Bahkan tali untuk mengikat kepitingnya saja ikut masuk ke dalam masakan yang mana membuat mereka langsung merinding membayangkan seperti apa rasa masakan itu.
"Ayo cepat makan!" ucap Bianca kesenangan. Lalu dia mendelik kearah Sean yang hanya diam saja sedari tadi. "Sean, makanlah yang banyak, bukankah kau tidak pernah merasa kenyang?"
Sean dengan senang hati mengambil masakan ala Bianca tanpa dia sadari indera perasanya kembali perlahan. Well ya, mungkin selama di Jerman Sean merasa memiliki keluarga jadi keadaan psikisnya juga mempengaruhi penyakit yang dideritanya.
"Buh! Apa makanan ini, makanan manusia? Jadi selama ini, aku memakan masakan seperti ini! Kau tidak berbakat memasak Aunty!" ucap Sean spontan.
Yang mana membuat Bianca langsung menangis histeris ditempatnya. "Aku tidak mau masak lagi!" teriaknya dengan berlari meninggalkan meja makan disana.
"Awas kau ya! Sudah dua kali kau membuat istriku menangis!" ancam Arse pada Sean disana. Lalu dia berdehem. "Tapi setidaknya aku akan dapat enak jadi lanjutkan makan kalian!" pamitnya.
Sementara Pandawa hanya bisa mendengus kesal bersama sampai mereka sadar jika adik mereka tidak ada.
"Dimana, Silver?" tanya Dewa.
Menyadari itu, Sean berusaha mengalihkan perhatian mereka. Karena Sean tahu pasti saat ini Silver bersama dengan Grey.
"Silver pasti sedang menyelam katanya tadi mau mengambil bulu babi!" ucap Sean kemudian.
"Bulu babi? Kau mau menipu kami ya! Silver itu paling anti dengan bulu babi karena saat kecil pernah menginjaknya!" ucap Tira geram.
"Ini mencurigakan, Bang! Kau pasti berkonspirasi dengan Grey kan!" timpal Bima mendelik tajam kearah Sean.
Sementara Juna sudah bersiap menahan tubuh Sean yang akan menjauh. "Mau kemana kau? Mau aku keluarkan jurus Ronggolaweku?"
"Ronggolawe?" tanya Sean gugup.
"Itu jurus yang aku pelajari dari kampungnya Cicil, awas kau ya! Kau tidak akan bisa lepas dariku!"
__ADS_1
Naku mencoba melacak keberadaan Silver dimana melalui Veronica. "Lacak Silver, pindai semua yang ada di Bamberg!" ucapnya.
๐น๐น๐น
Sementara Silver sekarang berada di kamar hotel yang Grey tempati, dia selesai membersihkan dirinya tapi enggan keluar dari kamar mandi karena merasa malu. Dia tidak menyangka jika Grey akan menikahinya secara dadakan, apalagi dengan keadaan mereka yang tengah basah kuyup.
"Argh! Bagaimana ini?" gumam Silver.
Sampai suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya, Silver membuka pintu itu perlahan dengan bathrobe yang melekat ditubuhnya.
"Kenapa lama? Aku mengkhawatirkanmu," ucap Grey menatap istrinya itu.
Silver masih menunduk enggan menjawab, dia sangat malu sekarang dia tidak percaya sudah menjadi istri dari seorang Grey Axton Hoult.
Karena Silver hanya diam saja membuat Grey jadi gemas lalu dia menggendong istrinya itu dan membaringkannya di atas ranjang.
"Grey...," rengek Silver dengan merona saat Grey mengukungnya dari atas.
Grey mengecup kening Silver lalu pindah ke mata, hidung setelah itu turun ke bibir dan me*lumatnya pelan. "Maafkan aku jika kita sudah mendapat restu pasti aku akan menikahimu secara layak!"
"Kau tidak masalah mempunyai istri bau sepertiku, Grey?" tanya Silver kemudian.
"Eugh!" Silver melenguh saat Grey menyesap lehernya dan meninggalkan jejak merah disana. "Grey, hentikan! Kau seperti Dracula!"
"Aku tidak ingin terus bergantung padamu, Grey! Tidak mungkin kau 24jam bersamaku, aku ingin berjalan di daratan dengan bangga tanpa perlu menghindari orang lagi!"
"Kita pasti menemukannya," sahut Grey dengan mencium bibir Silver sejenak. "I love you!"
"I love you too, Grey! Tapi bagaimana dengan Daddyku? Pasti dia akan marah jika tahu kita menikah tanpa persetujuannya!" ucap Silver cemas.
"Kita buat cucu untuk Daddy mertua! Pasti dia akan merestui kita," goda Grey yang membuat Silver kembali merona.
"Jadi kau akan mencabuliku dengan sotong lautmu itu?"
Grey terkekeh mendengarnya. "Aku ingin menjelajahi hutan rimbamu, Silver! Apa kau siap?"
"Hutan rimbaku sudah aku pangkas, Grey! Sekarang jadi gundul!" ucap Silver dengan wajah merah padam.
"Aku penasaran! Apa aku boleh melihatnya?"
__ADS_1
Silver menggeleng kuat. "Jangan! Aku malu!"
Grey yang sudah tidak tahan itu membuka bathrobe yang dikenakan Silver dan melemparnya ke sembarang arah membuat tubuh polos Silver kini terpampang nyata. "Oh, kau begitu menggoda, Honey!"
Silver berusaha menutupi tubuhnya tapi Grey menahannya dan Grey mulai melucuti baju yang dikenakannya membuat Silver melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat.
"Grey, sotong lautmu semakin membesar membuatku takut!" ucap Silver saat Grey mengarahkan benda itu pada hutan rimbanya.
Grey yang masih amatir sebenarnya masih bingung apa yang harus dia lakukan terlebih dahulu, karena miliknya sudah menegang sedari tadi akhirnya dia ingin langsung memasukkan begitu saja tanpa pemanasan.
"Honey, kita belajar sama-sama ya! Aku tidak tahu cara mencabulimu! Jadi kita lakukan otodidak saja!" ucap Grey dengan polosnya.
"Aku harus bagaimana?" tanya Silver sama-sama polos tidak mengerti hal itu.
Saat Grey akan mulai memasukkan benda panjangnya tiba-tiba suara tembakan menggema diluar kamar yang ternyata ada yang menembaki pintu kamar mereka.
BRAK!
Suara pintu itu terbuka yang mana membuat Silver dan Grey menyembunyikan tubuh polos mereka ke dalam selimut.
"Abang!" pekik Silver ketakutan melihat kelima Abangnya datang dengan raut wajah yang beringas.
"Kau mau apakan adik kami, hah!" teriak Tira dengan mengarahkan senjatanya kearah Grey.
Dewa melepas coat yang dia pakai setelah itu mendekati adiknya dan menyuruh Silver memakainya. "Ayo kita kembali, kenapa kau pasrah saat ingin dicabuli, Silver!"
"Bang, aku bisa jelaskan! Kalian tenanglah dulu!" ucap Silver.
Tapi para Abangnya tidak ingin mendengarkan, mereka menangkap Grey dan membuka selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Lepaskan aku! Kita bicarakan baik-baik semuanya!" ronta Grey yang selimutnya sudah dibuka dengan badan yang dikunci oleh kelima pria gila.
Mata Pandawa membulat melihat senjata perang Grey yang ukurannya diatas rata-rata itu bahkan lebih besar dan panjang daripada punya mereka.
"Apa itu ukuran rudal manusia? Kau mau menyakiti adik kami ya!"
"Naku, buat alat agar rudal Grey mempunyai ukuran normal!"
"Apa yang mau kalian lakukan! Ukurannya sudah begini jangan diubah settingannya!" teriak Grey kemudian.
__ADS_1
๐น๐น๐น