
๐น๐น๐น
Bamberg, Jerman
Akhirnya pesawat yang ditumpangi oleh Silver dan Sean sudah mendarat. Silver sudah siap dengan kipas angin ditangannya dan sebuah payung untuk menuju ke rumahnya yang ada di Bamberg.
"Wah, ini baru pertama kalinya aku kesini!" ucap Sean kagum.
"Tempat yang cocok untuk bersembunyi kan!" sahut Silver.
"Sepertinya memang sulit untuk merubah rasa rendah dirimu itu!" gerutu Sean sambil mendorong dua koper sekaligus. Karena mereka memilih jalan kaki saat turun dari mobil yang membawa mereka dari Bandara sebelumnya.
Mereka berhenti di salah satu minimarket. "Beli mie instan dan cemilan yang banyak, Sean!" ucap Silver memberi perintah.
"Di rumahmu tidak ada makanan?" tanya Sean heran.
"Ada yang harus kau tahu mommy-ku suka membuat eksperimen dengan masakannya! Jadi, itu untuk jaga-jaga jika kau kelaparan!" jelas Silver.
"Benarkah? Oh iya, mommymu suka apa? aku mau merebut hati calon mama mertua!" ucap Sean percaya diri.
Silver tertawa mendengarnya. "Kau cukup membelikan mommy-ku coklat bahkan namaku diambil dari salah satu brand coklat!"
"Okay baby... Aku akan membeli semuanya!" ucap Sean antusias.
Sean masuk kedalam mini market itu membeli sesuai yang Silver sebutkan sebelumnya sampai 2 paperbag besar.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Silver. Sesampai disana Silver mengetuk pintu dan memanggil orangtuanya.
"Mom, Dad... I'm home!" teriak Silver.
Dari dalam Bianca yang tengah memasak mendengar suara Silver yang mana membuatnya berlari dan membuka pintu, sebelum itu tak lupa dia mengambil maskernya.
"Sweety!" pekik Bianca dengan memeluk putrinya. "Kenapa tidak memberitahu jika kembali?"
Lalu fokusnya teralihkan oleh sosok Sean. "Kenapa bukan Grey? kau punya gebetan baru?"
__ADS_1
"Sean akan membantu kita mencari Lotus laut itu, dia ahli astronomi dan dia temannya Grey!" jelas Silver.
Yang mana membuat Sean menggeleng. "Silver bukan begitu cara mengenalkanku!" Lalu dia berdehem. "Hai, mama mertua cantik! Perkenalkan namaku Sean, aku kaya tampan dan juga mapan tidak kalah dari Grey! Aku calon suami idaman untuk Silver kan? Dan yang paling penting aku tidak terganggu dengan aroma Silver."
Sean memberikan coklat yang dibelinya. "Buah tangan dari menantu!"
Bianca menerima itu dengan surai gembira. "Oh my God! Sebagai imbalan, aku akan memberimu hidangan spesial, ayo masuk kedalam!"
Dan Bianca menyiapkan makanan yang dia buat di meja makan dimana Sean dan Silver sudah duduk disana.
"Ini namanya sup karbonara! Aku memasukkan ikan yang dipancing daddy Silver lalu aku tambahan keju mozarella diatasnya!" jelas Bianca.
Sean melirik kearah Silver yang mengulum senyumnya. Menyadari itu, Silver berbisik di telinga Sean. "Ada satu hal lagi jika kau bilang tidak enak, mommy-ku akan menangis tujuh hari tujuh malam lamanya!"
"Silver, sepertinya kau lupa jika aku tidak bisa merasakan apapun!" sahut Sean bangga untuk pertama kalinya akhirnya penyakitnya berguna.
Sean langsung memakan masakan Bianca begitu saja hingga tandas membuat Bianca tercengang karena masakannya bisa diterima oleh manusia.
"Daebak! Kau memang menantu idaman!" pekik Bianca.
"Selanjutnya aku akan memasak hati hiu!"
๐น๐น๐น
Grey memeriksakan dirinya ke dokter karena merasa jika indera penciumannya bermasalah. Mungkin karena dia sudah mulai biasa dengan aroma Silver yang menurutnya harum jadi saat Silver tidak ada membuatnya mencium aroma bau disekitarnya.
"Sejauh ini tidak ada masalah," ucap Dokter kemudian.
"Tapi kenapa penciumanku begitu sensitif pada bau sekarang, Dok. Bahkan aku mencium aroma Dokter seperti aroma daging asap!" ucap Grey yang frustasi.
Dokter itu berdehem. "Lebih baik Tuan periksa dengan Psikiater karena arahnya ini lebih ke psikis!"
Disisi lain, Kate yang sudah berjanji akan menerima Jane seperti Siena saat ini tengah menemani calon menantunya itu memesan gaun pernikahan di butik langganannya.
"Kak Sultan! Mau punya dua menantu sekarang!" ucap pemilik butik.
"Apa aku kelihatan keriput, tidak kan? Aku merasa semakin hari semakin tua apalagi akan memiliki cucu!" gerutu Kate.
__ADS_1
"Wah, jadi menantu pertama kak Sultan sudah hamil?"
"Ya begitulah, bibit suamiku memang selalu topcare bereproduksi!"
Jane yang mendengar itu sontak mengusap perutnya yang masih rata dan berharap pernikahannya cepat terlaksana.
"Kau lapar, Jane?" tegur Kate.
Jane terkesiap. "I-iya Mom, bisakah kita pergi ke burger king setelah ini?"
"Of course!"
Seperti keinginan Jane, mereka akhirnya pergi ke burger king. Kate tampak terkejut melihat pesanan Jane yang begitu banyak.
"Kau yakin bisa menghabiskan semuanya?" tanya Kate keheranan seorang artis seperti Jane tidak menjaga pola makannya.
"Aku sangat lapar, Mom! Hari ini cheat day-ku!" sahut Jane memberi alasan.
Jane makan begitu lahap hingga akhirnya dia melihat pria botak disana yang membuatnya mual.
"Huek!" Jane sudah tidak tahan lagi akhirnya lari ke toilet meninggalkan Kate yang semakin bingung dengan sikap Jane.
"Kenapa instingku mengatakan jika Jane hamil," gumam Kate. "Tapi bukankah Grey masih perjaka ting ting?"
Untuk memastikan Kate menghubungi Grey dan panggilan ketiga baru Grey menerimanya.
"Hallo, Mom," jawab Grey.
"Grey, bagaimana bentuk alat reproduksi wanita? Apa kau sudah pernah melihatnya secara langsung?" tanya Kate to the point.
"Mom, kenapa bertanya begitu?" protes Grey.
"Jawab saja!"
"Pernah," jawab Grey singkat mengingat waktu itu melihat hutan rimba Silver.
"Oh! my God! Jadi aku akan punya dua cucu!" pekik Kate. "Aku harus membeli serum diamond agar tidak terlihat seperti nenek-nenek!"
__ADS_1
๐น๐น๐น