
๐น๐น๐น
"Orang gak akan selamanya seneng, ada disatu titik nanti dia akan sedih. Begitu juga sebaliknya, orang gak akan selamanya sedih. Mau sepatah hati atau sepahit-pahitnya hidup, suatu saat diujung jalan dia pasti akan menemukan kebahagiaan. Itulah hidup, berbalik dan berulang-ulang terus. Jadi, ketika kau sedang sedih sekarang, gak usah takut pasti suatu hari nanti akan ada kebahagiaan!" ucap Sean pada Silver dengan bijak.
Saat ini mereka berada di pantai dan berjalan berdua disana.
"Apa iya aku akan menemukan kebahagiaanku?" tanya Silver lirih.
"Tentu saja bisa, percayalah semua akan indah pada waktunya. Bukankah keluargamu sangat mencintaimu? itu lebih dari cukup Silver, keluargaku bahkan tidak peduli padaku mereka hanya ingin menjodohkanku sebagai kesepakatan bisnis!" keluh Sean menghentikan langkahnya dan duduk dihamparan pasir pantai.
Silver juga ikut duduk dan melihat perubahan wajah Sean yang sedih.
"Kau ikut bersamaku karena ingin menghindari perjodohan itu?" tanya Silver kemudian.
"Itu salah satunya tapi yang terpenting menemukan Lotus laut dan mendapatkan hatimu," jawab Sean dengan menatap Silver lalu dia memegang tangan Silver dan menaruhnya di dadanya.
"Cintailah orang yang mencintaimu, jangan kau cintai orang yang kau cintai. Karena orang yang mencintaimu, akan selalu membuatmu bahagia. Tapi orang kau yang kau cintai mungkin akan mengecewakanmu! Jadi bukalah hatimu untukku Silver," tambah Sean.
Yang mana membuat Silver menjadi salah tingkah disana apalagi saat Sean mendekatkan wajahnya padanya membuat Silver menahan dada Sean tapi pria itu tetap memajukan wajahnya.
"Ehem!"
Suara deheman menghentikan aksi Sean dan membuatnya menoleh kearah sumber suara.
Disana Arse sudah berdiri dengan tatapan tajamnya membuat Sean bergidik ngeri.
"Silver! Ayo pulang!" ucapnya. Lalu Arse menunjuk Sean. "Dan kau pria mesum jangan sampai cium-cium putriku sembarangan! Aku sudah tahu isi otakmu itu pasti membayangkan tubuh putriku, awas kau jika macam-macam, mentang-mentang tidak bisa merasakan aroma Silver!" pekiknya.
Yang mana membuat Sean membatin. "Bagaimana Kapten itu bisa tahu!"
__ADS_1
"Aku bisa mendengar suara hatimu itu! Aku ini sudah berpengalaman jadi tahu semuanya! Aku mengawasimu, anak muda!" ucap Arse lagi yang membuat Sean menelan salivanya kasar.
Silver yang melihat itu segera mendatangi sang Daddy karena pasti Sean belum terbiasa dengan sikap Arse yang suka berlebihan yang membuatnya tak enak hati.
"Dad, sudahlah! Ayo kita pulang, mommy masak apa ya untuk malam ini?" tanya Silver cemas yang selalu terpaksa memakan masakan Bianca yang eksperimental.
"Kau sudah beli mie instan yang banyak kan?" tanya Arse balik.
Silver mengangguk lalu mereka kembali kerumah mereka. Dan benar saja saat sampai dimeja makan sudah tersedia berbagai hidangan karena Sean bisa menghabiskan masakannya sebelumnya membuat Bianca semangat memasak berbagai macam menu.
"Kalian semua sudah pulang, ayo cepat makan," ucap Bianca yang melihat suaminya beserta dua anaknya dan juga Sean yang sudah masuk kedalam rumah.
Silver langsung berbisik pada Sean. "Makan jatah makananku ya!"
Naku yang mendengar itu juga melakukan hal sama karena setelah memakan masakan sang mommy pasti membuatnya mulas.
Arse juga tak mau kalah. "Aku bisa mempertimbangkanmu jadi calon menantuku!"
Tentu saja membuat Sean kegirangan disana, dia sudah bersiap memakan masakan Bianca yang beraneka ragam dengan segala keanehannya.
DUT! DUT! DUT!
Kentut Sean menguar diruangan itu membuat semuanya menutup hidung, baunya bahkan lebih menyengat daripada aroma Silver.
Sean hanya bisa nyengir kuda. "Sepertinya walaupun aku tidak bisa merasakan masakan ini, tubuhku menolak untuk menerimanya!"
Yang mana membuat Bianca langsung berkaca-kaca. "Jadi masakanku tidak enak? aku bahkan berjam-jam membuatnya!"
"Bukan begitu, Bee! Kami lebih suka mie instan buatanmu!" bujuk Arse pada istrinya.
__ADS_1
"Apa kalian tidak bosan memakan mie instan terus?"
"TIDAK!!!" jawab mereka kompak.
Bianca langsung berdiri dan berlari ke kamarnya sambil berteriak. "Itu membuktikan jika masakanku tidak enak! Huaaaa.... "
Melihat itu, Arse langsung mengejar istrinya meninggalkan tiga orang yang masih dimeja makan. Naku langsung memberikan sumpal telinga pada Silver yang duduk dengan kipas angin yang tidak berhenti berputar sedari tadi.
"Ini apa Bang?" tanya Silver bingung.
"Pakailah, anggap kita punya penyakit congek!" jawab Naku karena sudah tahu adegan apa yang akan dilakukan kedua orang tuanya di kamar yang tanpa peredam suara itu.
Didalam kamar Bianca menangis sambil tengkurap membuat Arse mendekat dan membujuk istrinya itu untuk berhenti menangis.
"Bee, jangan menangis lagi. Kita jalan-jalan beli tas ijo tai kuda yang kau mau itu ya!" bujuk Arse.
"Tidak mau! Kalian semua tidak mau memakan masakanku!" ucap Bianca yang masih tengkurap.
"Bee, kau itu terlalu bersemangat untuk melakukan eksperimen masakanmu!" Arse berkata dengan meraba tubuh Bianca. "Seharusnya kau itu bereksperimen dengan permainan kita sayang!"
Bianca yang mendengar itu langsung membalikkan badannya. "Tentu saja aku juga bereksperimen untuk hal itu!"
"Benarkah? Aku ingin melihatnya, Bee!" pancing Arse yang selalu menang banyak.
Bianca berdiri dan mendorong Arse agar duduk disofa lalu dia naik keperut suaminya dengan menanggalkan bajunya. Bianca mendekat ketelinga Arse dan berbisik. "Bersiaplah! Aku menyebutnya gaya kuda lumping dan aku yang akan bekerja!"
Yang mana membuat Arse tersenyum kemenangan. "Aku pasrah menerima kuda lumpingmu, Bee! Apa perlu mantra agar kau kesurupan dan menggila?"
๐น๐น๐น
__ADS_1