
Di atap gedung ARN, terlihat Joko yang sedang berdiri sendirian dan menatap luasnya Kota Jakarta dari atap gedung ARN. Sepertinya Joko sedang menunggu seseorang disana.
*BUKKK!!!
“Hoi!! Astaga. Sudah berapa lama kita tidak bertemu?”
Seorang pria berbadan gemuk memukul bahu Joko dan mengejutkannya dari belakang.
Dia adalah Irul, teman lama Joko yang juga bekerja di ARN sebagai divisi yang bertugas untuk menyimpan semua informasi.
“Astaga. Aku mengira jika kau sudah mati. Tak kusangka kita dapat bertemu kembali di tempat ini.”
“Hhhh. Bagaimana kabarmu?” sapa balik Joko pada teman lamanya itu.
“Baik. Aku cukup baik belakangan ini. Hahahaha. Oh, iya. Ini barang yang kau minta. Proyek yang pernah kau kerjakan dulu, saat kau melenyapkan kartel narkoba terbesar.”
Irul memberikan stopmap berisi banyak lembaran berkas kepada Joko,
“Baiklah. Terimakasih untuk ini,” ucap Joko.
“Apa kau butuh hal lain lagi?” tanya Irul.
__ADS_1
“Tidak. Aku akan menghubungimu lain kali, jika aku membutuhkanmu.”
“Tunggu dulu. Kau tau bukan, itu tidak gratis? Setidaknya kau harus mengirim ke rekeningku sebanyak 10 juta.”
“Kau tak perlu memperingatkanku lagi. Sebelum kemari, aku sudah mengirim 50 juta ke nomor rekeningmu.”
Joko pun sudah mengirimkan uang itu tanda terima kasihnya kepada Irul. Joko sudah mengerti bawah Irul merupakan orang yang harus meminta uang disetiap Joko meminta tolong padanya secara pribadi.
“Astaga. Inilah sebabnya aku sangat menyukaimu, Joko. Hahahaha.”
Irul pun tertawa kesenangan saat mendengar Joko sudah mengirim uang ke rekeningnya.
***
Di lantai apartemennya, Joko meletakkan semua lembaran berkas itu secara melingkar.
Joko kembali mengingat dan melihat kertas itu satu persatu, untuk mencari tahu teka-teki yang bisa ia gunakan untuk mengetahui dan kembali mengingat apa yang telah terjadi padanya tiga tahun lalu.
Mata Joko tertuju pada sebuah foto seorang pria. Dan pria itu ternyata adalah Hendro, tangan kanan bos kartel narkoba yang telah dimusnahkan olehnya di Beijing tiga tahun lalu.
Joko baru mengingat bahwa Hendro adalah tangan kanan Bos kartel yang masih selamat.
__ADS_1
Joko mengambil kertas berisi foto itu, lalu memandangnya sejenak.
***
Beberapa hari kemudian, Tri pun akhirnya berhasil menangkap Hendro yang sedang bersama para anggota gengnya, dengan bantuan beberapa agen dan polisi setempat yang berhasil mengepung dan membekuknya.
Tri menangkap Hendro saat sedang berada di dalam mobilnya bersama sopir yang mengendarai mobilnya.
Hendro dan seorang sopir itu dibawa ke kantor polisi pusat untuk ditahan dan diinterogasi sementara.
Tri yang berhasil menangkap Joko pun kembali ke kantor ARN dan segera melaporkannya ke Rina.
Setelah mendengar itu, Rina segera menyuruh Tri untuk mengajak Aji ke ruangannya, dan memanggil Joko untuk bergabung dengan mereka, karena Joko lah yang pernah berhubungan langsung dengan tersangka.
Akhirnya, Tri pergi ke kantor Joko dan memanggilnya. Saat mereka berdua bertemu, Tri terlihat sangat sombong karena ia telah berhasil menangkap Hendro.
“Ikut aku! Bu Rina ingin menemui kita,” ucap Tri.
“Satu lagi. Tolak saja. Apapun yang diperintahkan oleh Bu Rina kepadamu, ku harap kau menolaknya. Ini bukan sesuatu yang bisa kau tangani dalam kondisimu seperti ini. Ingat itu!”
Entah apa maksud Tri berbicara seperti itu pada Joko. Mungkin ia tak ingin Joko ikut campur dengan masalah Hendro.
__ADS_1