SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
071 - MISI MENANGKAP JOKO.


__ADS_3

Aji merasa kesal karena Joko mampu membuatnya terlihat seperti di permainkan di hadapan semua agen yang berada di ruangan itu.


“Baiklah. Kalian boleh bubar!”


Aji membubarkan semua agen, menyisakan Tri bersama beberapa ketua dari setiap divisi yang terpercaya, menetap di ruangan itu.


Mereka menutup pintu dan gorden jendela, menyusun rencana untuk esok hari.


Aji menggelar sebuah peta yang menunjukkan denah taman kota dekat stasiun bawah tanah.


Dengan sebuah spidol, Aji melingkari beberapa titik-titik tertentu di dalam denah itu.


“Di sini, di sini, dan di gedung seberang taman. Kita akan menempatkan beberapa sniper penembak jitu dari agensi kita, menempatkan pada delapan titik ini.”


“Kita juga mengirimkan beberapa satu orang agen lainnya yang menyamar untuk bala bantuan di sekitar taman, dan menyiapkan beberapa tim khusus di stasiun, berjaga-jaga jika target telah kabur, untuk memotong rute pelariannya.”


“Maaf, Pak. Bukankah itu terlalu beresiko? Kau akan menempatkan beberapa penembak jitu dengan snipernya di taman kota. Itu hal yang cukup gila bagiku. Akan ada banyak orang di tempat itu.”


Salah satu ketua dari tim penembak jitu tak setuju dengan rencana Aji.


“Aku setuju dengannya, Pak. Apa kita harus bertindak sejauh ini, hanya untuk menangkap satu orang saja?”


Salah satu ketua dari divisi pasukan khusus pun juga tak setuju dengan rencana Aji.


“Apa kau bilang? Haruskah kita bertindak sejauh ini? Apa kalian tak sadar? Apa kalian bodoh? Kalian tak tahu, siapa yang akan kalian hadapi?”


“Apa kalian sudah lupa, seperti apa Joko? Dia adalah monster. Aku yakin dia mampu membunuh semua orang di agensi ini, jika dia mau melakukannya. Apa bekerja di kantor membuat kalian lupa, mengenali siapa dia?”


Aji memarahi dan membentak, karena terlalu meremehkan Joko.


Berbeda dengan Tri yang hanya diam, karena Tri sangat paham, bahwa tak mudah untuk menangkap Joko, dengan semua keahlian yang dimilikinya.


“Rencanamu sangat bagus, Pak, tapi kita telah melupakan aspek paling penting. Kenapa kalian tak berpikir, kenapa Joko ingin bertemu dengan Siti?” sahut Tri yang tiba-tiba terpikirkan hal itu.”


“Kenapa dia mengambil resiko yang sangat besar hanya untuk bertemu dengan Siti? Aku yakin ada hal yang dia inginkan di balik itu semua,” lanjut Tri.


“Kau tak perlu cemas, Ketua Tri. Aku akan bertanya padanya, setelah berhasil menangkap,” ucap Aji, seakan ia yakin mampu menangkap Joko esok hari.


Tiga puluh menit berlalu, Aji telah memimpin dan menyusun sebuah rencana dengan para juniornya. Mereka semua membubarkan diri dari kantor dan kembali ke ruangannya masih-masing.


Di lorong gedung, terlihat Rina yang datang dan berpapasan dengan beberapa orang yang telah berkumpul dengan Aji, menyusun rencana untuk menangkap Joko.

__ADS_1


Mereka semua menunduk, memberi hormat pada Rina dan melanjutkan langkahnya. Setelah mereka pergi, Aji menyusul dari belakang dan menunduk kepada Rina dengan tatapan yang sedikit berbeda.


“Astaga, Direktur Aji,” ucap Rina menggeleng-gelengkan kepalanya karena melihat Aji yang sangat memaksakan dirinya untuk tetap kerja, walau dengan tangan dan bahu yang terluka.


“Aku baru mendengarnya, bahwa para atasan memberikan persetujuan untuk memancing dan menangkap Joko. Aku masih tidak yakin bahkan setelah memikirkan ini. Apakah kita akan merayakan nya atau berduka?”


Rina pun masih ragu dengan apa yang sedang direncanakan Aji untuk menangkap Joko.


“Bu Rina. Apapun yang akan kita lakukan, aku yakin itu bukan hal yang kau inginkan dan kau setujui,” ucap Aji.


“Hhhh. Kau tak boleh merasa terlalu percaya diri, Direktur Aji. Bukankah kau lebih mengenal Joko? Dia bahkan bisa membalikkan semua situasi dan keadaan, apapun yang sedang dihadapinya.”


“Dia tak mudah untuk ditangkap, walau kau mengerahkan semua agen di tempat itu. Belum ada satupun orang yang bisa menandingi keahliannya, dalam agensi kita.”


Rina terus menghina Aji alih-alih memberi saran dan nasihat padanya.


“Baik, Bu. Aku akan mendengarkan nasihatmu.”


Aji membungkuk, memberi hormat dan berlalu pergi dari hadapan Rina.


“Apa bahumu baik-baik saja?” tanya Rina setelah Aji mulai melangkah, dan membuatnya harus menghentikan langkahnya kembali.


“Tenang saja, Bu. Ini tidak akan mengganggu kerjaku,” jawan Aji.


Rina menoleh ke belakang, lalu berjalan pergi meninggalkan Aji.


Begitupun dengan Aji yang bergegas pergi dari tempat itu, kembali ke ruangannya.


Di depan ruangan Aji, terlihat Tini yang sudah menunggunya, karena Aji memanggilnya langsung sejak pagi.


“Kau datang, Tini?” sapa Aji yang melihat Tini berdiri di depan ruangannya.


“Ya, Pak. Kenapa kau memanggilku kemari?” tanya Tini.


“Masuklah! Aku ingin berbicara denganmu sebentar saja.”


“Baik, Pak.”


Aji membuka pintu ruangan kerjanya, menyuruh Tini masuk ke dalam.


Aji duduk di kursi mejanya, dengan Tini yang berdiri menghadapnya di ruangan itu.

__ADS_1


“Apa kau partner Joko?”


“Ya, Pak. Benar.”


“Sudah berapa lama kau bekerja dengannya?”


Aji terus bertanya  pada Tini seakan mengintrogasinya di ruangan itu.


“Mungkin, sekitar dua atau tiga bulan, Pak,” jawab Tini.


“Karena kau bekerja dengannya, aku berharap kau mau membantu kami di ruang kendali esok hari, saat penangkapannya berlangsung. Kau akan berada di ruang kendali bersama para agen lainnya yang berada disana.”


“Apa? Aku?” tanya Tini yang terkejut.


“Ya. Kenapa tidak? Apa ada masalah?”


“Tidak, Pak. Baiklah. Aku akan pergi ke ruang kendali , esok hari.”


Tini hanya menuruti permintaan Aji, lalu pergi dari ruangannya.


***


Pukul 17.00 sore keesokan harinya di taman kota, dekat stasiun bawah tanah. Dari atap gedung yang paling tinggi, dia mengawasi lokasi sekitar taman dalam radius sejauh 200m.


Joko sudah berada di atas gedung bangunan tinggi itu dari jauh satu jam sebelumnya. Menggunakan teropong, Joko dapat melihat semua posisi para sniper dan beberapa agen lainnya.


Joko mengetahui sekitar 8 sniper, penembak jitu, dengan posisinya masing-masing, dan sekitar 3 agen yang menjaga jauh dari lokasi untuk memberikan informasi pada pusat ruang kendali.


Begitupun dengan posisi Siti yang sedang duduk di kursi taman, Joko dapat melihat itu semua dari tempatnya


Sebelumnya, Joko sudah menduah, jika Aji akan membawa beberapa agen, walau ia telah melarangnya sebelumnya.


Setelah mengetahui semua letak posisi para agen, Joko bergegas menuju taman kota, untuk menghabisi beberapa agen yang menyamar dan memberi informasi langsung ke pusat ruang kendali.


Joko mengenakan jaket jumper berwarna hitam, dengan penutup kepala dan masker yang menutupi wajahnya.


Salah satu agen yang berada di dekatnya, menjadi sasaran Joko. Datang dari belakang, lalu memukul leher salah satu agen yang berdiri di depannya dengan pukulan yang sangat keras.


Joko menyerangnya dengan halus, tanpa membuat keributan di taman itu. Satu agen pun tumbang.


Joko mengambil walkie talkienya, dan dapat mendengar percakapan antara  Aji dan para agen lainnya yang masih tersisa.

__ADS_1


Posisi dan keberadaan Joko pun belum diketahui sama sekali dengan para agen lapangan ataupun agen dari ruang kendali, karena Joko memakai penutup kepala dan menggunakan masker, berjalan diantara orang-orang.


__ADS_2