SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
063 - JOKO SEBAGAI TERSANGKA.


__ADS_3

Tepat jam 3 sore, Joko akhirnya dapat membawa Yuli ke rumah sakit yang cukup bagus, untuk mengoperasi dan mengambil peluru yang menembus perut Yuli.


Joko menggendong Yuli sendirian dan mengantarkannya hingga depan pintu ruang operasi.


Petugas medis dan dokter menghentikan Joko, agar ia tak masuk dan menunggunya di luar, agar tak mengganggu proses berjalannya operasi.


Di luar ruangan, Joko duduk dan terdiam dengan tangan berlumuran darah, karena menggendong Yuli.


Joko masih tak bisa berpikir, kenapa ada orang yang senekat itu, menembak seseorang di tempat umum.


Beberapa bagian tubuh Joko bergetar, termasuk kedua tangannya yang bergetar cukup cepat.


Beberapa saat kemudian, dua petugas dari pihak kantor polisi yang berada di tempat kejadian, berdatangan mendatangi Joko yang menunggu proses operasi Yuli di depan ruang operasi.


“Dengan, Pak Joko?” salah satu petugas bertanya pada Joko yang masih menunduk.


Joko mengangkat kepalanya, hanya menganggukkan kepalanya, menanggapi pertanyaan petugas dari kepolisian.


“Kau ditangkap atas tuduhan pembunuhan dan juga kau sebagai salah satu saksi yang berada di tempat itu. Kau harus ikut kami ke kantor, Pak.”


Surat perintah penangkapan ditunjukkan kepada Joko, olah salah satu petugas yang mendatanginya.


Hal itu sangatlah mengganjal bagi Joko. Baru beberapa saat setelah kejadian, pihak polisi mendapatkan surat perintah penangkapan.


Joko sangat yakin bahwa, siapapun orang yang merencanakan ini telah mengendalikan polisi. Karena masih kesal dan tak mau memperpanjang masalah, Joko akhirnya berdiri dan menuruti apa perintah petugas kepolisian.


Kedua petugas itu sepertinya belum mengetahui, siapa Joko sebenarnya. Kedua petugas polisi itu hanya orang bawahan yang mendapatkan perintah dari atasannya.


***


Beberapa saat kemudian, Joko telah berada di kantor polisi, di dalam ruangan interogasi tepatnya.


Joko duduk sendirian dan menunggu seorang detektif yang akan menginterogasinya. Joko terlihat tetap tenang dan santai, karena ia memang tak melakukan kesalahan apapun saat itu.

__ADS_1


15 menit berlalu Joko menunggu, 2 orang petugas yang mendatanginya di rumah sakit, masuk ke dalam ruangan interogasi dengan satu orang yang sepertinya adalah ketua detektif dari kepolisian itu.


Ketua detektif itu membawa sebuah laptop dan sebuah berkas, lalu duduk di hadapan Joko untuk menginterogasinya, lain dengan kedua petugas yang menjemput Joko di rumah sakit.


Mereka berdua berdiri di belakang pintu, mengawasi jalannya interogasi.


“Apakah seorang saksi harus diinterogasi di ruangan seperti ini?” tanya Joko saat Kepala Detektif itu mulai duduk di depannya.


“Maafkan aku, Tuna, tapi hanya ini, tempat yang tersedia.”


Detektif itu menjawab dengan santai, tapi sebenarnya ia merasa sedikit takut dengan Joko.


Sepertinya, Kepala Detektif yang menginterogasi Joko mengetahui, siapa sebenarnya Joko. Dia juga pernah mendengar Joko dan kebrutalannya saat melibas para kriminal.


Akan tetapi, ia berpura-pura santai, agar tak terlihat ketakutan saat menginterogasi Joko sebagai tersangka.


“Baiklah. Aku akan langsung memulainya, jadi, korban penembakan itu adalah Nona Yuli?”


Joko menghela nafas panjang dan menjawab singkat,


“Lantas, apa hubunganmu dengannya?”


Joko hanya diam dan menatap Kepala Detektif dengan tajam.


“Pak, Joko! Apa kau mendengarkanku?”


“Dia kolegaku.”


Sang Detektif menegakkan badannya, meletakkan kertas dan pena diatas meja.


“Menurut kesaksianmu, kau berdiri di penyeberangan saat penembakan itu terjadi, dan seorang tiba-tiba muncul melepaskan tembakan, lalu kabur begitu saja, begitukah?”


“Ya,” jawab Joko.

__ADS_1


“Pria dengan hoodie berwarna hitam, memakai topi bisbol, dengan tinggi sekitar 170 cm. Apa kau juga tahu pria, berapakah usia pria itu?”


“Apa maksudmu? Apa kau tuli? Aku sudah berkata padamu, tiap detail tanpa meninggalkan apa pun. Mungkin kau harus memeriksa kamera cctv pengawas lagi. Aku yakin ada kamera cctv di tempat itu.”


Sang Detektif membuka laptopnya dan,


“Itulah sebabnya, kami memeriksa rekaman kamera yang berada di TKP.”


Sang Detektif memutar laptopnya, memperlihatkan rekaman cctv yang memperlihatkan insiden penembakan Yuli.


“Kau yakin ingin melihatnya?” tanya Sang Detektif.


Karena Joko hanya diam, Sang Detektif memutar video rekaman itu, agar Joko melihatnya.


Betapa terkejutnya Joko saat melihat video rekaman ulang itu. Video itu menampilkan tayangan dengan tempat dan suasa yang sama persis, seperti yang dialami Joko.


Akan tetapi, video rekaman itu menunjukkan Joko mengambil pistolnya sendiri, lalu menembak Yuli dari jarak 5 langkah kaki.


Rekaman ulang cctv membuat Joko semakin bingung dan bertanya-tanya, kenapa dan siapa yang telah merekayasa rekaman itu.


Sepertinya, orang yang merekayasa cctv mengetahui bahwa Joko mempunyai kondisi mental yang cukup buruk, ditambah dengan hilangnya sebagian ingatannya, yang selalu membuatnya bertindak brutal.


Orang memanfaatkan kondisi Joko yang seperti itu, agar Joko ragu, apakah ia benar-benar menembak Yuli atau tidak.


Dan benar saja, Joko kembali berusaha mengingat apa yang terjadi dan ragu, apakah ia benar menembak Yuli saat itu atau tidak.


Joko kembali memegangi kepalanya yang terasa sakit, karena terus memikirkan kejadian itu.


Karena Joko tak mempunyai alibi, ditambah bukti rekaman cctv yang ada, dengan terpaksa, Joko harus mendekap di dalam sel untuk sementara waktu.


Sangat mudah bagi Joko untuk kabur dan menghabisi semua polisi yang ada, tapi Joko tak ingin menambah masalah untuknya lagi dan memilih untuk mengalah dan menuruti aturan.


Di dalam sel, Joko masih mengenakan kemejanya berwarna putih, dengan bercak darah Yuli, yang membekas di kemeja putihnya.

__ADS_1


Joko termenung, duduk di lantai dan terus memikirkan kembali, apa yang sebenarnya terjadi dengan rekaman cctv itu. Apakah ia benar-benar menembak Yuli, atau seorang telah merekayasa rekaman itu.


Hingga malam tiba, Joko masih tak bisa tidur dan terus memikirkan kejadian di sore hari tadi.


__ADS_2