
Di dalam kantornya, Tini yang sudah berada di dalam kantornya, setelah memeriksa apartemen Imron, atas perintah Joko.
Begitupun dengan Joko yang baru masuk ke dalam kantornya.
“Akhirnya kau datang, Pak,” ucap Tini.
“Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Joko.
“Aku sudah melakukan apa yang kau perintah. Aku mencari setiap detail ruangan dengan teliti, tapi tak menemukan apapun.”
Joko mengeluarkan alat kuno yang berhasil didapatkannya, lalu memberikannya kepada Tini.
“Apa ini, Pak?”
“Itu semacam ponsel kuno yang mereka gunakan agar saling terhubung satu sama lain. Aku mendapatkannya dari Zaki. Sesuai dugaanku, dia bekerja untuk warrior.”
“Astaga. Aku pernah mendengar ini. Bukankah ini hanya dapat digunakan dalam jarak dekat? Kurasa alat ini tak bisa digunakan dalam jarak 100 Meter lebih.”
“Ya. Kau benar. Mereka menggunakan sistem aplikasi tertentu di dalam alat itu. Mereka tidak tahu identitas mereka satu sama lain. Seorang akan mendekat, saat mereka membutuhkan bantuan dan meninggalkan pesan.”
Tini mengangguk paham mendengar penjelasan Joko.
“Semua anggota Warrior benar-benar saling terpencar di setiap penjuru kota. Aku yakin bahwa Imron juga memilikinya untuk menghubungi mereka. Dimana kira-kira dia menyimpan alat itu?”
Joko berjalan mondar-mandir memikirkan hal itu.
“Apa kau menemukan hal lain?” tanya Joko.
“Ah. Benar juga. Aku sudah melihat beberapa berkas lain setelah mendapat izin. Berkas itu menunjukan, Kepala Yuli pernah menyelamatkan nyawa Imron.”
“Empat tahun lalu, Imron melakukan penyamaran dalam sebuah geng yang berada di Singapore.”
“Ada saat dimana identitas aslinya sudah diketahui. Saat itu, ARN juga mengawasi sendiri geng itu, jadi, itu bisa berubah menjadi skandal diplomatik serius.”
“Para atasan pun akhirnya memutuskan untuk melepaskan Imron,” jelas Tini.
“Atasan?” Apa maksudmu adalah Wakil Komisaris Rina?” sahut Joko.
“Ya. Sepertinya begitu. Akan tetapi, Kepala Yuli tidak mematuhi perintahnya. Kepala Yuli bukanlah seorang pengkhianat seperti yang kita duga sebelumnya.”
“Aku yakin seseorang telah menjadikannya korban tambahan.” Tini mengeluarkan sebuah foto, menunjukkan pada Joko.
“Ini. Aku menemukan barang ini di rumah Imron. Aku juga pernah melihat barang yang sama, berada di ruangan kepala Yuli.”
“Aku tak yakin itu hanyalah sebuah kebetulan. Kurasa mereka pernah menjalin sebuah hubungan.”
Joko melihat foto itu, dan benar saja, Joko juga pernah menemukan barang itu di apartemen Yuli, saat ia menggeledah rumahnya.
Karena malam mulai larut, Joko akhirnya menyudahi semuanya menyuruh Tini untuk segera pulang dan beristirahat.
__ADS_1
“Apalagi yang akan kita lakukan sekarang, Pak?”
“Mungkin cukup untuk hari ini. Kau boleh pulang dan beristirahat.”
Joko mengambil jasnya, berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan pergi meninggalkan Tini.
“Baik, Pak. Selamat malam.”
Tini pun juga berdiri, lalu membungkuk memberi salam pada Joko.
Sesampainya Tini di parkiran mobil, dan akan masuk ke dalam mobilnya,
“Tini!”
Aji memanggil Tini dari belakang da berjalan mendekat.
“Direktur Aji? Ada apa?”” tanya Tini.
Sejenak Aji menatap Tini dan bertanya tentang keadaan Joko.
“Bagaimana keadaan Joko?”
Tini diam sejenak tak menjawab apapun.
“Ada apa? Apa ada masalh?” tanya Aji.
“Aku ingin berhenti disini, Pak. Aku tak ingin menyelidikinya lagi. Sepertinya aku sudah membuatnya kecewa,” jawah Tini.
Tini menunduk dan menggeleng, “Aku akan mencari tahu sendiri, informasi tentang ayahku.”
“Baiklah. Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran seperti ini?”
“Kali terakhir, aku melihatmu dan Kepala Yuli bertengkar hebat di tempat ini. Aku melihatnya saat aku akan pulang, sekitar dua bulan yang lalu.”
“Entah apa yang terjadi di antara kalian berdua, tapi, aku akan mengambil jalan yang berbeda dari Kepala Yuli. Aku yakin dia juga menginginkan itu dariku. Maafkan aku, Pak Direktur. Aku permisi dulu.”
Tini berjalan masuk ke dalam mobilnya, lalu pergi meninggalkan Aji.
***
Beralih pada Joko yang sedang dalam perjalan pulang. Joko pulang dari kantor hanya berjalan kaki, karena apartemen yang ia tinggali tak jauh dari tempat kerjanya.
Tiba-tiba, Alat ponsel kuno yang sedang dibawa Joko berbunyi. Joko menghentikan langkahnya dan melihat pada layar kecil yang bertuliskan ‘Pengkhianat Itu yang telah menjadikanmu seperti ini’.
Seketika Joko pun langsung melihat sekitarnya. Dia sangat yakin bahwa ada salah satu orang bawahan Warrior yang berada di dekatnya saat itu.
Joko menyebrang ke jalan raya dan melihat semua pengendara mobil dari balik jendela, yang membuat semua orang melihat Joko dengan tatapan aneh.
Ia juga berjalan mondar-mandir menemui semua orang hanya untuk memastikan, setiap wajah yang mencurigakan.
__ADS_1
Beberapa saat setelah itu, akhirnya Joko harus kembali karena tak mendapatkan apapun.
Di apartemennya, terlihat Joko yang sudah mandi dan mengganti pakaiannya. Joko kembali berdiri dan menatap papan yang berisi semua foto dan coretannya, untuk berusaha mengembalikan ingatannya.
Ia mulai berpikir, mungkin ada petunjuk di setiap apa yang sedang ia lakukan selama ini.
Mulai dari flash disk berisi rekamannya sendiri, dan seorang yang telah meninggalkan informasi di atas laptop Tini, lalu pesan yang telah ia dapat dari salah satu alat yang sedang ia bawa.
Joko menyimpulkan bahwa seseorang telah memberinya petunjuk, tapi ia belum mengerti, apa itu. Joko juga berpikir, apakah orang yang selalu memberinya petunjuk terhubung dengan Warrior atau masalah lain.
*KRIIING!!!
Joko langsung mengangkat panggilan itu, saat melihat Tini yang menelponnya.
“Pak. Aku mendapatkan sesuatu. Aku akan mengirimkannya padamu setelah ini.”
“Aku mendapatkannya dari temanku yang bekerja di Badan Forensik Nasional. Dia mengirimiku, bahwa ada yang menjanggal dari tubuh Imron.”
“Baiklah. Kirimkan saja padaku.”
***
Keesokan harinya, Joko dan Tini menuju ke Badan Forensik Nasional untuk memeriksa jasad Imron yang masih diidentifikasi lebih lanjut.
Dengan didampingi satu orang petugas, mereka melihat jasad Imron yang berbaring tengkurap di meja.
Terlihat tato naga hitam yang sangat besar, hingga memenuhi bagian punggung belakangnya.
Saat lase menyorot kepada tato itu, terlihat sebuah sinar berwarna biru yang muncul bercahaya.
Tini memotret itu dan mengambil beberapa sampelnya untuk diperiksa lebih dalam.
Joko dan Tini pun akhirnya kembali ke kantornya untuk menyelidiki hal itu.
Di kantornya, Tini membuka laptop dan mencari tahu apa dibalik itu semua.
“Sepertinya aku berhasil menemukan nya, Pak,” ucap Tini sambil menekan tombol di laptopnya.
Di laptop Tini, terlihat sebuah sinar yang berasal dari tato Imron, menunjukkan sebuah titik-titik yang membentuk persegi.
“Jika aku menghubungkan titik-titik ini pada jarak yang sama, ini akan berubah menjadi bentuk balok, seperti di layar ini. Mungkin ini adalah teknologi yang sama, seperti yang digunakan kode QR,” jelas Tini.
Tini kembali menekan tombol di laptopnya mencari lebih lanjut.
Layar laptop Tini menampilkan sebuah huruf simbol seperti sebuah kode.
“Empat huruf pertama dan angka adalah kode klasifikasi yang diberikan untuk penyakit langka, lalu sisanya adalah kode dari sebuah gen yang berdampak pada penyakit.”
Mata Joko menatap serius pada layar laptop, mendengar penjelasan Tini.
__ADS_1
“Dari yang ku temukan, beberapa ilmuwan dokter menyebutnya, Sindrom Acloid. Itu adalah penyakit langka, seperti kulit dan tulang rawanmu yang mengeras.”