
“Hei, kau. Sedang apa kau disana? Apa kau seorang polisi?”
Salah satu orang itu menyapa Joko dengan petantang-petenteng.
Saat tiga orang itu berjalan mendekati Joko, barulah Budi yang baru keluar dari mobil.
“Hei, Budi!” sapa Joko.
Budi yang melihat Joko berada disana cukup terkejut melihat Joko yang dapat menemukan markas kecilnya.
“Apa yang kau katakan? Apa kau sedang mabuk di sini? Enyahlah dari sini!”
Ketiga orang itu pun langsung menyerang Joko secara bersamaan, terkecuali Budi yang hanya melihatnya dan berdiri di sebelah mobil.
Joko hanya perlu beberapa waktu untuk melumpuhkan ketiga orang itu tanpa menggunakan senjata apapun. Joko hanya perlu menggunakan tinjunya untuk melumpuhkan ketiga orang itu.
Budi yang melihat Joko dapat melumpuhkan ketiga orang dengan mudah pun langsung berlari untuk menghindari Joko.
Budi terus berlari untuk menghindari Joko, sepertinya ia benar-benar takut kepada Joko, jika Joko akan menghajarnya.
Saat Budi keluar dari gudang, Tini berhasil menjegal Budi dengan kakinya dari balik gudang, yang membuat Budi tersungkur dan terjatuh ke tanah.
__ADS_1
Saat Budi akan bangun dan berlari, Joko lebih dulu menarik jaket Budi, lalu membantingnya kembali ke tanah.
“ARGHHH!!!”
Budi mengerang kesakitan karena punggungnya yang terbanting cukup keras.
“Astaga,” ucap Tini yang terkejut melihat aksi Joko membanting Budi dengan keras.
“Bangunlah! Aku hanya ingin berbicara padamu.”
Joko mengulurkan tangannya dan membantu Budi berdiri.
“Pergilah dan urus mereka semua!”
Tini pun pergi dan mengurus ketiga orang yang telah dilumpuhkan Joko.
Joko dan Budi pun mengobrol di belakang gedung agar tak didengar oleh siapapun.
“Baiklah. Kau hanya perlu menjawabku, Budi.”
“Kenapa kau masuk ke dalam geng itu lagi? Bukankah dulu kau berjanji padaku untuk hidup tenang, saat kau sudah kembali ke Indonesia. Lantas, mengapa kau juga berada di kantor polisi pada saat itu?”
__ADS_1
“Aku sendiri yang memberimu informasi, Pak. Apa kau tak mengingatnya?” ucap Budi.
“Informasi apa itu?” tanya Joko.
“Informasi tentang Sulistyo. Aku sudah memberitahumu bahwa Sulistyo akan pergi ke Indonesia saat itu. Bukankah sudah kubilang padamu? Kau sungguh tak mengingatnya sama sekali?”
Budi yang tak tahu bahwa ingatan Joko hilang sebagian pun juga terkejut saat tau Joko benar-benar lupa.
Joko terus berusaha untuk mengingat itu, tapi ia tak bisa mengingat apapun.
“Baiklah. Dengarkan aku! Kau harus menceritakan semuanya kembali apa yang terjadi pada hari itu.”
“Baiklah. Aku pernah bilang kepadamu saat itu, bahwa ada pengkhianat di pihakmu. Semua informasimu bocor termasuk tempat persembunyianmu, saat kau bertugas di China.”
“Aku juga menyuruhmu untuk jangan percaya pada siapapun termasuk bawahanmu. Coba pikirkanlah, siapa lagi yang tahu keberadaanmu dan tempat persembunyianmu selain anak buahmu dan tim mu.”
“Aku yakin salah satu dari mereka telah membocorkan informasi itu. Aku dulu juga memberitahumu bahwa Sulistyo akan pergi ke Indonesia dan menyiapkan sesuatu yang besar.”
“Dan aku berkata padamu bahwa kau harus segera kembali dan bersiap, tanpa memberitahu siapapun, termasuk semua kolegamu, karena kita belum tau pasti, siapa pengkhianat itu.”
“Itulah yang kukatakan terakhir kali, setelah itu aku tak bisa mendapat kabar apapun darimu,” jelas Budi.
__ADS_1
Joko yang terus menyimak pun mulai memahami apa yang terjadi, tapi belum pasti karena ingatannya yang benar-benar hilang.