SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
060 - IMRON MENCULIK TINI.


__ADS_3

“Begitupun dengan dugaanmu yang sangat tepat, ada keterkaitan antara Imron dan Kepala Yuli.”


“Mereka berdua bekerja di proyek yang sama tujuh tahun lalu. Selama proyek berlangsung, Kepala Yuli lah yang menulis laporan itu.”


“Di dalam laporan itu juga tertulis kondisi psikologisnya. Halo, Pak? Apa kau mendengarkanku?” tanya Yuli karena Joko terus mendengarkan dan belum merespon apapun.


“Ya. Aku mendengarkanmu. Teruskan saja.”


“Laporan itu mengatakan bahwa Imron sudah lama menyamar, jadi, dia mengalami masalah di psikologisnya, seperti kehilangan identitas diri aslinya dan kebingungan dengan itu.”


“Akhirnya, dia meminta proyek itu untuk segera diselesaikan secepat mungkin. Sekarang, aku sangat yakin ada sesuatu diantara mereka.”


“Baiklah. Dimana kau saat ini?” tanya Joko.


“Aku sudah berada di mobil dan akan berangkat ke kantor.”


“Baiklah. Kau tak perlu datang ke kantor pagi ini. Biar aku yang mengurus izinmu. Apa kau ingat, kafe di hotel bintang 5 yang pernah kita datangi tempo hari?”


“Ya. Aku mengingatnya, Pak.”


“Baiklah. Mari bertemu disana. Aku akan menunggumu di sana. Sepertinya aku akan sampai lebih dahulu.”


Menutup telepon, lalu Joko pun bergegas pergi ke kafe yang berada di hotel bintang lima, yang tak jauh dari apartemen, tempat ia tinggal.


Sikat sepuluh menit, Joko sudah berada di kafe itu. Memarkirkan mobilnya di tempat parkiran, lalu pergi menuju kafe yang berada di lantai 2 gedung hotel.


Kafe itu tak ramai dan tak sepi pengunjung pula. Bunga-bunga tertata rapi di dalam pot mewah, begitu pula dengan pelayan kafe yang menyambut para pelanggan dengan senyuman ramah.


Joko memesan satu gelas americano panas, lalu duduk di kursi pojok dekat jendela, sementara menunggu kedatangan Tini.


Sesekali menyeruput kopi, mata Joko terus mengawasi semua orang yang berada di sekitarnya.


Tiga orang dengan gerak-gerik mencurigakan terlihat oleh mata Joko. Mereka bertiga duduk dengan menyebar dengan setiap kursi dan tempat yang berbeda, yang masih sama di dalam kafe itu.


Hanya melihatnya dengan sekilas, Joko langsung mengetahui bahwa tiga orang pria yang berada di kafe itu sedang mengawasinya, karena Joko lebih tau dan ahli dalam penyamaran.


Dan benar saja, sesuatu yang buruk terjadi saat Joko mendapatkan panggilan masuk dari Tini yang meminta tolong padanya.

__ADS_1


“Halo. Dimana kau?” Joko bertanya setelah mengangkat panggilan dari Tini.


“Tolong aku, Pak! Aku berada di tempat parkir basement gedung hotel. Cepatlah, Pak!!!!”


*TUUT!!!


“Halo! Hei!!”


Saat panggilan terputus, Joko bergegas meninggalkan kopi yang belum sempat habiskan, menuju ke tempat parkir mobil di basement dengan tergesa-gesa.


Joko berlari melewati lorong dan lobi hotel, menuruti anak tangga satu persatu dan hampir membuat beberapa pelanggan hotel tertabrak karenanya.


Setibanya di basement, mobil porsche berwarna hitam melintas di depan Joko, berlalu ke jalan keluar, yang membuat Joko hampir tertabrak karena itu.


Saat ia melihat sekeliling parkiran itu, Joko melihat mobil Tini dengan pintu yang sudah terbuka, serta sepatu dan tas Tini yang berada di lantai basement.


Ia mengambil sepatu dan tas Tini, dan memasukkannya kembali ke dalam mobil. Begi pula dengan Tini yang sudah tak berada di dalam mobilnya.


Karena kunci mobil Tini yang masih tertancap, tanpa berpikir panjang, Joko menyalakan mobil Tini dan mengejar mobil porsche berwarna hitam yang hampir menabraknya.


Di jalan raya yang cukup padat dan dipenuhi oleh kendaraan, Joko menginjak pedal gas mobil sedalam-dalamnya, dengan mata yang fokus menatap ke depan, mencari mobil porsche berwarna hitam.


Mobil porsche dengan warna hitam pun kini terlihat di depan Joko dengan jarak yang tak jauh, karena Joko menyetir mobil dengan kecepatan tinggi dengan konsisten, tanpa mengurangi kecepatan sekalipun.


*KRIING!!!


Panggilan dengan kontak Yuli kembali menelpon Joko saat ia sedang fokus. Joko mengangkat panggilan itu dan menggunakan pengeras suara, meletakkan ponselnya di Jok mobil, dengan mata yang sudah kembali menatap ke depan.


“Sudah lama tak bertemu, Saudaraku.”


Suara seorang pria yang terdengar cukup berat menyapa Joko menggunakan ponsel Tini.


“Siapa kau?” tanya Joko.


“Hhhh. Siapa diriku? Itu adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk ku jawab. Aku sudah tidak tahu lagi siapa diriku.”


Seketika Joko dapat menyimpulkan bahwa dialah Imron, salah satu agen hitam sama sepertinya yang telah kehilangan jati dirinya sendiri.

__ADS_1


“Kau pasti Imron.”


“Hahahaha. Astaga. Rasanya sangat menyenangkan saat mendengar kau menyebut nama itu lagi. Apa kau pernah memikirkan keberadaanmu.”


Tanpa mematikan sambungan telepon, Joko menekan tombol speed racing, yang membuat mobil Tini mengeluarkan tenaga yang lebih besar dan lebih kencang dari sebelumnya.


Hingga sampai dimana mobil Tini yang dikendarai Joko berada tepat di sebelah mobil porsche hitam.


Mobil porsche hitam tanpa plat nomor itu menggunakan kaca jendela yang tak tampak dari luar, membuat Joko tak bisa melihat siapa yang berada di dalamnya.


Hal itu juga yang membuat Joko sungkan untuk mengeluarkan pistol dan menembak kaca mobil itu. Disisi lain dengan kondisi jalanan yang cukup padat.


Karena tak mempunyai pilihan lain, Joko membanting stir mobilnya, menabrakkan sisi bagian depan mobil Tini ke mobil porsche di sebelahnya.


Beberapa kali Joko mencoba menabrak, dan menghindar kembali, setiap ada mobil yang berada di depan mobilnya.


“Saat itu kau seperti pedang. Kau sangat tangguh dan tajam hingga sentuhan lembut akan berakhir dengan luka.”


Imron terus berbicara melalui telepon, sementara Joko masih menabrak mobil porsche hitam, lalu menghindarinya kembali.


“Tapi sekarang, kau terlalu gegabah dan tidak sabar. Apa kau memang benar-benar peduli pada rekanmu yang berada di dalam mobil ini? Hahaha. Aku tak percaya kau sungguh peduli padanya.”


“Aku tahu kau hanya ingin mendapatkan apa yang sedang kau butuhkan, tanpa memperdulikan rekanmu sedikitpun, sama seperti yang kau lakukan pada kedua kolegamu tiga tahun lalu.”


“DIAM KAU BANGSAT!!!!” Joko marah dan berteriak karena emosinya terpancing dengan perkataan Imron.


*BRAKK!!!!


Kali ini Joko menabrak sisi depan bagian mobil dan menahannya. Suara gesekan besi dan baja, serta suara rem pun berdenging di jalan itu.


Kedua mobil itu saling berdempetan dan bergesekan sepanjang jalan. Karena Joko lebih ahli dalam mengendalikan mobilnya, mobil Porsche itu akhirnya terjepit dan keluar dari jalur.


Mobil porsche hitam pun kini berada di jalur yang berlawanan arah, dengan Joko yang masih mengikutinya di arah jalan yang berbeda.


Karena tak ingin menembak dan menghindari korban dari kalangan publik, Joko yang sudah emosi dan gegabah pun menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan.


Dua mobil itu kembali saling mengejar dan menghindar satu sama lain, di jalan yang berlawanan.

__ADS_1


Suara klakson mobil dan teriakan dari seorang sopir, terdengar dari sepanjang jalan, akibat ulah Joko dan mobil porsche hitam.


__ADS_2