SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
042 - TERMINAL KONTAINER.


__ADS_3

“Hmmm. Begitukah? Apa boleh aku memberimu nasihat sebagai orang yang pernah bekerja dengannya?”


“Ya. Tentu saja, Bu. Silahkan,” ucap Tini.


“Aku menyarankanmu agar kau tak terlalu dekat dengannya,” ucap Yuli yang terlihat sangat benci pada Joko akibat kematian tunangannya.


Yuli mengambil sebuah kertas di meja, lalu menggenggam kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah.


“Baginya, rekan kerja sepertimu hanyalah sebuah alat yang bisa digunakan dan dibuang setelah itu.”


“Astaga. Aku tak mengerti maksudmu, Bu.”


Tini pun hanya bisa tersenyum kecil karena mendengar perkataan Yuli tentang Joko.


“Baiklah. Aku akan pergi dahulu. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu.”


“Baik, Bu.”


Yuli pun pergi dari ruangan itu dan meninggalkan Tini yang masih berdiri dan terus memikirkan ucapan Yuli.


***


Malam harinya di apartemen Joko, ia kembali melihat sebuah papan tulis yang telah dipenuhi foto semua orang terdekatnya.


Joko menambahkan kedua foto bawahannya Al dan El yang telah meninggal di papan itu.


Ia termenung dan kembali memikirkan perkataan Budi, bahwa salah satu koleganya yang telah membocorkan informasi kepada musuh.

__ADS_1


“ARGHH!!!””


Joko memegangi kepalanya yang sakit karena terus mencoba untuk mengingat kejadian masa lalu.


*KRIING!!!!


Ponsel Joko berdering. Saat Joko melihat, ternyata Tini lah yang menelpon Joko.


“Ya. Halo,” ucap Joko setelah mengangkat telepon.


“Aku berhasil menemukan jawabannya, Pak. Aku berhasil mencari arti dari nomor di amplop itu.”


“Kau bilang pengiriman narkoba dalam skala besar akan terjadi dalam waktu dekat. Tiba-tiba aku teringat, bahwa mereka akan membutuhkan suatu tempat yang cukup besar untuk mengangkut semua barang itu.”


“Lantas, apa itu?” tanya Joko.


“Sebuah kontainer,” jawan Tini.


“Kontainer dengan ukuran 12 meter panjangnya, adalah kontainer dengan ukuran terbesar di negara ini,” jelas Tini.


“Dimana letak kontainer itu?” tanya Joko.


“Berdasarkan sistem distribusinya, kontainer itu telah tiba di terminal kontainer Kelapa Gading tiga jam lalu.”


“Baiklah. Dimana kau sekarang?”


“Aku masih berada di kantor, Pak.”

__ADS_1


“Bergegaslah turun, aku akan menjemputmu dan pergi ke lokasi sekarang juga.”


***


Beberapa saat kemudian, Joko dan Tini pun telah sampai di terminal kontainer berada.


Mereka berdua benar-benar sangat nekat dengan datang tanpa bantuan siapapun hanya Joko dan Tini yang berada di terminal kontainer itu.


Joko memarkirkan mobilnya di balik kontainer yang berada di bagian belakang. agar tak diketahui oleh anggota Sulistyo, jika mereka datang suatu saat.


“Dari nama perusahaan pengiriman, seharusnya ada di sekitar sini,” ucap Tini.


“Kurasa juga begitu,” sahut Joko.


“Bukankah kita harus memanggil bantuan kemari, Pak?”


“Tidak. Tidak perlu. Aku akan mencari kontainernya dan kau tunggu di sini.” ucap Joko dengan tegas.


Joko dengan berani dan yakin bahwa ia dapat mengurus masalah itu sendiri.


“Kau dapat memberitahuku melalui walkie talkie, jika ada yang mencurigakan,”


Saat Joko akan keluar dari mobilnya,


“Tunggu, Pak. Bukankah ini terlalu berbahaya?”


Tini menarik pakaian Joko dan menahannya agar tak keluar sendirian.

__ADS_1


“Bukankah kau sendiri yang bilang, bahwa kau ingin bekerja denganku dan meniti karir di puncak sepertiku? Kau ingin melawan mereka tanpa mengambil resiko sebesar ini?”


Joko mengeluarkan sebuah alat dari dalam sakunya.


__ADS_2