
Bowo mengambil salah satu buku besar berisi lembaran kertas dan,
“Kita akan mengurangi staff untuk Biro Luar Negeri, sembari menambah staff untuk memperkuat intel domestik. Ini tak jauh berbeda dengan ucapanku sebelumnya.”
“Kau bisa membacanya dan lekas menandatanganinya.”
Perkataan Bowo terdengar seperti sebuah pemaksaan untuk Sugeng, agar ia menyetujui apa yang sedang direncanakan oleh Bowo.
“Kurasa aku tak bisa melakukan itu. Itu bukanlah masalah sederhana dan semudah yang kau bayangkan. Kau ingin merombak semua agen disini? Apa yang sedang kau rencanakan?” tanya Sugeng curiga.
“Aku harus membahas masalah ini dengan Biro Luar Negeri, sebelum aku menyetujui hal itu,” tegas Sugeng.
“Baiklah. Kurasa kita sudah cukup untuk membahas masalah ini. Tolong tanda tangani ini sekarang juga, Pak.”
Bowo kekeh dengan dirinya sendiri dan memaksa Sugeng untuk menandatangani persetujuan itu.
***
Berpindah di ruangan Rina. Terlihat Rina yang sedang membereskan semua barang yang masih berada di dalam ruang kerjanya.
Rina mengambil semua barang miliknya, mengemasnya di dalam sebuah kotak besar. Rina mengambil sebuah foto dan melihatnya sejenak.
Di dalam foto itu, ada Rina, Aji, dan juga ayah Tini yang telah menghilang lama, dengan kabar bahwa ayah Tini telah mengganti semua identitas, serta wajahnya.
Rina kembali meletakkan foto itu di laci, meninggalkannya di ruang kerja, yang akan ditempati oleh Aji.
Saat selesai dengan itu, Tri masuk ke dalam ruangan Rina.
“Bu. Apa kau yakin, kau akan meninggalkan agensi?” tanya Tri yang masih tak ingin Rina mengundurkan diri.
“Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Rina yang melihat Tri masuk ke dalam ruangannya.
“Beberapa orang mungkin melihatmu dan berpikir bahwa aku akan berhenti sepenuhnya, nyatanya tidak seperti itu. Aku akan tetap menangani kasus ini walau sendirian.”
Rina tersenyum pada Tri, lalu kembali menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya pulang.
“Biarkan aku yang membawa barangmu ke mobil, Bu.”
Tri membantu Rina, mengangkat satu kotak yang tersisa, membawanya ke mobil Rina.
__ADS_1
Rina hanya tersenyum melihat Tri yang masih sangat peduli padanya.
Rina pun keluar, meninggalkan ruangannya. Di lorong gedung, Rina bertemu dengan Aji yang akan berpindah dan menempati ruangannya, sekaligus menggantikannya menjadi Komisaris yang baru.
Mereka berdua berpapasan dan menghentikan langkahnya satu sama lain.
“Pak Aji. Apakah kau berpikir, ini semua sudah berakhir?”
“Apa masih ada urusan lain antara kau dan aku? Kurasa kita sudah tak mempunyai urusan, apapun itu,” ucap Aji ketus.
Rina hanya tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.
“Mulai sekarang, kau tak akan bisa untuk melawanku lagi, karena aku bukan bagian dari kalian. Kau harus mengingat itu, Pak Aji.”
Rina membenarkan dasi Aji yang terlihat kurang rapi, dan berkata,
“Ini adalah awal yang sesungguhnya. Seharusnya kau lebih tahu itu dan kau harus bersiap untuk semua kemungkinan yang akan terjadi.”
Rna melanjutkan kembali langkahnya, pergi meninggalkan Aji.
***
Rina menunduk dan memberikan penghormatan, sebagai permintaan maafnya pada negara, atas sumpah dan janjinya yang belum ia tepati untuk melindungi negara.
Di sela-sela Rina memberi penghormatan terakhir, Joko pun datang ke tempat itu untuk bertemu dengan Rina.
Joko berdiri tepat di belakang Rina yang sedang memberi penghormatan dan permintaan maaf atas sumpah dan janji yang belum dipenuhi.
“Melegakan sekali. Kukira aku tak akan bertemu kembali denganmu. Aku senang bertemu denganmu di tempat ini,” sapa Rina yang menyadari Joko datang.
Joko pun melangkah, dan berdiri tepat di sebelah Rina.
“Organisasi kita telah setia kepada pemerintahan, bukanlah negara. Biro Intelijen Dalam Negeri yang dipimpin oleh Bowo adalah pusat dari semuanya.”
“Mereka menggunakan banyak intel terhadap beberapa orang dengan pengaruh dan kekuasaan. Seseorang harus menghentikan itu semua.”
“Kita harus menguras Biro Dalam Negeri yang membengkak besar, dan berubah menjadi agensi intelijen yang kuat dan berpengaruh, karena itulah tujuan kita sebenarnya. Tujuan organisasi ini didirikan.”
“Kita harus menunjukkan penampilan mengejutkan untuk melakukan itu. Hanya dengan begitu, biro kami akan lebih berkuasa dan dapat mengembalikan tujuan agensi yang sebenarnya.”
__ADS_1
Rina berkata panjang lebar, memberi wejangan pada Joko.
“Lantas, kenapa kau malah mengundurkan diri seperti sekarang ini? Seharusnya kau berjuang hingga akhir, bukannya mengundurkan diri seperti ini,” ucap Joko.
“Tak ada yang bisa kulakukan untuk saat ini, Joko. Aku harus bertanggung jawab atas ucapanku sendiri.”
Rina tersenyum pada Joko.
“Apa tidak ada hal lain yang sedang kau incar? Apa ada hal lain yang masih berusaha kau sembunyikan, apapun itu?” tanya Joko.
“Kau sendiri juga sudah menyembunyikan sesuatu. Apa kau tak merasa, bahwa kau telah menyembunyikan tentang kematian Imron? Ada yang kau lupakan saat kau membuat laporan itu.”
“Kau sangat percaya semua hal yang kau tahu adalah satu-satunya kebenaran, bukan? Apa kau tahu, apa yang telah kusadari selama bekerja bertahun-tahun?”
“Kebenaran. Kebenaran tak akan bisa dimonopoli. Kebenaran mungkin berbeda untuk setiap orang. Itu akan tergantung dimana kau berdiri.”
Joko terus mendengarkan dan memahami perkataan Rina.
“Kalau begitu, kau sedang memihak siapa, untuk saat ini?” tanya Joko.
“Apakah kau akan mempercayaiku, jika aku memberitahumu?”
Rina tersenyum kecil pada Joko.
“Ah. Boleh aku meminta tolong padamu? Gantikan lah aku untuk mengawasi Direktur Aji. Dan juga satu hal lagi, sepertinya aku tahu, siapa pengkhianat dari agensi kita itu.”
“Siapa itu?” tanya Joko penasaran.
“Bowo. Akan tetapi, kau harus memastikan itu terlebih dahulu. Baiklah. Sampai ketemu kembali, Joko.”
Rina pun berjalan pergi meninggalkan Joko.
***
Dua bulan berlalu setelah kepergian Rina. Saat itu di dalam agensi akan terjadi perombakan besar-besaran untuk semua agen yang berada di sana.
Kabar baiknya adalah, Joko mendapatkan sesuatu yang dapat meyakinkah bahwa benar, apa yang telah diucapkan oleh Rina. Bowo adalah seorang pengkhianat itu.
Di dalam sebuah ruangan yang cukup besar, terlihat semua direktur eksekutif dan para petinggi lainnya sedang berkumpul untuk membahas sesuatu.
__ADS_1
Di dalam perkumpulan itu, Tri membawa laptop, lalu memutar sebuah video. Video itu adalah video Joko tiga tahun lalu, sebelum ia menghapus ingatannya sendiri.