
Mobil Tini yang dikendarai Joko pun meliuk-liuk, menghindari semua mobil yang berjalan berlawanan dari mobilnya.
Saat jalanan mulai sepi, disitulah Joko mendekatkan mobilnya, membuka kaca jendela mobil Tini, mengeluarkan pistol dan,
*DOR! DOR! DOR!!
Joko yang sudah sangat emosi dan gegabah pun menembaki kaca jendela mobil porsche hitam itu sebanyak tiga kali.
Peluru Joko tak bisa menembus kaca jendela mobil porsche itu, yang sepertinya terbuat dari kaca tahan peluru.
Tak menyerah sampai disitu, Joko kembali mengeluarkan tangannya yang membawa pistol dari jendela, dan mencoba kembali untuk menembak.
Sebelum Joko sempat mengeluarkan peluru, mobil porsche lebih dulu menghindar ke depan dan balik menabrak sisi depan mobil bagian Joko, yang membuat Joko sedikit kehilangan kendali.
Joko meletakkan pistolnya kembali dan menahan mobil porsche yang kini menekan balik mobil yang dikendarainya.
Dalam jarak 100 Meter kurang lebih, terlihat sebuah truk kontainer yang berukuran cukup besar sedang melintas di depan kedua mobil yang saling berdempetan satu sama lain.
Joko terus mendempet dan menahan, menunggu truk kontainer yang semakin mendekat dari jaraknya.
Saat truk itu berjarak hanya beberapa meter saja, Joko membanting stir menarik hand rem, mobil pun memutar layaknya mobil pentas yang dikendalikan oleh sopir handal yang sedang berada arena freestyle.
Mobil yang dikendari Joko memutar hingga sampai berada di hadapan mobil porsche yang masih melaju dengan kencang.
*BRAKKK!!!!
Mobil Joko tertabrak cukup keras, suara ban mobil yang menggores aspal terdengar cukup keras, saat mobil Joko berputar dan akhirnya menabrak sebuah trotoar dengan pagar besi.
Begitupun dengan mobil porsche yang juga kehilangan kendali dan menabrak sebuah mobil yang sedang terparkir di pinggir jalan.
Seketika jalan raya itu macet akibat kecelakaan yang cukup besar. Beberapa orang turun dari mobilnya hanya untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Joko yang masih sadar pun keluar dari mobilnya dan menghampiri mobil porsche yang sudah terhenti.
“Keluar kau, bajiangan!!!”
__ADS_1
*PYARR!!!!!
Joko memecahkan kaca mobil porsche itu dengan tinjunya. Alangkah terkejutnya bahwa Joko tak melihat Imron atau Tini di dalam mobil.
Joko hanya melihat seorang yang berpakaian persis sama sepertinya sudah tak sadarkan diri di dalam mobil itu.
Berpindah ke bagasi mobil, Joko juga tak dapat menemukan Tini di dalam mobil itu.
Semua orang yang berkerumun di pagi itu melihat tingkah Joko dengan tatapan, seolah menganggap Joko adalah orang yang aneh.
Joko terjatuh dan kembali mencoba untuk berdiri dengan sempoyongan karena kaki dan kepalanya yang sepertinya terluka.
Joko mengambil ponselnya di dalam saku dan teringat, bahwa sambungan teleponnya belum terputus dengan Imron, sejak pertama kali mereka saling berbicara di telepon.
Saat Joko mendekatkan ponsel ke telinganya.
“Lihatlah dirimu, Joko! Lihatlah dibelakangmu!” ucap Imron.
Seketika Joko menoleh ke belakang, tepat mobil Tini yang dibawa olehnya terhenti.
Sejak ia berada di dalam kafe, Imron berhasil mengelabui Joko dengan berpura-pura menculik Tini, padahal, Imron hanya membuat Tini tak sadarkan diri, dan memindahkannya ke bagasi mobilnya sendiri.
“Lihatlah baik-baik, Joko. Itu semua karena ulahmu yang tak sabar dan selalu gegabah. Apa bangkit dari kematian membuatmu semakin bertindak bodoh dan selalu gegabah?”
Menyadari Tini yang berada di dalam bagasi mobilnya sendiri, Joko berjalan dengan sisa tenaganya dan menolong Rini.
Di dalam bagasinya, terlihat kondisi Tini yang sangat tak karuan dengan luka di beberapa bagian kepala, dengan sedikit darah yang mengalir dari pelipis nya.
“Tini! Tini bangunlah! Lihat aku, Tini! Apa kau mendengarku?”
Joko menggendong dan mengeluarkan Tini dari dalam bagasi, lalu membawanya menepi ke trotoar, pinggir jalan, dan menahan tubuh Tini dengan kedua tangannya.
“Tini! Sadarlah, Tini! Tini!!”
Joko terus mencoba membangunkan Tini yang masih tak sadarkan diri dengan memanggil namanya berkali-kali.
__ADS_1
“Tidak! Ayah! Jangan tinggalkan aku,Ayah. Ayah…”
Tini yang masih tak sadarkan diri bermimpi dan memanggil ayahnya, yang membuat Joko merasa sangat kasihan pada Tini.
Joko kembali mengangkat ponselnya dan memanggil Imron.
“Hei, Imron. Dimana kau, Bajingan? Jawab aku! Keluarlah dan hadapi aku disini! Bukankah kau sama sepertiku? Kita sama-sama seorang agen hitam, jadi, segera keluar dan hadapi aku. Apa kau takut? Apa kau seorang banci?”
Joko semakin marah dan menantang Imron, dengan mata Joko yang masih mencari Imron diantara para kerumunan orang yang bertambah banyak untuk melihat kejadian itu.
“Hhh. Apa kau mengerti sekarang? Kau sudah mengerti, apa yang terjadi kepada orang-orang disekitarmu, jika kau dan mereka masih menyelidiki tentangku, apa kau sudah mengerti apa yang akan terjadi?”
Imron sepertinya tidak terpancing sama sekali dengan perkataan Joko dan malah balik memanfaatkan Joko dengan kondisi psikologisnya saat ini.
“Kau hanya akan membuat mereka semakin menderita. Semua karena ego dan perilakumu yang sangat gegabah.”
“Aku hanya ingin mengatakan, hentikan apa yang sedang kau lakukan, jika tak ingin melihat semua orang yang berada di sekitarmu terluka.”
“Siapa itu? Siapa orang yang menyuruhmu mengatakan hal itu?” tanya Joko dengan nafas terengal-engal.
“Hhh. Kau tak akan bisa menangkap mereka, walau kau sudah tau siapa mereka. Camkan itu, Joko! Kau seharusnya merasa bersalah sebelum kau merasa marah.”
Joko menyandarkan tubuh Tini yang tak berdaya di pohon kelapa, lalu berdiri menatap semua mobil yang ada di sekitarnya.
Dari jalan yang berlawanan arah, sebuah mobil Pajero Sport berwarna Putih garis hitam, membuka jendela pintunya, seketika mata Joko tertuju pada mobil itu.
Seorang pria berusia 40 tahun awal, menggunakan kacamata, sama persis dengan ciri-ciri yang dimiliki Imron, terlihat dari jendela. Ia mengeluarkan tangannya dan melempar sebuah Hp.
*TUT!!!!
Panggilan Joko pun berakhir dan terputus saat itu. Mobil Pajero Sport putih itu kembali menutup jendela pintu mobilnya, lalu pergi meninggalkan tempat kejadian.
Sebelum jauh, Joko berlari untuk mencegat mobil itu dari sisi jalan. Akan tetapi, usaha Joko hanyalah sia-sia, karena tak mungkin baginya untuk menang, jika harus mengejar mobil yang sudah melaju dengan kencang.
Dengan nafas yang terengah-engah, Joko kembali ke Tini untuk menolongnya.
__ADS_1
Dengan mobil Tini yang cukup rusak di bagian depannya, mobil Tini masih bisa menyala dan berjalan, yang membuat Joko dapat membawa Tini ke klinik rumah sakit terdekat.