SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
082 - LANTAI TERSEMBUNYI.


__ADS_3

Kembali pada Tini yang berada di lantai tersembunyi, di Rumah Sakit Harjono.


Tini terus berjalan menyusuri lorong gelap, mencari keberadaan Syahid. Di ujung lorong, tertulis nama Syahid di atas pintu, salah satu kamar.


Tanpa banyak berpikir, Tini pun masuk ke dalam ruangan itu. Di dalam ruangan, Tini melihat Syahid yang terbaring, tak sadarkan diri.


Pria berumur 80 tahunan akhir itu tampak tak baik-baik saja dengan kondisi yang cukup kritis dan sangat menyedihkan.


Tini melihat di sekeliling ruangan dan menemukan sebuah obat yang dapat membuat jantung seseorang berhenti, dengan kata lain, obat itu dapat membuat orang mati suri, selama masih berada di dalam tubuhnya.


Saat Tini melihat ponselnya, tak ada sinyal sama sekali di ruangan itu, yang membuat ia tak bisa menelpon Joko.


Tini terdiam dan berpikir sejenak, karena ia tak tahu, apa yang harus ia lakukan dengan Syahid.


Terlintas di pikiran Tini dengan perkataan Joko untuknya. Bekerja di lapangan tak semudah yang dibayangkan.Itu tampak seperti rawa, keringat, dan penuh darah.


Saat teringat perkataan Joko, Tini akhirnya memberanikan diri untuk membawa Syahid keluar dari ruangan itu.


Tini melepas infus yang berada di tangan Syahid, lalu mendorong bangku, tempatnya berbaring, keluar dari kamar itu.


Tini terus mendorong tempat tidur Syahid itu melewati lorong yang gelap dan sepi untuk membawanya kabur dari rumah sakit itu.


Saat Tini sampai di depan pintu lift, dua petugas pria datang melihat Tini membawa Syahid. Salah satu petugas itu memanggil Tini dan menyuruhnya berhenti.


“Tunggu sebentar, Nona. Apa kau pekerja baru? Apa yang sedang kau lakukan?” tanya salah satu petugas pria itu.


Karena Tini tak mempunyai alasan lagi, Tini mengeluarkan sebuah pistol dari ikat pinggannya, lalu menodongkannya kepada dua petugas itu.


“Jangan bergerak!” Kedua petugas itu pun mengangkat tangannya, karena melihat Tini yang membawa pistol.


“Tunggu, Nona. Kau tak boleh melakukan hal itu. Kau akan mendapat masalah besar nantinya,” ucap salah satu petugas yang melangkah mendekat ke Tini.


“Jangan mendekat! Apa kau tak melihat, apa yang sedang kupegang?”


*DOR!!!!


“ARGGHHH!!!!!”


Saat salah satu petugas akan menyerang Tini, Tini lebih dahulu memberikan sebuah tembakan, tepat mengenai lutut, yang membuatnya tersungkur, berteriak kesakitan.


Rekan dari petugas itu pun ketakutan, karena Tini benar-benar tak segan untuk menembaknya.


“Jangan mengejarku! Aku tak akan segan untuk menembakmu, jika kau mengejarku.”


Setelah pintu lift terbuka, Tini langsung masuk ke dalam lift, menuju ke lantai utama.


Tini mengatur nafasnya yang tak karuan, karena ia tak menyangka, bahwa ia akan berani untuk menembak, seperti apa yang telah diajarkan Joko padanya.


“Astaga!”


Tini kembali terkejut saat Syahid yang terbaring tiba-tiba memegang tangannya.


Syahid terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi dia sangat kesulitan untuk melakukannya.


Beberapa saat kemudian, lift sampai di lantai utama. Tini segera mendorong tempat tidur pasien, membawanya keluar dari Rumah Sakit itu melalui tempat parkir.

__ADS_1


Di tempat parkir, Tini melihat sebuah mobil ambulan yang akan berangkat.


‘Tunggu, Pak! Tolong bawa pasien ini menuju rumah sakit lain.”


Tini memanggil salah satu  petugas ambulan, sambil berlari mendorong bangku yang membawa Syahid.


Dua petugas ambulan pun langsung membantu Tini. Petugas itu menggendong Syahid dan langsung memasukkannya ke dalam mobil.


Saat Tini akan masuk ke dalam, untuk mengantar Syahid,


“Berbaliklah dan angkat tanganmu, jika kau ingin mati di sini.”


Seorang pria membawa sebuah pistol, menodongkan pistolnya dari belakang Tini.


Karena tak mungkin untuk melawan, Tini mengangkat tangannya, lalu memutar badannya berbalik.


“Jangan bergerak sedikitpun. Jika kau bergerak, atau melihat ke belakang, aku akan membunuhmu saat itu juga.”


Dengan cepat, pria itu masuk ke dalam mobil ambulan dengan mesin yang sudah menyala.


Tini mengambil pistolnya dengan cepat, lalu membalikkan badannya. Saat akan menembak ban mobil ambulan itu, sekilas, Tini melihat seseorang dari balik kaca spion mobil.


Seorang pria paruh baya berumur 50 an akhir, duduk di kursi depan, di dalam mobil ambulan.


Tini menatap pria itu dan sepertinya dia adalah orang yang berada di dalam foto, yang pernah Aji tunjukkan padanya, bahwa mungkin pria itu adalah ayah kandungnya.


Jelas. Pria itu adalah Putra. Dia bersama anak buahnya telah mengetahui rencana Tini dan berhasil mengambil alih Syahid.


Mobil ambulan itu pun segera pergi dari tempat parkir, meninggalkan Tini yang masih terdiam, karena melihat Putra.


Untungnya, Joko datang tepat waktu. Joko datang menggunakan mobil mustang kesayangannya, berhenti tepat di belakang Tini yang sedang dihadang, di halaman rumah sakit.


“Masuklah! Apa kau mau mati?” Joko membuka kaca jendela, lalu menyuruh Tini agar masuk ke dalam mobilnya.


Setelah Tini berada di dalam mobil, Joko memutar kembali mobilnya, lalu menabrak beberapa orang yang masih ingin mengejar Tini.


Mereka berdua pun mengikuti mobil ambulan yang membawa Syahid pergi, dengan Tini yang menunjukkan jalannya.


“Apa ini jalan yang benar?” tanya Joko ragu.


“Kurasa begitu, Pak. Aku yakin mereka pergi ke jalan ini,” jawab Tini.


Joko menginjak pedal gas, agar mobilnya melaju dengan kecepatan penuh. Joko terus mengejar mobil ambulan itu, melewati jalanan yang sangat sepi di malam itu, dan hampir tak ada satupun kendaraan yang melintas di sana.


“Pak, kurasa orang yang membawa Syahid adalah bukan dari kelompok Warrior.”


“Lantas, siapa mereka?” tanya Joko.


“Entahlah. Aku pun tidak yakin dengan hal itu. Kita belum dapat memastikannya.”


*TING!!!!


Alat kuno milik organisasi Warrior yang sedang dibawa Joko kembali berbunyi, menandakan ada pesan masuk.


“Bacakan pesan itu!” Joko memberikan alat itu pada Tini, menyuruhnya untuk membaca pesan yang masuk.

__ADS_1


“Jika kau mengikuti kami, aku akan membunuh kalian, sama kami membunuh Imron.”


Begitulah isi pesan yang telah dibaca Tini.


“Sebelah sana, Pak!”


Tini menunjuk sebuah mobil ambulan yang terhenti di sebuah jembatan dari jalur yang berbeda.


Joko memutar setir dengan cepat, lalu pergi ke tempat, dimana mobil ambulan itu berhenti.


Mobil ambulan itu berhenti di tengah-tengah jalan, dengan Syahid yang berada di atas kursi roda, di balik pintu belakang mobil ambulan.


Joko masih berada di dalam mobil, perlahan menginjak gas, mendekati Syahid, yang terduduk di belakang mobil ambulan.


*TING!!


Alat kuno yang berada di tangan Tini kembali berbunyi, tanda pesan masuk.


“Ini hadiah untuk kalian berdua.”


Begitulah isi pesan itu.


Saat mobil Joko semakin mendekat,


*DOR DOR DOR!!!!


Seorang pria dari dalam ambulan menembak Syahid dari belakang sebanyak tiga kali. Dua peluru mengenai dada kiri dan kanan, satu peluru, tepat mengenai kepala Syahid.


Seketika Syahid tewas di atas kursi roda itu.


Joko menginjak pedal rem, menghentikan mobilnya.


“Ambil alih kemudinya!” ucap Joko.


“Baik, Pak.”


Joko keluar dari mobil, menyuruh Tini untuk menggantikannya di kemudi, lalu ia akan berjalan di samping mobil, dengan pintu yang terbuka.


Joko mengeluarkan pistolnya, memasang kuda-kuda, bersiap untuk menembak seseorang di dalam mobil ambulan itu.


*TING!!!!


Alat kuno itu kembali berbunyi,


“Apa isi pesan itu?” tanya Joko yang masih berjalan beriringan dengan mobil, mendekat pada Syahid.


Setelah pesan itu terkirim, seseorang membuka pintu ambulan, lalu melemparkan sebuah bom rakit yang menggelinding, tepat di bawah mobil Joko.


Tini yang masih tak sadar, karena melihat alat kuno itu masih berada di dalam mobil, dengan bom perakit yang sudah berada tepat di bawah mobil.


Joko menarik lengan Tini, dan langsung membawanya keluar dari mobil itu.


*DOR!!!!!!!


Beberapa langkah setelah Joko dapat membawa Tini keluar, bom itu meledak, membuat mobil kesayangan Joko hancur lebur.

__ADS_1


Begitupun dengan Joko dan Tini yang terpental, karena ledakan mobil itu.


__ADS_2