
“Bagus. Baiklah. Terima kasih atas informasimu, Budi. Mari kita pergi dari sini.”
Joko pun mengajak Budi untuk segera pergi dari sana.
Joko kembali masuk ke dalam gudang dan melihat Tini yang mengawasi ketiga orang menggunakan pistolnya.
“Aku akan pergi dahulu. Tolong urus ini untukku. Aku akan memanggil bantuan kemari.”
“Pak! Hei! Jangan tinggalkan aku!” ucap Tini yang tak ingin ditinggal Joko.
“Hei kau! Berlutut kembali! Apa kau mau merasakan peluru ini?”
Tini mengancam salah satu anggota geng yang mencoba berdiri.
***
Joko dan Budi pun telah pergi dari gudang itu menggunakan mobil Joko.
“Pak! Apa kau memahami apa yang aku ucapkan?” tanya Budi.
“Aku mendengarkanmu. Teruskan saja, jika masih ada yang ingin kau sampaikan,” ucap Joko.
__ADS_1
“Aku tidak bisa menghubungimu setelah pertemuan terakhir kali kita bertemu di tempat persembunyianmu. Tak lama setelah itu, kudengar salah satu agen dibunuh di Beijing. Hanya itulah yang kutahu sejauh ini.”
“Apa itu dapat mengingatkanmu pada sesuatu, Pak?” tanya Budi..
“Sulistyo! Apa kau tahu tentang hal lain mengenainya?”
“Peranku hanyalah sepele di geng itu, jadi aku tak tahu banyak tentang dia. Dia sangat sulit dipahami. Bahkan aku pun baru saja melihat wajahnya setibanya dia di Indonesia,” jelas Budi.
“Lalu, apa yang kau lakukan di gudang tadi?” tanya Joko.
“Kami bukan hanya sekedar geng, tapi kami juga mengirim narkoba. Anak buah Sulistyo menyelundupkan sekitar 300 kg sabu-sabu murni dari berbagai tempat.”
“Saat aku menjadi bagian dari mereka, aku telah menggeluti bisnis gelap itu cukup lama, tapi aku belum pernah melihat barang sebanyak itu sebelumnya.”
“Akan tetapi, semua yang kami kirim itu tidak seberapa banyak.”
“Apa maksudmu?” tanya Joko.
“Dari kabar yang kudengar, kami akan segera menerima kiriman besar. Begitu tiba, itu akan membuat semua orang di negara ini menjadi kacau. Hanya itu yang kutahu, Pak,” jelas Budi.
Joko pun langsung mengetahui bahwa itu adalah kiriman Narkoba dan obat lain semacamnya.
__ADS_1
Mobil Joko berhenti tepat di persimpangan jalan saat lampu merah menyala.
“Sekarang, aku tidak punya siapa-siapa lagi dan tak mempunyai tempat tujuan. Setelah ini, mungkin para petinggi tidak akan membiarkanku lolos,” ucap Budi dengan putus asa.
“Dengarkan aku, Budi! Kau pernah bilang padaku, bahwa kau ingin tinggal dengan tenang dengan bibimu saat kau sudah kembali ke Indonesia,” ucap Joko.
“Kau masih mengingat itu, Pak?” tanya Budi yang terkejut bahwa Joko masih mengingat apa yang diucapkannya kepada Joko saat itu.
“Lantas, kenapa kau tak menghubungi nomor darurat yang kuberikan padamu saat aku menghilang?”
Budi pun terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Joko.
“Jika kau melakukan itu, maka kami bisa melindungimu saat itu.”
“Bukan begitu, Pak. Maksudku, kau belum mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Maafkan aku, Pak.”
*KLEK!!!
Budi melepas sabuk pengaman, lalu membuka pintu mobil dan berlari.
“Hei!!!”
__ADS_1
Saat Joko akan mengejarnya, lampu lalu lintas telah berwarna hijau yang membuat mobil di belakang Joko terus membunyikan klakson, karena mobil Joko yang menutup jalan.
Joko kembali ke dalam mobil dan meminggirkan mobilnya ke tepi jalan. Di dalam mobil, Joko bertanya-tanya kenapa Budi terus mencoba berlari darinya.