SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
073 - WARRIOR.


__ADS_3

Akan tetapi, semuanya sudah terlambat. Joko berhasil membawa lari Siti masuk ke dalam stasiun bawah tanah, hingga para penembak jitu tak bisa menjangkaunya.


“Ini sniper 3. Target dan Umpan berhasil lolos dari jangkauan. Ku ulangi sekali lagi. Semua penembak jitu sudah tak melihat target.”


Semua agen di ruang kendali menepuk dahinya, karena itu, terkecuali Tini yang bernafas lega, karena Joko berhasil melarikan diri dan penembak jitu tak bisa menembaknya.


Setelah Joko berhasil membawa Tini kabur, Aji baru bertindak dengan tergesa-gesa, karena ia tak tahu harus melakukan apa.


“Apa ada agen kita di stasiun bawah tanah?” tanya Aji pada asistennya..


“Tim 4 berada di stasiun, Pak. Hanya 5 orang yang berada di sana,” jawab asistennya.


“Kirim mereka sekarang juga! Katakan, bahwa aku mengizinkan mereka untuk menembak,” tegas Aji.


“Baik, Pak,” jawab asistennya.


Sontak perkataan Aji membuat Tini sangat panik dan khawatir dengan Joko, akankah ia berhasil ditangkap, atau sebaliknya.


***


Berpindah di stasiun bawah tanah. Terlihat Joko yang masih menarik lengan Siti, menggandengnya agar dapat mengikuti langkah Joko.


Dua orang agen muncul dari lorong, berlari ke arah Joko dan Siti dengan pistol di tangannya.


Akan tetapi, stasiun bawah tanah itu sangat ramai akan penumpang yang akan menaiki kereta, yang membuat para agen tak bisa menembak di tempat itu.


Akhirnya kedua agen itu menyerang Joko dengan tangan kosong, walau tahu pasti Joko dengan sangat amat mudah menghabisinya.


Setelah 2 orang berhasil dilumpuhkan Joko, dari pintu masuk datang 3 orang agen yang langsung mengeroyok Joko dari belakang.


Joko menyuruh Siti untuk menyingkir, sembari mengurus beberapa agen yang sedang menyerangnya.


Joko mengeluarkan tongkat besi yang disimpan di balik jaketnya, lalu menyerang 3 orang agen itu dengan brutal.


Semua orang di stasiun pun ketakutan dengan insiden itu. Mereka mengambil foto dan video Joko yang sedang menghajar 3 orang agen yang berusaha menangkapnya.


Saat semua orang sudah tumbang, salah satu agen masih berusaha berdiri, lalu berlari ke arah Joko dan merangkul pundak Joko dari belakang.


Kaki Joko memanjat sebuah tiang di stasiun berputar dan balik menendang salah satu agen itu dengan lututnya.


Kepala dari agen itu pun bocor dan mengeluarkan banyak darah, karena kerasnya tendangan Joko. Tini hanya diam di pojokan, menyeringai, melihat Joko yang membantai semua agen yang datang padanya.


Di lobi stasiun bawah tanah itu juga terdapat sebuah kamera pengawas, yang pastinya, semua orang yang berada di ruang kendali, dapat melihat Joko menghabisi semua agen yang akan menangkapnya.


Saat 5 orang agen telah terkapar, Joko kembali menarik lengan Siti, lalu membawanya pergi dari tempat itu.


Joko menghentikan langkahnya sejenak, lalu menatap ke arah kamera pengawas yang berada di pojok tiang yang berada di dekatnya.

__ADS_1


Joko mengacungkan jari tengahnya dan mengarahkannya pada kamera pengawas. Joko sengaja melakukan itu untuk menghina semua orang di agensi, termasuk Aji, karena tak sanggup untuk menangkapnya.


Dan saat itu juga, Joko dapat membuktikan bahwa rekaman cctv yang menunjukkan dirinya menembak Yuli tidaklah benar.


***


Di pinggir danau yang sangat luas, terlihat matahari yang akan terbenam di ufuk barat. Burung-burung yang terbang secara bergerombolan, membentuk simbol V, semakin menambah indahnya pemandangan sore itu.


Sebuah pendopo yang sudah lama tak terpakai, berada di pinggir danau. Joko dan Siti yang berhasil kabur pun berada di dalam pendopo itu untuk mengobrol lebih lanjut.


Mereka berdua berdiri berhadapan, dengan Joko yang menyandar di pagar pembatas danau.


“Ada apa ini? Kenapa kau melakukan hal yang dapat membahayakanmu, hana untuk bertemu denganku?” tanya Siti yang tak tahu pola pikir Joko.


“Bukankah ada yang mengejarmu?” tanya Joko.


“Maksudmu, orang-orang yang membunuh sepupuku dan balik menuduhku sebagai tersangkanya?”


Joko menganggukkan kepalanya dan bertanya,


“Apa kau tahu siapa mereka?”


Siti memalingkan wajahnya dan tak mau menjawab pertanyaan dari Joko.


“Oi! Aku bertanya padamu. Apa kau tuli?”


“Hhh. Tiga tahun lalu tepatnya, ada sebuah peristiwa selama aku menjalankan misi ku di Beijing, China.”


“Semua kolegaku tewas dalam peristiwa itu. Aku sangat yakin, bahwa orang yang bertanggung jawab atas peristiwa itulah yang saat ini mengejarmu.”


“Aku yakin bahwa sepupumu yang membelot itu memberitahu semua rahasia mereka padamu. Saat ini, kau akan menjadi target berikutnya, yang akan mereka incar, karena kau telah mengetahui semua rahasianya.”


“Apa itu memberimu cukup alasan untuk memberitahuku sekarang? Kudengar kau adalah seorang reporter.”


“Aku juga mendengar dari Yuli bahwa kau sedang menulis sebuah artikel. Apa itu benar? Artikel apa itu?”


Joko terus mendesak agar Siti mau berbicara padanya.


Siti menghela nafas panjang dan akhirnya menjawab,


“Kau mungkin akan menyesal jika mencari tahu tentangnya.”


“Hhh. Apa kau berpikir begitu? Aku tak akan rugi apapun saat ini. Apa kau tak pernah mendengar rumor tentang ku?”


Karena tak punya pilihan lain, akhirnya Tini pun mulai bercerita kepada Joko, semua yang ia ketahui.


“Ada rumor bahwa ARN menangani pembelot dari China secara terpisah, yang bekerja di militer dan di bawah naungan pemerintah, dan memaksa mereka untuk melakukan pekerjaan kotor.”

__ADS_1


“Saat aku mulai mengikuti petunjuk itu, aku menemukan sebuah organisasi swasta, yang terdiri dari agen-agen pensiunan ARN, karena sepupuku pun berkata hal yang sama padaku.”


“Organisasi swasta?” tanya Joko.


“Ya. Organisasi itu bernama Warrior, begitulah orang menyebutnya.”


“Warrior?” tanya Joko yang baru mengetahui kabar itu.


“Tak lama setelah itu, aku menerima informasi yang sangat mengejutkan, saat aku masih bekerja di kantor.”


“Apa informasi itu?” tanya Joko memastikan.


“Seharusnya kau lebih tahu. Kalian menyebutnya Kamis Berdarah. Tiga tahun lalu, daftar agen yang bocor di China. Bahkan beberapa reporter, mendengar kabar tentang hal itu.”


“Dari informasi yang kudapat, Warrior adalah dalang dibalik peristiwa itu,” jelas Siti.


“Apa kau yakin?” Joko menatap Siti dan memastikan kabar yang baru di dengarnya itu.


“Ya. Perusahaanku yang dulu juga mempunyai seorang informan. Dia berada di lokasi saat daftar itu bocor.”


“Apa kau sudah bertemu dengan informan itu?” tanya Joko.


“Saat kami sudah berjanji untuk bertemu di Beijing, jadi aku pergi ke China saat itu.”


“Akan tetapi, tiba-tiba aku tak bisa menghubungi informanku. Kami belum sempat bertemu karena itu.”


“Kapan itu?”


“Mungkin sekitar 1 atau dua tahun yang lalu.”


Joko kembali mengingat perkataan Tini, yang mengatakan bahwa Imron lah yang selamat dari daftar agen yang bocor itu.


“Ini. Lihatlah!”


Siti memberi ponselnya pada Joko, memperlihatkan sebuah foto. Foto itu menunjukkan beberapa orang yang sedang berkumpul, dan tertangkap wajah Imron dari pantulan jendela.


“Ini adalah foto yang berhasil diambil oleh informanku. Sepertinya mereka adalah anggota dari organisasi Warrior.”


“Kirimkan foto ini kepadaku!” ucap Joko.


Setelah sekian lama mendapat banyak informasi, Joko memanggil taksi online untuk Siti, agar ia dapat kembali ke tempat tinggal barunya.


Setelah Tini pergi, Joko mengeluarkan ponselnya, lalu mengirimkan sebuah pesan SMS pada Imron.


“Jika kau menginginkan Siti, datanglah ke apartemen, tempat kau membunuh sepupunya.”


Begitulah isi pesan teks yang dikirimkan Joko untuk Imron. Sepertinya Joko ingin menipu Imron, mengajaknya bertemu, alih-alih membawa Siti.

__ADS_1


__ADS_2