SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
080 - SYAHID.


__ADS_3

“Aku juga sudah memeriksa rumah sakit yang dapat mengobati penyakit ini, tapi aku tak mendapatkan seseorang yang mempunyai penyakit itu.”


Tini menunjukkan sebuah daftar pasien yang berada di dalam rumah sakit yang dapat mengobati penyakit itu.


Rumah sakit itu merupakan salah satu rumah sakit yang berada di bawah naungan ARN sendiri.


“Klik yang ini.” Joko menunjuk sebuah nama-nama pasien di layar, menyuruh Tini untuk membukanya.


“Namanya, Syahid. Dia lahir di tahun 1945. Lulusan angkatan ke sembilan Akademi Militer angkatan laut, dan ikut serta dalam kudeta militer saat itu. Dia juga merupakan salah satu pendiri ARN.”


Tini membaca semua penjelasan yang muncul di layar laptopnya.


“Selama berada di ARN Indonesia, dia pernah dikirim ke Amerika, untuk mengembalikan MOU untuk operasi, perang psikologis, dan metode interogasi lainnya.”


“Saat dia memimpin Departemen anti *******, beberapa orang bahkan menyebutnya iblis. Aku yakin dia adalah orang yang cukup penting.”


“Dia pensiun saat umurnya mencapai 70 tahunan akhir, setelah itu tak melakukan apapun yang dapat menarik perhatian. Bukankah ini sangat tidak asing, Pak? Astaga.”


“Jika seorang pria dengan karir bagus seperti ini, membuat Imron menato informasi di tubuhnya, aku yakin dia bukanlah pria biasa. Apa menurutmu dia adalah ketua dari Warrior?”


“Syahid. Cari tahu, mana rumah sakit tempat dia dirawat. Aku yakin pasti seseorang telah menyembunyikannya.”


“Baik, Pak.”


***


Sore harinya di hari yang sama, Tini berhasil mendapatkan, tempat dimana Syahid dirawat dan mendatangi rumah sakit itu bersama Joko.


Di sebuah rumah sakit besar yang berada di dekat stasiun lama, Rumah Sakit Harjono, itulah namanya.


Joko dan Tini berada di lobi dan melapor pada resepsionis, menanyakan tentang pasien.


“Pak Syahid. Dia dirawat pada bulan maret 5 tahun yang lalu. Dia dirawat disini sekitar 6 bulan, lalu pulang setelah itu,” jelas petugas rumah sakit.


“Kalau begitu, apakah kau dapat memberitahuku, kapan tepatnya dia dipulangkan?”


“Maafkan aku, Nona. Aku tak bisa mengatakan itu. Itu sudah termasuk informasi pribadi,” jawab petugas rumah sakit.


Joko hanya diam, berdiri di sebelah Tini dan memperhatikan gerak-gerik petugas rumah sakit, yang sangat mencurigakan.


“Aku hanya menyuruhmu untuk memeriksanya, tak lebih dari itu,” Tini masih ngotot.


“Jika kau masih menginginkan informasi itu, kau harus kemari dengan surat perintah yang resmi.


“Baiklah. Kalau begitu, aku permisi dulu.”


Joko dan Tini akhirnya pergi dari rumah sakit tanpa membawakan hasil.


Setelah Joko dan Tini pergi, petugas rumah sakit itu menelpon seseorang yang sepertinya berkaitan dengan itu semua.


Di luar rumah sakit, Joko dan Tini sudah berada di dalam mobilnya.

__ADS_1


“Apa kau tak melihat, ada sesuatu yang aneh dari pegawai itu?” ucap Joko.


Tini mengangguk setuju dan,


“Sindrom Acloid adalah kondisi serius saat seluruh tubuh menjadi tegang setelah diagnosis, maka itu, orang yang menderitanya harus tetap dirawat di rumah sakit.”


“Saat aku menyelidikinya, tak ada catatan dia dirawat di tempat lain. Apa kau yakin, dia masih berada disini, Pak?”


“Entahlah, tapi, aku merasa seperti itu,” jawab Joko.


Joko pun mengeluarkan ponselnya dan menelpon Irul untuk meminta sebuah denah, serta semua letak cctv gedung Rumah Sakit Harjono.


Setelah menelpon Irul, Joko pun akhirnya mengajak Tini untuk bertemu dengan Irul, salah satu teman baik, yang selama ini selalu membantunya.


Di ruang kerja Irul, Joko datang bersama Tini untuk meminta bantuannya. Begitupun dengan Irul yang pasti berpikir, masalah apa lagi yang akan ditimbulkan oleh Joko.


“Astaga, Joko. Apa kau tahu, aku harus menjilat dengan kata-kata yang manis pada tim teknis untuk mendapatkan denah ini. Sial!” ucap Irul yang kesal, karena Joko selalu meminta pertolongan yang sangat berat.


Irul menyalakan semua komputernya dan menyambungkannya pada layar proyektor.


Ruang kerja Irul sangatlah luas, akan tetapi, karena banyaknya komputer dan alat lainnya yang berada, ruangan Irul menjadi lebih sempit.


“Oi. Kenapa kau membutuhkan denah ini?” tanya Irul pada Joko. “Sudahlah. Benar. Pertanyaanku bodoh. Maafkan aku.”


Irul tak melanjutkan pertanyaannya karena Joko hanya diam, dan pasti tak  ingin menjawabnya.


“Omong-omong. Siapa itu?” tanya  Irul pada Joko.


“Kau tak perlu khawatir. Dia aman. Dia adalah rekan kerjaku,” jelas Joko.


“Halo, Pak. Namaku Tini.”


Tini membungkuk memperkenalkan dirinya pada Irul.


“Oh. Halo, Nona. Rupanya kalian satu tim,” sapa balik Irul.


Irul duduk di kursi kerjanya, mulai menjelaskan tentang bangunan rumah sakit itu.


“Apa kau tahu, dulunya gedung ini adalah sebuah Universitas, lalu, saat perang dunia ketiga, Universitas itu dibubarkan dan menjadi sebuah rumah sakit.”


Layar proyektor menampilkan semua ruangan yang terdapat di dalam rumah sakit, dengan tampilan kerangkanya.


Dari layar proyektor itu, terlihat dengan jelas, semua ruangan yang ada di dalam rumah sakit itu.


“Beberapa ruangan di rumah sakit itu telah direnovasi secara menyeluruh. Contohnya, lihatlah basement yang mereka miliki.”


Irul mengarahkan kursornya ke arah basement gedung.


“Apa perbedaannya, Pak?” tanya Tini yang terus memperhatikan.


“Lihatlah! Disini, di lantai basement ada sebuah ruang besar, yang sebelumnya digunakan untuk farmasi.”

__ADS_1


“Akan tetapi, setelah gedung itu di renovasi, tempat ini benar-benar sudah menghilang, entah itu hanya di hapus dari kerangka, atau memang mereka sudah menutup basement itu,” jelas Irul.


“Kemana perginya ruangan itu? Bukankah ruangan itu mempunyai luas ratusan meter persegi?” Joko ikut berpikir.


“Tepat. Kau benar. Ruangan itu sangatlah luas. Sepertinya ruangan itu telah benar-benar dihilangkan, dan mereka menghubungkan lantai 2 dan 3.” Irul mengarahkan kursornya ke ruangan lain.


“Jadi, kemungkinan ada lantai yang tersembunyi, bukan begitu?” sahut Joko.


“Kurasa itu mungkin saja.” Irul berdiri mengambil air mineral yang berada di dalam kulkas kecil miliknya.


“Tapi, menurut kerangka baru dari gedung itu, tak ada cara untuk masuk ke dalam ruangan yang tersembunyi itu,” sahut Tini yang terus melihat layar proyektor.


“Astaga. Benar, bukan? Aku juga berpikir seperti itu, Nona.” Irul tersenyum kecil pada Tini.


“Itu. Disana. Lift apa itu?” Joko menunjuk kerangka lift yang berada di pojok kerangka gedung.


“Sepertinya ini adalah lift barang,” jawab Irul.


“Seberapa sering mereka menggunakan lift itu?” lanjut Joko.


“Ah, benar. Bisa saja itu adalah lift untuk menuju ke lantai yang tersembunyi, tapi kalian harus memastikannya terlebih dahulu. Aku yakin mereka menggunakan sebuah kode untuk menuju ke tempat itu.”


***


Malam harinya, terlihat Joko dan Tini yang kembali ke Rumah Sakit Harjono untuk memastikannya kembali.


Joko menunggu Tini di dalam mobil, di parkiran, lalu Tini akan masuk dan mencoba menggunakan lift barang itu.


15 menit berlalu, Tini kembali ke dalam mobil dan memberitahukannya kepada Joko.


“Kurasa lantai tersembunyi itu benar-benar ada, Pak. Interval dari lantai basement dua sampai tiga, sangatlah berbeda dari lainnya. Aku merasakannya saat menggunakan lift itu tadi.”


Joko masih diam mendengarkan Tini dan melihat kamera pengawas dari lift itu yang berhasil diretas oleh Tini.


*KRIING!!!


Ponsel Joko berdering. Panggilan masuk dari Irul. Setelah mendengarkan informasi dari Irul, Joko meletakkan laptopnya dan keluar dari mobil.


“Tunggu disini sebentar! Aku akan menemui seseorang,” ucap Joko yang kemudian keluar dari mobil.


“Tunggu, Pak. Kau mau kemana?”


Joko terus melangkah tanpa menghiraukan Tini.


Tini yang berada di dalam mobil pun, mengambil laptop dan bergantian memantau kamera pengawas dari laptopnya.


Seorang wanita petugas rumah sakit terlihat dari laptop Tini, sedang memasuki lift itu.


Tini melihat, bahwa petugas itu menekan dua tombol, tombol menuju lantai dua, dan tombol menuju lantai tiga, secara bersamaan.


Saat itulah Tini menyimpulkan, bahwa itu adalah sebuah cara yang dapat ia gunakan untuk menuju lantai yang tersembunyi.

__ADS_1


__ADS_2