
Dan begitu cepatnya kabar itu tersebar ke seluruh orang yang berada di agensi, yang membuat keadaan di gedung agensi menjadi tak terkendali karena kabar itu.
Kabar ditahannya Joko dengan tuduhan percobaan pembunuhan itu menjadi topik pembicaraan bagi semua orang di agensi, dan para petinggi ARN pun yang juga membicarakan hal itu.
Malam hari itu juga, terlihat Aji yang sedang berada di ruangan Sugeng, sebagai direktur utama, sekaligus orang yang mempunyai jabatan paling tinggi di ARN.
Sebelum Aji datang, Bowo telah berada di ruangan Sugeng sebelumnya yang juga ikut membicarakan hal itu.
Aji datang dengan membawa berkas laporan tentang kondisi Joko, melaporkanya langsung pada Sugeng, karena Rina tidak meresponnya sama sekali, saat ia melaporkan tentang kondisi Joko saat ini.
Setelah membaca berkas laporan tentang Joko dari Aji, Sugeng kembali melepas kacamatanya, meletakkannya di atas meja.
“Hmmm. Jadi, dia sudah mengetahui semua ini sebelumnya?” tanya Sugeng.
“Benar, Pak. Aku sudah melaporkan, apa yang baru saja kau lihat, kepadanya,” ucap Aji.
“Tapi, dia tak melakukan apapun?” sahut Sugeng.
“Ya, Pak. Benar.”
“Dimana wakil komisaris Rina?” tanya Sugeng sambil menutup buku laporan tentang Joko.
“Dia sedang dalam perjalanan kemari, Pak,” jawab Aji.
“Astaga. Dia mengetahui bahwa Joko sedang tidak stabil, tapi mengabaikannya begitu saja. Kenapa dia melakukan itu? Kurasa dia mempunyai alasan untuk itu.”
“Benar. Begitupun denganku. Kurasa dia mempunyai alasan yang bagus untuk melakukan itu,” sahut Bowo.
“Mungkin saja dia menunggu Joko mengingat sesuatu yang menguntungkan baginya.”
“Izinkan aku untuk melanjutkan kasus ini, Pak. Aku akan menutup kasus ini secepat mungkin.”
Aji mengajukan dirinya untuk menutup kasus, Joko yang tersangka utama sebagai percobaan pembunuhan pada Yuli itu.
“Jadi, itukah alasanmu sebenarnya, kau ingin mengadakan rapat tanpa Wakil Komisaris Rina?”
“Benar, Pak. Aku ingin masalah ini selesai secepat mungkin.”
“Biarkan saja dia mengurusnya, Pak,” sahut Bowo yang berdiri dan bergabung bersama Aji dan Sugeng.
“Aku tahu bahwa Direktur Aji adalah orang yang paling mengenal Joko, dari semua para petinggi lainnya. Dia adalah orang yang tepat untuk mengurus kasus ini,” lanjut Bowo.
*TOK TOK TOK!!!
Pintu ruangan Sugeng diketuk oleh seseorang. Rina masuk dengan sedikit senyuman, setelah mengetuk pintu ruangan Sugeng. Rina juga membawa sebuah berkas yang berada di dalam sebuah stopmap.
__ADS_1
“Maafkan aku, semuanya. Aku agak terlambat kali ini.”
Rina membungkuk dan memberi salam pada semua orang yang ada di ruangan itu.
Seketika ruangan itu hening, setelah hadirnya Rina. Tak ada satu pun dari orang itu yang menyapa Rina atau memberinya salam kembali.
“Astaga. Apa kedatanganku mengganggu kalian?” ucap Rina dengan nada sedikit sinis.
“Astaga. Sudahlah. Aku sudah mendengar kabar ini dari semua mulut. Cukup sudah,” ucap Sugeng memegang kepalanya karena pusing memikirkan semua kejadian itu.
“Tidak, Pak. Itu hanya baru permulaan.”
Rina berjalan mendekati Sugeng yang sedang duduk di kursi, meja kerjanya.
“Kasus ini belum selesai, Pak. Motif Joko, cara dia melakukannya, dan bukti tidak langsung lainnya belum valid dan belum dapat dipastikan sepenuhnya. Kita harus melakukan penyelidikan sendiri,” saran Rina, membela Joko.
“Apa maksudmu? Ada rekaman kamera pengawas saat dia melakukan itu,” bantah Bowo.
“Cctv? Kau bilang kamera cctv? Bukan kau lebih tahu tentang hal itu? Cctv dapat dengan mudah direkayasa, kau seharusnya lebih tahu akan hal itu,” ucap Rina.
“Setelah peristiwa itu, hanya butuh kurang dari tiga jam, dan polisi pun segera mengamankannya. Tak mungkin ada yang bisa merekayasa atau merusak dalam waktu itu,” sahut Aji.
“Apa menurutmu begitu? Jika menurutmu begitu, apa kau bisa menjelaskan, kenapa Joko melakukan itu pada Yuli? Kau pernah pernah berkata padaku, kau sangat mengenal Joko.”
“Korban? Lantas, kenapa kau berada disini? Kau seharusnya memeriksa korban terlebih dahulu. Bukan begitu?”
Aji dan Rina malah berdebat di ruangan Sugeng dengan argumen masing-masing.
“ Wakil Komisaris Rina, aku tahu kau tidak mau mengakuinya, tapi ini bukan sesuatu yang bisa kau tutupi. Apa aku salah?” sahut Bowo yang juga mendebat Rina, mendukung Aji.
“Orang yang menutupinya bukanlah aku, tapi dirimu sendirilah yang menutupinya. Kenapa kau memutar balikkan fakta?” tegas Rina.
“Aku yakin pasti ada seseorang di balik ini semua. Kita harus menyelidiki ulang kasus ini,” lanjut Rina
“Cukup, Wakil Komisaris Rina!. Sudah cukup. Astaga. Kenapa kalian malah berdebat. Kalian membuatku semakin pusing.”
“Kenapa kau masih berdiri disitu, Aji? Lekas bawa Joko kemari!” perintah Sugeng.
Sugeng berdiri dari kursinya dan menghampiri Rina..
“Aku mengatakan ini untuk kebaikanmu. Jangan pernah mencoba untuk mencampuri kasus ini, sekalipun. Apa kau paham, Wakil Komisaris Rina?”
Sugeng, Bowo, Aji pun pergi meninggalkan Rina di ruangan Sugeng, sendirian.
Karena merasa diasingkan, Rina sangat marah, mengepalkan tangannya, saat mereka meninggalkannya.
__ADS_1
***
Pukul 12 malam tiba. Suara burung hantu mulai bermunculan dan bersahutan satu sama lain, dengan cahaya bulan sabit sempurna, yang berada di langit, menghiasi suasana malam itu.
Di kantor polisi, tempat ditahannya Joko, Aji bersama para agen lainnya, mendatangi kantor polisi tempat ditahannya Joko, untuk membawanya kembali ke agensi.
Mereka menggunakan 2 mobil van dan 1 mobil untuk Aji sendiri, saat menjemput Joko.
Sekitar 20 orang agen keluar dari mobil van dan menjaga di sekeliling kantor polisi dan sekitar mobil.
Seperti apa yang digunakan Joko pada umumnya, agen itu memakai setelan jas hitam, kemeja putih, dengan dasi hitam, membuat mereka tampak lebih gagah.
Aji menyuruh 3 orang untuk membawa Joko kembali menggunakan surat perintah yang telah dikeluarkan untuk mengambil alih masalah Joko.
Pihak kantor polisi tak bisa berbuat apapun dengan itu, karena tingkat dan jabatan semua orang di agensi lebih tinggi daripada polisi itu sendiri.
Beberapa saat kemudian, Aji melihat 3 orang agen lainnya sudah menjemput Joko, membawanya dari sisi kiri dan sisi kanan Joko, dengan tangan Joko yang terborgol.
Aji membutuhkan 20 orang anggota agen hanya untuk membawa Joko dari kantor polisi, karena ia mengetahui bahwa Joko adalah orang yang sangat berbahaya.
Aji sangat yakin, Joko dengan mudah kabur dari kantor, jika ia mau melakukan itu dan menggunakan semua keahliannya.
Joko masih menggunakan kemeja putih dengan bekas bercak darah Yuli. Joko berjalan mendekati Aji dengan lesu, mata yang memerah, karena mengalami kejadian buruk dalam satu hari penuh.
“Mari, Joko. Masuklah!” ucap Aji yang menyuruh Joko untuk masuk ke dalam mobil.
Aji menatap Joko dengan tatapan dalam, dapat merasakan apa yang sedang dialami Joko. Ia juga merasa sangat kasihan saat melihat Joko dengan kondisi yang cukup buruk.
Tiga mobil berjalan meninggalkan kantor kepolisian, mobil van yang membawa Joko memimpin jalan, mobil Aji berada di tengah, dengan satu mobil van lagi yang berada di belakang.
“Hentikan mobilnya di persimpangan jalan, tepat di depan kedai sup yang berada di sana.”
Joko menghubungi semua agen lainnya melalui walkie talkienya, untuk berhenti.
Tepat di tepi jalan, tiga mobil berhenti. Aji keluar dari mobilnya, menuju mobil yang membawa Joko.
Setelah melepaskan borgol di tangan Joko, Aji mengajak Joko untuk masuk ke dalam restaurant dan mengajaknya untuk makan.
Di depan kedai sup itu tertulis, KEDAI SUP PAK SAMSUL di pamflet yang cukup besar.
Beberapa agen lainnya berada di luar, berdiri di sekitar kedai sup dan menjaga situasi sekitar, untuk melindungi Aji dan Joko yang berada di dalam kedai.
Aji memesan 2 porsi sup tulang sapi jumbo dengan teh hangat untuk menghangatkan dirinya di malam itu.
Uap dari kuah sup terbang ke atas, membuat aroma sup itu tercium dari luar kedai.
__ADS_1