SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
056 - MENYELIDIKI YULI.


__ADS_3

“Apa yang terjadi padamu, Joko? Apa itu hanya semacam efek samping? Dokter yang merawatmu berkata padaku, bahwa itu bukan masalah besar, jadi, aku agak lega mendengar itu. Kau yakin baik-baik saja?”


Yuli terus bertanya memastikan keadaan Joko, seakan ia tak pernah menganggap kejadian itu.


“Ya. Aku tak apa. Maafkan aku, Yuli. Biarkan aku meminta maaf padamu,” ucap Joko.


“Tak apa, Joko. Kau tak perlu meminta maaf.”


“Tidak, Yuli. Bukan tentang itu, tapi tentang yang kukatakan padamu, saat aku tiba-tiba menyerangmu.”


Pertanyaan yang dimaksud Joko adalah, saat ia bertanya mengenai Budi dan seorang yang menerima panggilan darurat dari Beijing tiga tahun lalu.


“Apa maksudmu, Joko?” tanya balik Yuli.


“Dari caraku menuduhmu tadi,” Joko memperjelas dan memancing perkataannya tadi.


“Menuduh? Kau tak berkata apapun padaku, Joko. Apa yang kau katakan padaku?”


“Kau hanya mendorongku ke dinding mencekik leherku, dan saat Direktur Aji datang dan mendorongmu, lalu kau pingsan begitu saja, karena kepalamu yang terbentur dengan meja.”


Joko terdiam sejenak dan kembali mengingat kejadian di kantor Yuli. Joko terus berpikir, apakah itu terjadi atau hanya mimpi saat ia sudah tak sadarkan diri.


“Kenapa, Joko? Kau pasti ingin mengatakan sesuatu padaku.”


“Tidak. Aku hanya ingin bertanya padamu,” ucap Joko.


“Apa itu?” tanya Yuli.


“Apa kau…..”


*KRIING!!!!


Ponsel yang sedang di pegang Yuli tiba-tiba berdering. Joko yang berdiri di depannya pun dapat melihat bahwa panggilan itu berasal dari Rizal, Direktur divisi keamanan.


Yuli yang melihat bahwa Rizal menelponnya pun langsung membalikkan ponselnya dan mengabaikannya, agar Joko tak melihatnya. Tingkah laku Yuli seperti menyembunyikan sesuatu dari Joko.


“Bicaralah, Joko. Aku akan menelpon kembali nantinya,” ucap Yuli.


“Bukan apa-apa. Kau tak perlu cemas. Aku bisa bertanya lain waktu padamu.”


“Apa kau sudah menemukan jawaban atas pertanyaanmu sendiri?” tanya Yuli.


Joko mengangguk dan berkata,


“Sesuatu yang lain, mungkin semakin menarik bagiku sekarang.”

__ADS_1


“Hhh. Kau belum berubah sama sekali, Joko. Kau masih berbuat sesuka hatimu.”


*KRIING!!!!


Ponsel Yuli kembali berdering yang sepertinya itu telepon penting.


“Kau harus menjawabnya, Yuli. Itu pasti telepon penting,” ucap Joko.


Yuli hanya mengangguk, lalu pergi meninggalkan Joko.


Begitupun Joko yang juga pergi untuk kembali menemui Irul di tempat yang tak banyak dijangkau orang.


***


Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun bertemu kembali di atap gedung saat siang menjelang sore.


Irul membawa beberapa berkas informasi milik Yuli, seperti yang diminta oleh Joko saat pagi.


Irul juga melepas jas kantor yang ia pakai dan meletakkan jasnya di pagar pembatas, karena merasa cukup gerah di hari itu.


“Astaga. Sepertinya kita harus berhenti bertemu dengan cara seperti ini, Joko,” ucap Irul.


“Kenapa? Apa ada masalah?” tanya Joko.


“Tidak, bukan begitu maksudku. Aku tidak yakin bahwa ini hal yang tepat. Dahulu, dia adalah salah satu anggota di tim yang kau pimpin, tapi kini dia adalah atasanmu.”


Irul tertawa menghela nafas panjangnya, lalu memberikan berkas informasi itu kepada Joko.


Joko membuka amplop berisi berkas itu dan melihatnya satu persatu.


“Di skors? Apa dia pernah menjalani skors?” tanya Joko yang melihat riwayat kerja Yuli.


“Astaga. Kau tak bisa menilai buku dari sampulnya saja. Yuli sangat tidak puas dengan organisasi kita. Tiap memulai proyek dan tugas baru, dia terus mengirim laporan yang menjelaskan resiko tentang proyek itu,” jelas Irul.


“Maka itu, dia mendapatkan tindakan disipliner.”


Irul mengeluarkan permen dari kantong celananya dan memakan permen itu.


“Lantas, apa itu?” tanya Joko.


Joko melihat dan menunjuk pada berkas yang bertulis, ‘Beresiko tinggi, butuh terapi dan perawatan’.


“Itu sudah lama. Beberapa tahun lalu dia masuk dalam kategori agen yang mempunyai resiko tinggi dari evaluasi kejiwaan, jadi, dia menjalani beberapa evaluasi menyeluruh,” jelas Irul.


“Kenapa tidak ada catatan dia bertemu dengan dokter?” tanya Joko.

__ADS_1


“Ya. Itu memang agak aneh. Selain menemui terapis organisasi kita beberapa kali, dia tidak menemui psikiater lain.”


“Setelah kupikir, dia makin mengingatkanku pada seseorang.”


“Siapa itu?” tanya Joko.


“Ya tentu saja padamu. Apa kau tak menyadarinya? Kau belum pulih sepenuhnya, Joko. Dokter bahkan memvonis dirimu mengalami trauma yang sangat mendalam, yang membuatmu seperti bom waktu, yang bisa meledak kapan saja.”


Joko terdiam mendengar perkataan Irul yang memang benar adanya. Joko terus melihat lembaran itu satu persatu. Setelah ia melihat alamat tempat tinggal Yuli, Joko langsung menghafalnya dan berpamitan pada Irul.


“Baiklah. Kerja bagus. Terima kasih, Irul. Aku akan pergi dulu.”


Joko menepuk pundak Irul dan meninggalkannya di atap gedung.


“Sial!” umpat Irul yang kesal karena Joko meninggalkannya begitu saja.


***


Di sebuah apartemen, terlihat Joko yang sudah berada di dalam mobil yang terparkir di apartemen itu.


Joko kembali melihat berkas yang telah diberikan Irul untuk memastikan, apakah itu benar apartemen milik Yuli atau bukan.


Setelah memastikannya, Jo keluar dari mobil dan masuk ke dalam apartemen.


Sepertinya Joko akan menggunakan waktu di sore hari itu untuk masuk dan menyelinap ke apartemen Yuli, saat Yuli masih berada di kantor.


Sesampainya di depan pintu apartemen, Joko kembali menggunakan keahliannya untuk membuka sebuah pintu yang terkunci menggunakan kode akses.


Joko membuka ponselnya dan menyalakan fitur senter yang membuat tombol angka itu mengeluarkan bekas jari.


Akhirnya Joko pun berhasil mendapatkan kode akses dan pintu apartemen pun terbuka untuknya.


Apartemen tempat tinggal Yuli sangatlah luas dan mewah, terdapat tanaman hias dan tanaman asli yang tertata rapi di dekat jendela apartemennya.


Joko pun mulai melihat sekelilingnya dan mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mencari tahu lebih dalam.


Karena tak menemukan apapun di ruang tamu, Joko berpindah masuk ke dalam kamar Yuli yang saat itu terbuka.


Di dalam kamar Yuli, Joko menggeledah lemari, laci dari semua yang ada di dalam kamar.


Joko menemukan sebuah obat untuk gejala stres dan depresi di laci. Joko mengetahui bahwa obat stress dan depresi itu diperoleh tanpa resep sama sekali dari dokter atau rumah sakit mana pun.


Joko juga melihat foto Yuli yang sedang berpose, dengan latar belakang yang berada di pantai Kuta.


Saat Joko membalik foto itu, tertera tanggal dan tahun waktu foto itu diambil.

__ADS_1


“Itu jauh sebelum El dan Al bergabung dengan agensi,” gumam Joko dalam hatinya saat melihat tanggal dan tahun itu memanglah cukup jauh dari waktu El bekerja di ARN.


Sedangkan, Yuli baru bertemu dan berkencan dengan El, saat El masuk dan bergabung dengan agensi.


__ADS_2