SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
081 - JOKO MENGHAPUS INGATANNYA SENDIRI.


__ADS_3

Saat petugas itu kembali ke dalam lift, Tini bergegas kembali masuk ke dalam rumah sakit dan menuju lift itu.


Setibanya Tini di depan lift, pintu lift pun terbuka. Tini mengeluarkan alat setrum dan menyetrum petugas, saat ia akan keluar dari lift itu.


“Aduh. Bagaimana ini?” Tini kebingungan, bagaimana ia akan memindahkan petugas wanita yang langsung tak sadarkan diri, karena setruman itu.


Akhirnya, Tini pun menyeret petugas itu ke dalam sebuah kamar mandi wanita yang berada di lantai utama.


Tini juga mengambil jas putih milik perawat serta kartu tanda pengenalnya.


Tini terlihat seperti seorang perawat sungguhan saat ia mengenakan pakaian milik perawat itu.


Tini keluar dari toilet, seolah tak terjadi apa-apa, lalu kembali menuju ke dalam lift untuk melakukan apa yang telah ia lihat sebelumnya.


Tini menggunakan kartu identitas yang telah ia ambil, menempelkannya di sensor lift, lalu menekan kedua tombol, lantai dua dan lantai tiga secara bersamaan.


Beberapa saat kemudian, pintu lift pun terbuka, tepat di lantai yang disembunyikan di gedung itu.


Tini melangkah keluar dan melihat sekelilingnya yang hanya terdapat satu lorong. Lorong itu cukup panjang, dengan kamar pasien yang berada di sepanjang lorong itu.


Di setiap pintu, terlihat nama dan identitas pasien yang berada di dalam kamar.


Tini terus berjalan menyusuri lorong yang sangat gelap, untuk mencari keberadaan Syahid


***


Di tempat lain, terlihat Joko yang sedang bertemu dengan Tri di kantor ARN.


Sebelum Joko bertemu menemui Tri.


Joko pergi menemui Tri, karena mendapat kabar dari Irul. Irul mengatakan, bahwa zat kimia yang berada di tubuh Joko, yang telah membuatnya kehilangan ingatan, itu berasal dari dokter yang telah merawatnya, setibanya Joko kembali.


Begitu juga dengan dokter psikolog yang mengobati Joko, setibanya Joko kembali setelah menghilang.


Joko mendesak dokter itu untuk mengatakan, siapa yang telah menyuruhnya untuk memberikan zat itu di tubuh Joko. Karena tak mempunyai pilihan lain, dokter itu pun berkata jujur pada Joko.


Bahwa Tri adalah orang yang menyuruhnya.


Di kantor Tri.


Joko yang sangat gegabah dan ingin tahu kebenarannya pun langsung mendesak Tri, untuk mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


Joko berdiri di depan Tri yang sedang duduk di kursi mejanya.


“Ada apa? Kenapa kau kemari?” tanya Tri yang melihat Joko langsung masuk ke dalam ruangannya.


“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Joko.


“Apa maksudmu? Aku tak mengerti,” jawab Tri.


“Aku sudah tau semuanya, jadi, katakan saja. Kenapa kau melakukan itu?”


“Astaga. Aku masih benar-benar tak mengerti, apa maksudmu.”


Tri masih menyangkal, karena tak tahu, apa maksud Joko.


“Obat kimia yang telah menghapus semua ingatanku. Aku sudah tahu, bahwa kau lah yang menyuruh psikiater itu untuk mengeluarkan obat itu. Kau juga orang yang mengirimiku video itu, bukan?”


“Video dimana aku berbicara sendiri, mengatakan bahwa ada pengkhianat di agensi kita,” jelas Joko.


Tri meletakkan pulpen yang sedang ia pegang, lalu berdiri, melangkah mendekati Joko, saat ia menyadari, bahwa itulah maksud Joko.


“Apa semuanya sudah kembali?” tanya Tri pada Joko, yang tak mengerti maksud Tri. “Maksudku adalah ingatanmu. Apa semuanya telah kembali?”


Joko hanya diam saat Tri bertanya tentang ingatannya.


“Kau sungguh tidak ingat apapun?” tanya Tri yang membuat Joko semakin bingung dengan semuanya.


“Sial!” Tri melangkap maju, semakin mendekat Joko, menatap matanya, dan berkata,


“Aku melakukan segalanya, Joko, karena kau sendirilah yang menyuruhku untuk melakukannya. Tidak. Kau tak menyuruh, tapi kau memaksaku untuk melakukan itu semua. Kau sungguh masih tak mengingatnya,” ucap Tri.


Joko hanya diam dan berusaha memikirkan apa yang telah terjadi padanya. Terlintas di kepala Joko beberapa ingatannya yang mulai kembali perlahan, karena itu.


Tri duduk di sofanya dan mulai bercerita,


“Sekitar 5 bulan sebelum kau kembali. Saat itu aku sedang terlelap, dan tiba-tiba saja aku mendapat telepon darimu, yang kukira kau sudah mati, saat itu.”


“Butuh waktu lama bagiku, untuk mengenali suaramu saat kau menelponku secara tiba-tiba. Saat mendengar suaramu, aku merasa seperti mendengar suara dari malaikat penjaga neraka.”


“Karena aku tak pernah membayangkan akan mendengar suaramu lagi saat itu. Setelah itu, kau memintaku untuk datang ke Beijing, tanpa sepengetahuan siapapun.”


“Tidak. Kau tidak memintaku. Kau menyuruh dan bahkan mengancamku dengan fakta bahwa aku menggelapkan dana agensi saat itu, dan aku pun tak bisa untuk menolakmu, untuk tak datang.”

__ADS_1


“Setibanya aku di tempat persembunyianmu, aku merasa iba, kau harus tinggal di tempat yang kotor dan kumuh, tempat para pemulung di negeri itu berada.”


“Kau juga menodongkan pistol padaku, saat aku baru masuk ke dalam tempat persembunyianmu.”


“Bukan hanya itu, kau juga menyiksaku dengan memasukkan semua kepalaku ke dalam bak air, hingga membuatku kesulitan untuk bernapas, lalu kau memukulku dengan membabi-buta.”


“Kau bertanya padaku, apakah aku berkaitan dengan insiden tiga tahun lalu, dan apakah aku tidak memberi tahu agensi tentang telepon darimu. Kau terus bertanya padaku tentang hal itu, sampai kau merasa puas.”


“Kau sudah seperti orang gembel saat itu. Dengan rambut gondrongmu yang tak pernah diurus, botol-botol miras yang tertumpuk di pojokan, serta dinding kamar yang kau coret-coret hanya untuk mencari seorang pengkhianat itu.”


“Tiga tahun lamanya, kau telah menjadi pria yang sangat berbeda.. Kau telah menjadi hewan buas yang kejam. Kau dikuasai rasa marah dan dendam.”


“Aku masih tak bisa melupakan tatapan matamu saat itu. Tatapan mengerikan yang kau punya, membuat semua orang mengira kau akan membunuh siapapun.”


“Kau menyuruhku melakukan perintahmu, kecuali aku ingin mengundurkan diri secara tidak terhormat dan kau juga memastikan aku bertindak sesuai dengan keinginanmu.”


Akhirnya, Tri mulai berkata jujur, tentang apa yang sedang dialami olehnya. Joko telah menghapus ingatannya sendiri karena ia ingin mencari pengkhianat itu dan membunuhnya.


“Jadi, selama ini kau….”


“Kau benar, Joko. Semua itu perbuatanku,” Tri memotong perkataan Joko yang membuatnya terdiam.


“Kenapa? Apa kau masih tak mempercayaiku? Aku lah yang telah mengatur kapal sindikat perdagangan organ tubuh manusia itu, yang membawamu kembali ke Indonesia.”


“Aku tahu kau dapat membantai semua anggota sindikat itu. Aku juga memastikan, kapan kapal itu tiba di pantai.”


“Loker di toserba, dan diska lepas berada di sebelah guci abu mendiang orang tuamu, juga kode projek FAKE FACE, yang aku letakkan di laptop Tini.”


“Aku lah yang melakukan itu semua hanya untuk membantumu, dan mengembalikan ingatanmu.”


“Apa itu cukup untuk membuatmu percaya padaku?” ucap Tri setelah bercerita semua yang telah terjadi.


“Entahlah. Bukankah kau membayar terlalu banyak, karena mencuri uang dari anggaran?” ucap Joko yang masih belum percaya sepenuhnya.


“Hhh. Sudah kuduga. Kau belum percaya padaku sepenuhnya, walau aku sudah mengatakan semua hal dengan jujur.”


“Dengarkan aku, Joko! Saat itu, anak sulungku sedang sakit keras, lalu aku lepas kendali dan mencuri uang anggaran itu untuk membayar tagihan rumah sakit.”


“Akan tetapi, aku tidak sekotor dugaanmu. Aku adalah agen ARN yang telah mengabdikan dan mendedikasikan hidupku untuk negara ini.”


“Setelah kejadian yang menimpa, kau, Al, dan El, aku tak pernah tidur dengan tenang sejak saat itu.”

__ADS_1


“Aku juga ingin mengungkap pengkhianat, sama sepertimu. Mereka harus bertanggung jawab atas semua pembunuhan rekan-rekanku.”


Suasana pun hening sejenak di ruangan itu. Dengan Joko yang masih terus berpikir.


__ADS_2