SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
065 - JOKO MELEPASKAN DIRI.


__ADS_3

Joko hanya duduk dan masih diam, tak mengeluarkan sepatah katapun. Hanya memandangi makanan yang telah dihidangkan di mejanya.


“Ini mengingatkanku pada masa itu, Joko,” ucap Aji yang menuangkan teh di gelas Joko.


“Saat kau pulang dari Pakistan setelah menyelesaikan tugasmu disana, aku membawakanmu semangkuk sup tulang sapi, lalu kau melahapnya dengan cepat.”


“Astaga. Sebelumnya, aku tak pernah melihatmu makan terburu-buru seperti saat itu.”


Aji tersenyum dan menceritakan kembali kisah lama.


“Maafkan aku, Joko. Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu.”


Joko menghela nafas panjang dan bertanya,


“Bagaimana keadaan Yuli sekarang?”


“Dia belum siuman. Sebelum menjemputmu, aku telah menjenguknya di rumah sakit.”


“Yuli selalu bilang, bahwa dia berhutang kepadaku. Dia sangat menyesal. Itu membuatku cukup sedih. Aku merasa, jika aku lah yang berhutang padanya, bukan sebaliknya.”


Joko menunduk dan kembali diam setelah mendengar jawaban dari Aji.


“Joko! Lakukanlah semua yang kau bisa untuk bertahan, agar aku bisa bertahan untukmu juga.”


Joko mengangkat kepalanya dan,


“Pak, Aji! Kenapa kau tak menanyakan apapun kepadaku, mengenai masalah ini? Kenapa kau tak bertanya, apakah aku yang menembak Yuli?”


Aji terdiam sejenak dan,


“Makanlah sup nya, Joko. Jika dingin rasanya akan menjadi tidak enak.”


Aji mengalihkan pembicaraan itu agar Joko tak terus memikirkannya.


Joko pun segera mengambil sendok dan mengambil nasi sebanyak-banyaknya, lalu melahap semua sup dan nasi dengan porsi jumbo sampai tak menyisakan satu butir nasi atau kuah sup pun di atas piring.


Setelah menghabiskan makanan, Aji kembali menyuruh beberapa agen, untuk masuk dan membawa Joko kembali masuk ke dalam mobil.


4 agen pun kembali memasangkan borgolnya ke tangan Joko, lalu menuntunnya kembali ke mobil.


Sebelum memasuki mobil van,


“Tunggu sebentar.”

__ADS_1


Agen lainnya pun berhenti saat Aji memberi perintah mereka.


Aji mendatangi Joko yang akan masuk ke dalam mobil. Dan betapa terkejutnya semua agen yang berada disana.


Aji berjongkok, lalu membenarkan ikatan tali sepatu Joko yang terlepas. Hal itu sangat membuat semua agen lainnya terkejut dan semakin meyakinkan bahwa Joko bukanlah agen biasa, sama seperti mereka saat ini.


Joko melihat sebuah pistol di ikat pinggal Aji saat ia membenarkan tali sepatunya. Joko juga kembali mengingat perkataan Yuli yang belum sempat ia selesaikan, saat ia menyebut Aji, dan berpesan untuk tak percaya kepada siapapun.


Mobil van pun berlalu pergi dari kedai itu, membawa Joko kembali.


Kini, mobil van yang membawa Joko berada di belakang mobil Aji dengan agen yang menjadi sopirnya.


Setelah makan dan mendapatkan tenaganya kembali, Joko kembali berniat untuk melumpuhkan semua agen di dalam mobil yang membawanya.


Di dalam mobil van itu terdapat 3 orang agen yang menjaga Joko. Satu orang untuk mengemudi, dua lainnya menjaga Joko di kursi belakang mobil.


Joko memulai dengan menyikut kepala dan perut satu orang yang disebelahnya dan menendang satu lainnya yang berada di depan.


*PYARR!!!!


Kaca mobil van pecah, bersama salah satu agen yang terjatuh keluar dari mobil, akibat menerima tendangan keras dari Joko.


Kini tinggal hanya 2 orang agen tersisa. Joko membogem salah satu agen yang akan menyerangnya, mengganti posisinya dari balik badan agen itu, lalu mencekiknya dengan borgol, hingga tak sadarkan diri.


Dengan kedua tangan yang masih terborgol, Joko mengambil pistol yang berada di jok mobil, menodongkannya pada sopir yang mulai ketakutan, karena Joko telah menghabisi semua rekannya.


Agen yang membawa mobil itu ketakutan, mengikuti perintah Joko, karena tak mempunyai pilihan lain.


Saat mobil van menyalip mobil Aji dengan kencang, Aji langsung menyadari bahwa Joko kembali berulah dan berhasil mengambil alih mobil itu, yang membuat Aji menyuruh sopirnya untuk menambah kecepatan, menghentikan Joko di dalam mobil van.


Mobil yang dikendarai Aji pun dapat kembali menyalip ke depan, karena ukurannya lebih kecil, sehingga dapat lebih cepat dari mobil van berukuran besar.


Mobil Aji memutar dan berhenti untuk menghadang mobil van yang telah dikuasai Joko.


*BRAKKK!!!!


Lagi-lagi Joko mengalami kecelakaan untuk kedua kalinya dalam satu hari, karena ia tetap menyuruh sopir mobil van untuk tak menginjak rem sama sekali.


Mobil Aji berputar dan menabrak trotoar pembatas jalan, sedangkan mobil van yang menabraknya pun terguling, dan terseret.


Di dalam mobil van, Joko dengan tangan yang masih terborgol berusaha untuk keluar dari mobil yang terguling itu.


Berbeda dengan kedua agen yang sudah tak sadarkan diri akibat kecelakaan yang cukup parah.

__ADS_1


Dengan darah dari kepala Joko terus mengalir, Joko terus berusaha untuk keluar dari dalam mobil yang terguling.


Bukan hanya kepala Joko yang terluka, bagian perut Joko banyak mengeluarkan darah yang membuat Joko berdiri dengan sempoyongan, karena itu.


Joko mengambil kunci di saku jas milik salah satu agen yang terdampar dari kaca depan, lalu membuka borgol di tangannya.


“ARGGHHH!!!”


Joko mengerang kesakitan, merasakan sakit di bagian kepalanya, akibat benturan yang baru saja ia alami.


Di dalam isi kepalanya ia kembali mengingat sekilas peristiwa yang pernah terjadi padanya. Satu per satu ingatan Joko yang hilang kembali melintas di kepalanya.


Dengan membawa pistol di tangannya, perlahan Joko berjalan menuju ke mobil Aji yang juga terdampar.


Begitupun dengan Aji yang juga keluar dari dalam mobilnya, saat Joko berjalan mendekati mobilnya yang terhenti di pinggir trotoar.


Saat Aji menyadari Joko membawa pistol dan menghampirinya, dengan cepat Aji mengambil pistolnya di ikat pinggang, dan,


*DOR! DOR!!


Joko lebih dulu menembak Aji, sebelum Aji sempat mengambil pistol dari ikat pinggangnya.


Joko memberikan dua tembakan, satu peluru mengenai kaca mobil belakang Aji, tembakan kedua Joko sengaja menembak sedikit dari lengan Aji.


Lengan Aji pun tergores dan mengeluarkan sedikit darah akibat ditembak oleh Joko.


Joko terus berjalan dan menodongkan pistolnya, mendekati Aji yang masih terdiam sembari melihat luka di lengannya sendiri.


“Apa kau sungguh berpikir bahwa aku menembak Yuli?” tanya Joko yang sudah menodongkan pistol tepat di kepala Aji.


“Cukup, Joko. Aku tak mau kehilangan dirimu juga. Berhentilah, dan ikutlah denganku,” ucap Aji.


Joko menurunkan pistolnya, melihat isi peluru yang tinggal satu butir.


“Aku meninggalkan satu peluru disini. Jika kau masih tak mempercayaiku saat kita bertemu lagi, atau detik ini juga, kau bisa menembak kepalaku dengan ini. Ambillah!”


Karena Aji hanya diam dan tak mau mengambilnya, Joko meletakkan pistolnya di aspal, lalu berjalan pergi meninggalkan Aji.


“Berhenti! Hei! Joko!!! Apa kau mendengarku? JOKO!!!!”


Aji berteriak memanggil Joko untuk kembali, tapi Joko terus berjalan dengan sisa tenaga tanpa memperdulikan Aji.


*DORR!!!

__ADS_1


Suara tembakan terdengar saat Joko sudah berjalan jauh. Tembakan itu mengenai Aji yang membuat Aji jatuh tersungkur.


Entah darimana asal dan siapa orang yang menembakkan itu padanya. Kejadian itu sama persis dengan kejadian Yuli sebelumnya.


__ADS_2