
Pukul 02.00 dini hari, Joko mendatangi sebuah rumah dan mengetuk pintu rumah itu.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pintu rumah itu terbuka. Ternyata rumah itu adalah rumah Tini. Joko sengaja mendatangi rumah Tini karena ia tak punya tujuan lain.
Semua agen pasti sedang mencarinya di apartemen, maka itu ia pergi ke rumah Tini.
Tini sangat terkejut melihat Joko yang datang ke rumahnya dalam kondisi yang sangat buruk.
Dahi Joko penuh dengan darah, dengan tangan Joko yang masih menahan luka di perutnya, agar tak mengeluarkan banyak darah.
“Astaga, Pak. Apa yang terjadi denganmu? Masuklah, aku akan keluar untuk membelikan obat untukmu di apotik terdekat.”
Tini membantu Joko dengan merangkulnya, membawanya duduk di sofa ruang tamu.
“Tunggu sebentar, Pak. Aku akan segera kembali.”
Setelah Tini keluar dari rumah, Joko yang sedang terluka pun menyempatkan dirinya untuk mencari tahu, apa yang sedang disembunyikan Tini darinya.
Setelah berjalan dan memutari kediaman Tini, sampai lah Joko di basement milik Tini. Joko melihat sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka.
Joko cukup terkejut saat melihat foto dirinya yang terpampang di dinding, di dalam ruangan itu. Ia juga melihat, berkas-berkas dan artikel lainnya di dalam ruangan itu.
“Apa ini?” gumam Joko dalam hatinya.
Suara mobil Tini terdengar dari dalam basement, pertanda Tini telah kembali ke rumahnya.
Joko segera kembali naik ke atas untuk menanyakan hal itu pada Tini.
Saat Tini masuk ke dalam rumah dengan beberapa obat yang telah ia beli untuk Joko, Joko datang dari tangga dan langsung mendorong Tini, memojokkannya ke dinding.
Joko mencekik leher Tini, tapi tak mengeluarkan semua kekuatannya, hanya untuk menahan Tini agar tak bisa kabur.
Joko merasa marah karena Tini telah berbohong darinya selama ini, tentang alasannya bergabung dengan Joko.
Walau Joko hanya menahannya, Tini tetap kesakitan dan mencoba melepaskan tangan Joko dari lehernya.
“Apa yang kau lakukan, Pak?”
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Joko yang masih tak melepaskan tangannya dari leher Tini.
“Apa maksudmu, Pak? Aku tak mengerti apa maksudmu.”
“Ruang di basement rumahmu. Jelaskan padaku tentang ruangan itu!”
“Untuk apa? Kenapa aku harus menjelaskannya padamu? Au sudah mendengar apa yang terjadi kepada Kepala Yuli. Kau tak pantas mendapatkan penjelasan dariku saat ini.”
Tini tak mau menjawab dan masih berusaha melepaskan tangan Joko dari lehernya.
“Jawab saja pertanyaanku!!!” bentak Joko.
__ADS_1
“Tidak, Pak. Aku berhak mendapatkan penjelasan darimu dulu.”
Tini masih kekeh tak mau menjawab dan balik meminta penjelasan dari Joko
*BUK!!!
Joko memukul dinding, tepat di samping kepala Tini, yang membuat Tini cukup terkejut.
“Pak! Sakit! Lepaskan aku!”
“Aku akan melepaskannya setelah kau menjawab.”
“AYAHKU!!!”
Tini berteriak dan akhirnya menjawab pertanyaan dari Joko, karena tak mau Joko menyakitinya.
Joko pun melepaskan tangannya dari leher Tini. Begitupun dengan Tini yang langsung batuk-batuk, memegangi lehernya, karena Joko mencengkramnya.
“Ayahmu?” tanya Joko yang penasaran.
“Ayahku adalah seorang agen sama seperti kita. Dia juga merupakan agen hitam yang pernah bekerja untuk agensi kita, mungkin jauh sebelum kau bergabung dengan agensi.”
“Dia menghilang saat aku masih berada di Amerika dan duduk di bangku SMA kelas 10.”
“Ayahku mempunyai nasib yang sama sepertimu, Pak. Dia menghilang saat bertugas di Beijing, China. Aku mengajukan permintaan resmi berkali-kali, tapi aku hanya menerima jawaban yang sama setiap harinya.”
“Aku juga mendengar rumar bahwa kasus itu ditutup begitu saja, dan mengeluarkan rumor bahwa ayahku telah meninggal akibat bunuh diri.”
“Itukah, alasanmu mau bekerja denganku?” tanya Joko.
“Benar, Pak. Aku berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang kasus ayahku.”
“Saat aku menyadari bahwa metode ku memiliki batasan, kaku muncul dan bertemu denganku menjadi satu partner.”
Joko menyandarkan badannya ke tembok. Menghela nafas panjang.
“Lantas, apa kau sudah menemukan sesuatu?”
“Belum, Pak. Aku belum menemukan apapun,” jawab Tini.
“Sekarang giliranku, Pak. Ini tentang Kepala Yuli. Kau tak sungguh menembaknya, bukan?”
“Kenapa kau menanyakan hal itu? Apa kau tak tahu? Kamera cctv dengan jelas merekam, aku telah menembak Yuli di trotoar.”
“Aku sudah melihatnya, Pak. Akan tetapi, aku tak yakin kau melakukan itu, dan bertanya langsung padamu.”
“Entahlah. Semuanya samar seperti kabut dalam ingatanku. Aku tak yakin, sisi yang mana diriku sebenarnya.”
“Apa kau sungguh tak ingat apapun? Cobalah untuk mengingatnya kembali, Pak.”
__ADS_1
Tini terus mendesak Joko untuk mengingat kembali, tanpa mengetahui kondisi apa yang sedang dialami Joko.
“Kurasa aku melihat seorang pria mencurigakan di lokasi penembakan.”
“Apa kau yakin?” tanya Tini yang bersemangat.
Joko pun hanya menganggukkan kepalanya.
“Itu bagus. Begitu kita menemukan orang itu, kita bisa menggali informasi lebih dalam lagi.”
“Baiklah kalau begitu.”
Saat Joko akan berjalan.
*BRUKK!!!
Joko terjatuh di lantai, saat akan beranjak kembali ke sofa, karena badannya yang sudah mulai lemas.
“Astaga. Hati-hati, Pak.”
Tini merangkul Joko dan membantunya kembali ke sofa.
“Bagaimana kalau kau berbaring? Aku akan mengobati lukamu. Aku juga bisa menjahit beberapa lukamu dengan alat seadanya.”
Karena tak punya pilihan lain, Joko akhirnya berbaring di sofa dengan Tini yang mengobati luka di perutnya.
“Mungkin ini akan terasa sakit, karena aku tak punya cukup obat untuk membiusnya. Bertahanlah, Pak. Akan sulit untukmu, jika kau kehilangan kesadaran.”
Perlahan, Tini mengobati luka di perut Joko dan mulai menjahitnya.
Dengan sekuat tenaga, Joko menahan rasa sakit itu, agar tak membuat Tini kesulitan.
Jahitan terakhir pun hampir selesai, Tini segera mempercepat gerakannya.
“Apa yang terjadi padamu, Pak? Kenapa kau bisa sampai seperti ini?” tanya Tini yang tak tega melihat kondisi Joko saat itu.
Joko hanya diam tak menjawab apapun, karena seluruh tubuh Joko berkeringat karena kesakitan menahan rasa sakit yang sedang ia alami.
Mata Joko pun mulai sayup-sayup hampir kehilangan kesadarannya,ia hanya mampu mendengar suara Tini, tanpa mampu menjawabnya kembali.
Setelah selesai menjahit luka Joko, Tini bergegas untuk merapikan kembali peralatan dan semua obat itu, lalu pergi mengambil sesuatu.
Tini kembali dengan membawa setelan pakaian pria untuk Joko.
“Ini milik ayahku. Kau bisa mengganti bajumu dan memakainya, saat kau sudah kuat untuk melakukan itu.”
Saat Tini meletakkan pakaian itu di meja, Joko menarik tangan Tini mendekatkan padanya, seakan menyuruh Tini untuk memeluk Joko.
Tini hanya diam tanpa menahan atau menolak saat Joko menarik tangannya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat menatap Tini, Joko akhirnya tertidur dan melepaskan tangannya dari lengan Tini.
Tini tak bisa berkata apapun, ia hanya berdiri dan menatap Joko, mengambil tisu, lalu mengusap wajah Joko yang sangat berkeringat.