
Tini sangat yakin bahwa itu semua adalah ulah Joko seorang diri. Tini sangat kagum dan dibuat terkejut, bahwa Joko mampu melakukannya seorang diri dan membantai habis anak buah Sulistyo yang berada di markas itu.
“Astaga. Dia bukan sembarangan orang. Dia adalah monster,” ucap Tini yang terkejut melihat banyak mayat yang tergeletak.
Saat itulah Tini menyadari bahwa Joko partner kerjanya sendiri, bukanlah sembarangan orang. Melainkan monster mengerikan dan Tini pun baru menyadari hal itu.
Ia segera memanggil pertolongan dari ambulan serta badan forensik untuk mengurus markas itu.
***
Pagi hari esoknya, semua media pun telah meliput insiden tadi malam, dari surat kabar, stasiun Tv, dan media lainnya.
Begitu pun dengan layar Times Square yang meliput berita itu, seorang reporter wanita muncul dari layar dan membawakan berita itu.
“Berita baru pagi ini! Kartel narkoba internasional yang mengelola lab sabu-sabu dalam skala besar, berhasil ditemukan di griya tawang hotel Gajah Mada.”
“Narkoba yang disita di TKP cukup untuk 1.000.000 orang sekaligus. Kartel narkoba itu memakai metoda baru yang tidak menimbulkan kecurigaan selama produksi berlangsung.”
“Begitupun dengan pihak hotel yang tidak tahu menahu soal lab sabu-sabu itu.”
__ADS_1
“Menurut penyelidikan polisi, sebelum memasuki Indonesia, mereka telah memesan hotel untuk membuat narkoba sebelum tiba dan membagi peran, melakukan kejahatan yang tersebar di seluruh negeri.”
Semua masyarakat sosial yang akan pergi bekerja dan beraktivitas pun dapat melihat berita itu.
Beralih di kantor ARN, terlihat Joko yang sudah berada di dalam ruangan Rina untuk kembali bekerja setelah kembali dari cutinya.
Kondisi Joko terlihat sangat buruk karena kejadian yang ia alami semalam, dan begitulah Joko, ia tetap memaksakan dirinya sendiri walau kondisinya yang cukup buruk.
Dengan sisa lebam dan beberapa perban yang berada di bagian wajah, leher dan tangannya, Joko duduk di sofa ruangan Rina dan menunggu kedatangan Rina.
Beberapa saat kemudian, Rina pun datang ke ruangannya dan menemui Joko yang telah menunggunya.
“Hei! Kau sudah kembali, Joko?” sapa Rina yang baru membuka pintu dan melihat Joko duduk di sofa.
“Maafkan aku, Joko. Apa kau menunggu lama? Bagaimana kabarmu? Kau menikmati cuti sakitmu?” tanya Rini yang berbasa-basi dan berjalan menuju meja kerjanya.
“Ya, Bu,” jawab Joko.
“Astaga. Padahal aku menyuruhmu untuk beristirahat, tapi kondisimu tampak lebih buruk sepertinya. Apa terjadi sesuatu padamu?”
__ADS_1
“Tidak, Bu. Ada urusan pribadi yang harus aku selesaikan.”
Rina pun tersenyum pada Joko., lalu membuka laci mejanya dan mengambil pistol dan kartu identitas Joko sebagai agen.
“Ini milikmu. Kau boleh pergi dan selamat bertugas kembali, Joko!”
Joko mengambil kembali miliknya menunduk pada Rina, lalu pergi dari ruangan itu.
“Aku permisi, Bu!”
“Ya. Silahkan.”
Setelah Joko pergi dari ruangan, Rina menyalakan komputernya dan melihat beberapa file video.
Ternyata video adalah rekaman cctv yang berada di markas Sulistyo. Rina melihat Joko membabi buta dan membunuh semua anak buah Sulistyo secara brutal.
Rina tersenyum karena ia sebenarnya mengetahui bahwa Joko sudah berhasil melakukan itu sendirian, tapi ia hanya berpura-pura tak mengetahui saat bertemu dengan Joko.
Rina pun menghapus semua rekaman cctv itu agar tak ada seorang pun yang mengetahui apa yang dilakukan Joko.
__ADS_1
Berpindah di tempat Tri, terlihat ia sedang merayakan atas ditemukannya markas kartel narkoba yang besar itu.
Tri dan anak buahnya sedang minum bir bersama untuk merayakan itu semua tanpa tahu bahwa Joko seorang diri lah yang mengungkap itu ke publik.