
Imron berdiri menendang salah satu anak buah Putra hingga terjatuh, lalu berusaha menyerang Putra.
Akan tetapi, usaha Imron hanyalah sia-sia. Kedua tangannya terikat dan beberapa anak buah Putra lainnya telah menendang, kembali membuatnya berlutut.
“Belum terlambat untukmu, Imron. Kau tak boleh menyia nyiakan hidupmu, dan bergabunglah bersamaku. Kau tak bisa mendapatkan harapan apapun pada agensi busuk itu.”
“Bergabung denganmu? Konon, seseorang yang berada terlalu lama di dalam kegelapan, dia akan lupa, siapa dia sebenarnya.”
“Maka itu, sebelum aku lupa siapa diriku, aku lebih suka untuk berhenti dari semuanya.”
Imron yang sangat terpojok pun tetap tak mau bergabung dengan Putra, memilih dengan pendiriannya.
“Hhh. Kau sangat menyedihkan, bocah tengik.”
“Kau tak perlu mengasihaniku. Aku tak butuh itu darimu.”
Putra hanya tersenyum sinis, memberi kode beberapa anak buahnya untuk segera mengeksekusinya.
***
Keesokan harinya di pagi yang cerah, semua perkataan Sulistyo pada Imron benar-benar terjadi, mengenai, apa yang akan Imron hadapi, jika ia terus mencari keberadaan Putra.
Di sebuah papan iklan yang cukup tinggi, terlihat mayat Imron yang tergantung di papan itu. Imron tergantung di tengah-tengah padatnya kota Jakarta, hingga semua orang pun dapat melihat kejadian itu.
Kabar itu sangat cepat menyebar, hingga semua orang di agensi pun mengetahui kabar itu.
Berpindah di ruang kerja Rina. Terlihat Tri yang sedang berada di ruangan Rina untuk melaporkan sesuatu.
“Kau harus melihat ini, Bu. Seseorang tanpa identitas telah mengirimnya ke agensi.”
Tri memberikan tabletnya, menunjukkan sebuah rekaman video pada Rina. Video itu adalah rekaman asli yang membuktikan bahwa Joko bukanlah pelaku dari insiden penembakan Yuli.
Rina yang melihat rekaman asli pun bertanya-tanya, dari mana dan siapa yang telah mengirim rekaman asli itu.
“Apa kau belum menemukan orang yang mengirimkan ini?” tanya Rina.
“Belum, Bu. Orang yang mengirimnya menggunakan sistem yang tak dapat dilacak, jadi, tidak mudah untuk mengetahuinya,” jawab Tri.
“Lantas, apa ada yang kau curigai?”
“Apa maksudmu, Bu?”
“Sial. Maksudku adalah seseorang yang mungkin mengirimkan ini.”
__ADS_1
Rina berdiri dari kursinya dan membentak Tri.
“Aku menyelidiki Tini, karena, kulihat ia cukup dekat dengan Joko, sekaligus partner kerjanya saat ini, tapi, aku tak yakin bahwa itu darinya.”
Rina menghela nafas, kesal.
“Bagaimana dengan Joko?” tanya Rina.
“Dia masih di dalam sel, Bu. Dia juga masih menolak untuk bertemu dengan siapapun, termasuk Tini, orang yang mungkin paling dekat dengannya.
*BRAKK!!!
“Seorang telah memberikan bukti bahwa ia tak bersalah. Apa yang dia lakukan? Kenapa dia seperti itu?”
Rina memukul meja karena kesal dan tak tahu, apa yang sedang diinginkan oleh Joko.
“Mungkin, dia masih berusaha untuk menenangkan dirinya, Bu. Dia juga sering menjalani terapi dan pengobatan, selama berada disana,” ucap Tri.
“Selain itu, tepat pukul jam 6 tadi pagi, salah satu agen kita ditemukan tewas, tergantung di sebuah papan iklan yang kosong.”
“Apa?” tanya Rina terkejut.
Tri menunjukkan sebuah laporan yang menunjukkan tewasnya salah satu agen yang ditemukan dengan tergantung di papan iklan.
Sebuah koran pun juga diberikan Tri untuk Rina, yang menunjukkan foto Imron yang sudah tak bernyawa, tergantung di papan iklan.
“Baiklah. Kau boleh pergi!”
“Baik, Bu.”
***
Di ruangan rapat, terlihat Sugeng, Bowo dan Rina sedang berkumpul untuk membahas, tentang kematian Imron, salah satu agen dari agensi mereka sendiri.
Rina memberikan semua laporan dan surat kabar yang memberitakan kematian Imron pada Sugeng, sebagai jabatan paling tinggi di ARN.
“Ini jelas sebuah tindakan provokasi, Pak. Kita harus mencari tahu, siapa dalang di balik ini.”
“Lantas, kau meminta izin kepadaku untuk menyelidiki masalah ini sendiri?” tanya Sugeng.
“Aku yakin kasus ini juga berkaitan dengan kematian Kepala Yuli. Imron adalah salah satu agen yang kita miliki. Dia lebih aktif berada di luar jawa, semenjak ia bergabung,” jelas Rina.
“Jadi, biarkan aku mengambil alih dan menyelidiki kasus ini,” lanjutnya.
__ADS_1
“Apa menurutmu begitu, Wakil komisaris Rina? Agen itu menyamar di singapore dalam jangka waktu yang sangat lama, bukan? Kudengar dia juga belum memberikan laporan apapun beberapa bulan terakhir ini.”
“Kurasa dia bukan bagian dari kita,” sahut Bowo yang terdengar cukup egois dan sangat acuh dengan kematian Imron sebagai salah satu agen.
“Kalau aku boleh mengkritikmu, sejujurnya, kau tak bisa mengurus masalah ini. Kenapa kau malah menyalahkan orang lain atas kesalahanmu?” lanjut Bowo.
“Anggap saja kau benar. Mungkin aku tak bisa mengurus dan mengendalikan beberapa agen kita dengan baik. Apa kau bisa menjelaskan, kenapa dia mati dengan digantung di tengah-tengah kota?”
“Menurutku, salah satu organisasi singapore menyadari keberadaannya dan membunuhnya sebagai motif balas dendam. Bukankah kau terlalu meributkannya?” ucap Bowo yang sudah jelas mengarang ceritanya sendiri.
Walau Imron adalah agen yang bertugas di luar jawa, tapi Imron juga berkaitan dengan insiden yang terjadi di China, saat itu.
“Kau tak seharusnya mengatakan hal itu disini, Pak. Ucapanmu terdengar sangat berlebihan,” ucap Rina dengan nada tinggi, karena kesal.
“Apa kau tidak muak dengan teori konspirasi yang kau ciptakan sendiri? Pikirkanlah tentang waktunya, antara Kamis Berdarah dan Kartel narkoba, saat terbunuhnya dua orang kolega Joko.”
“Pernahkah kau mempertimbangkan bahwa yang kurang disini adalah kemampuanmu untuk mengatasi hal itu? Apa kau tak pernah berpikir begitu, Wakil Komisaris Rina?”
Bowo dan Rina terus berdebat, dengan Sugeng yang hanya duduk dan mendengar perdebatan mereka.
“Astaga. Sudah cukup. Tenanglah! Kita berkumpul bukan untuk melakukan perdebatan yang tak ada habisnya.”
Sugeng melepas kacamatanya, melerai Rina dan Bowo yang terus berdebat.
“Omong-omong. Aku setuju dengan perkataan Direktur Bowo. Semua kecelakaan ini terjadi karena tim yang berada di bawah naunganmu, Nona Rina,” lanjut Sugeng, membela Bowo.
“Kau harus menyerahkan kasus ini ke Urusan Internal. Itu saja dariku. Aku sudah selesai.”
Sugeng berdiri, beranjak pergi dari tempat itu.
“Tunggu, Pak. Tolong beri aku waktu dua pekan saja,” ucap Rina yang juga berdiri.
“Jika kau memberikanku wewenang penuh, aku berjanji akan mengungkap semua kebenarannya dalam dua pekan,” ucap Rina dengan yakin.
“Lantas, bagaimana jika tidak? Bagaimana jika kau tak berhasil mengungkapnya dalam dua pekan?” tanya Sugeng.
“Jika aku tak berhasil, maka aku akan bertanggung jawab sepenuhnya. Aku akan mengundurkan diri secara resmi dari agensi ini,” tegas Rina.
“Baiklah kalau itu yang kau mau. Aku mengizinkan mu,” ucap Sugeng yang menganggukkan kepalanya.
“Baik, Pak. Terimakasih atas semuanya. Aku permisi dulu.”
Rina membungkuk memberi hormat pada Sugeng, lalu pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
Di dalam agensi mereka sendiri telah terjadi keributan yang cukup besar di antara biro dalam negeri. Beberapa orang agensi memihak Rina, dan kebanyakan orang memihak Bowo dengan semua pertimbangan.