
Akan tetapi, Joko pun tak memperdulikan omongan Tri, lalu beranjak berdiri dan pergi dari ruangannya.
Setelah Joko sampai di ruangan Rina, Joko langsung menunduk menyapa Rina sebagai atasannya.
“Maafkan aku, Joko. Seharusnya aku menelponmu dahulu, sebelum aku memanggilmu kemari, karena ini sangatlah mendadak. Kita akan bicara nanti. Silahkan duduk!”
Rina pun menyuruh Joko segera duduk untuk membicarakan masalah yang terjadi saat ini.
Joko hanya menunduk kembali, lalu duduk disamping Aji yang telah datang lebih dahulu di ruangan itu.
“Kau pasti sudah menyadarinya, agensi kita mengalami sedikit masalah. Kita semua sudah mengenal dengan baik satu sama lain, jadi, aku akan langsung ke intinya,” ucap Rina memulai percakapan.
“Tolong tampilkan di layar, ketua Tri.”
“Baik, Bu.”
Tri pun menyalakan laptop dan menyambungkannya ke proyektor agar semua dapat melihatnya dengan jelas.
Di layar proyektor terpampang wajah Hendro yang berhasil ditangkap Tri dengan para agen lainnya dengan bantuan polisi.
__ADS_1
Joko yang belum tahu bahwa Hendro telah berhasil ditangkap pun cukup terkejut, karena mereka semua akan membicarakan Hendro di ruangan itu.
“Kau tau siapa dia, Joko?” ucap Rina.
“Dia adalah Hendro. Warga negara Indonesia yang memiliki keturunan Tionghoa. Dia pernah membunuh ayahnya sendiri saat remaja dengan tangan kosong.”
Joko berdiri lalu mulai menjelaskan, semua yang berkaitan tentang Hendro.
“Sebelum ia bergabung dengan kartel narkoba di China, dia pernah menjadi salah satu anggota mafia di Amerika. Setelah mafia itu bubar ia kembali ke China, lalu menjadi tangan kanan bos kartel narkoba disana.”
“Kemarin, Ketua Tri bersama agen lainnya dengan bantuan para polisi berhasil menangkapnya, setelah mengetahui bahwa ia kembali ke negara ini. Kini dia ditahan di kepolisian pusat,” ucap Aji.
“Akan tetapi, ada hal yang lebih genting dari itu. Salah satu anggota kepolisian telah tewas dibunuh oleh anak buah Hendro.”
Proyektor kembali menampilkan salah satu anggota kepolisian yang sudah ditemukan dengan keadaan tak bernyawa dengan beberapa luka tusuk di tubuhnya.
“Anggotanya mengancam akan membunuh polisi satu persatu, jika Hendro tak dibebaskan secepatnya.”
“Mereka semua berpencar secara berkelompok, lalu membunuh polisi yang sedang berpatroli, saat mereka sedang sendirian.”
__ADS_1
“Mereka telah memperingatkan kita dengan salah satu korban polisi yang terbunuh saat sedang berpatroli.”
“Polisi itu ditikam di leher, dada, perut, dengan 10 luka tusuk total. Saat ini, Hendro sedang ditahan, tapi dia tak mau mengatakan sepatah katapun.”
“Aku sangat mengkhawatirkan keadaan ini dan aku tak mau ada korban selanjutnya dari petugas kepolisian.”
Semua orang di ruangan Rina diam dan memperhatikan Aji yang sedang menjelaskan keadaan yang terjadi saat itu.
“Aku tahu. Aku tahu itu akan terjadi dan aku tahu kalian semua panik, karena dia adalah orang yang belum pernah kalian hadapi sebelumnya,” ucap Joko saat semua orang terdiam.
“Tunggu. Itu hanyalah spekulasi tak berdasar, Bu,” potong Tri yang tak percaya kepada Joko.
Rina hanya menatap Tri dengan sinis yang membuat Tri terdiam.
“Kalian tak bisa berurusan dengan mereka secara hukum, karena otoritas di pemerintahan kita yang tak cukup kuat,” lanjut Joko.
“Lantas? Apa yang bisa kita lakukan, Joko?” tanya Rina.
“Pertama, kita harus mencari tahu apa isi kepala Hendro, dan apa yang ia inginkan dengan kembalinya ke Indonesia. Saat itu terjadi, maka kita akan dapat mengembalikan keadaan.”
__ADS_1
Aji dan Rina hanya mengangguk setuju dengan ucapan Joko, tapi Tri terlihat tak senang dari raut muka yang ia tunjukkan di ruangan itu.