
“Direktur Aji. Menurutmu apa yang paling kita butuhkan saat ini? Bertaruh. Kita harus mempertaruhkan semuanya. Kita tidak dalam posisi yang pantas untuk menyelidikinya secara legal.”
“Tetap saja, Bu. Ini sangat berbahaya dan terlalu beresiko untuknya.”
“Itu sebabnya. Aku mengambil jaminannya,” jawab Rina melihat kearah pistol dan kartu identitas Joko.
“Kini Joko sudah resmi bebas tugas, jadi, jika terjadi sesuatu, itu akan dianggap perilaku pribadi yang menyimpang, bukan kesalahan agensi kita lagi.”
Ucapan Rina itu membuat Aji yakin bahwa Rina hanya memanfaatkan Joko untuk kasus ini demi kepentingan dirinya.
***
Di atap gedung ARN, seperti biasa, Joko berdiri sendirian dan menatap luasnya kota Jakarta dari gedung itu.
Sepertinya ia juga menunggu seseorang sebelum ia kembali ke apartemennya.
“Pak!” sapa Tini dari belakang.
“Astaga. Apa kau baik-baik saja, Pak?”
Tini terkejut melihat kondisi Joko yang kurang baik dengan sedikit luka di pelipisnya dan bekas darah yang berada di kemeja putihnya.
“Apa boleh aku bertanya? Darimana kau mendapatkan file yang kau kirimkan padaku?”
__ADS_1
“Aku mendapatkannya dari temanku yang bekerja di FBI. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu kemarin?”
“Baiklah. Kurasa itu belum dilaporkan pada atasan. Bisakah kau memintanya bertahan sedikit lebih lama?”
“Apa boleh aku mengetahui alasannya, Pak?” tanya Tini.
Joko hanya diam dan tak mau memberitahu apa alasan sebenarnya.
“Baiklah kalau begitu. Kurasa aku tak bisa membantumu kali ini, Pak. Maafkan aku. Aku akan mendapat masalah besar karena ini, jadi, kurasa aku tidak bisa melakukan itu tanpa tahu alasannya.”
Saat Tini melangkah pergi,
“Apa yang ingin kau ketahui?” tanya Joko.
“Katakanlah, situasi macam apa yang sedang kau hadapi, agar aku pun bisa memahamimu.”
Joko menghela nafas panjang, lalu mulai bercerita menjelaskan.
“Kau tahu ada insiden di China tiga tahun lalu, sebelum tragedi menghilangnya aku disana. Aku tak sengaja terlibat dengan geng milik kartel narkoba yang juga berada di sana.”
“Kurasa itulah mengapa mereka mengejarku. Itu adalah masalah pribadiku, jadi aku ingin menutup kasusnya sendirian. Apa itu cukup untukmu?”
“Tidak, ada satu lagi. Apapun rencanamu kali ini, tolong libatkan aku. Izinkan aku bergabung denganmu, Mungkin, aku bisa banyak membantumu.”
__ADS_1
Entah apa yang inginkan oleh Tini, dengan tiba-tiba saja dia ingin bergabung dengan Joko dan menghadapi masalah yang tak biasa itu. Sepertinya, ada hal lain yang diincar oleh Tini, tapi entah apa itu.
“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Joko.
“Karena aku ingin meniti karir, Pak,” jawab Tini dengan senyuman centilnya.
“Sejujurnya, aku mengajukan diri untuk bekerja yang berkaitan langsung di lapangan, karena itu membantu evaluasi kinerjaku. Astaga. Aku tidak sabar dan sangat ingin bekerja denganmu, Pak,” lanjut Tini.
“Aku tak ingin membuang waktu dan bermain aman. Baiklah. Aku permisi dulu, Pak.”
Tini membungkuk memberi hormat pada Joko dan akan pergi meninggalkannya.
“Tini!” panggil Joko.
Tini kembali menghentikan langkahnya dan memutar badannya kembali.
“Ya, Pak.”
“Kudengar kau lulusan IT terbaik di Universitas Oxford, dan kau juga pernah menjadi peretas saat kau masih berada di Amerika. Aku sedang mencari seseorang, jadi, aku ingin kau menemukan orang itu untukku.”
Joko mengeluarkan foto seseorang dari jasnya dan memberikannya ke Tini.
“Dia adalah Budi. Dia pernah bekerja denganku dengan menjadi mata-mata yang bergabung dengan geng yang dimiliki oleh kartel narkoba di China 3 tahun lalu.”
__ADS_1