SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
077 - TRI MEMBUJUK JOKO.


__ADS_3

Di ruangan Aji, terlihat Tri yang sedang berada di ruangan Aji untuk mengobrol bersama, mengenai semua masalah yang sedang terjadi.


Mereka berdiri bersebelahan, menghadap jendela di ruangan Aji, dengan menatap pemandangan, luasnya kota Jakarta dari balik jendela itu.


“Ketua Tri!”


“Ya, Pak.”


“Bukankah kau sudah muak dan lelah dengan semua ini? Kau juga mengetahuinya sendiri, bagaimana Nona Rina memimpin biro kita sampai detik ini.”


“Kita sudah mengorbankan terlalu banyak nyawa. Aku tak akan membiarkan itu terjadi lagi. TIDAK!!!”


Aji berteriak dengan keras di dalam ruangan itu dan menatap Tri yang berdiri di sebelahnya.


“Aku tak ingin ada korban lagi dari salah satu agenku, termasuk kau, Ketua Tri. Jawab pertanyaanku dengan jujur. Apa yang Nona Rina perintahkan kepadamu?”


“Apa dia menyuruhmu untuk mengeluarkan Joko secara diam-diam?” tebak Aji yang sepertinya benar, karena Tri hanya diam, tak menjawabnya.


Aji merangkul Tri dan berkata,


“Izinkan aku meminta bantuanmu, Ketua Tri.”


***


Di basement gedung ARN, tempat Joko ditahan di dalam sel, terlihat Tri yang sudah berada di tempat itu.


Bersama dengan dokter dan beberapa penjaga sel, Tri ditemani untuk bertemu dengan Joko.


Sepertinya Aji telah meminta bantuan Tri untuk bertemu dengan Joko dan membicarakan sesuatu yang akan mereka rencanakan.


Dari balik kaca jeruji sel, Tri melihat Joko yang berolahraga. Joko melakukan pull up yang membuat badannya yang kekar lebih terlihat indah. Begitupun dengan Tri yang terlihat iri melihat tubuh kekar Joko.


Joko yang menyadari kedatangan Tri pun berhenti dari aktivitasnya, memakai kembali kaos polos yang telah disediakan.


Entah apa yang terjadi, kali ini Joko mengizinkan Tri untuk masuk ke dalam selnya, berbeda dari dua bulan berlalu, Joko sama sekali tak ingin bertemu dengan siapapun.


Saat Tri masuk ke dalam, Tri melihat semua coretan Joko yang berada di permukaan tembok.


Tri menyimpulkannya sendiri, bahwa Joko sedang menyelidikinya walau ia sedang berada di dalam sel tahanan.


Tri melangkah, memutari kamar sel yang sempit itu, dan berhenti tepat di depan jendela sel. Begitupun Joko yang langsung duduk di atas dipan tempat tidurnya.


“Astaga, Joko. Kau tampak lebih sehat setelah cukup lama beristirahat. Bagaimana perasaanmu? Apa kau sudah membaik? Apa tanganmu sudah gatal, ingin kembali memukuli semua orang?”


Joko hanya diam dan menatap Tri dengan tatapan dingin.


“Hahahaha. Astaga. Aku hanya bercanda, Joko. Kenapa kau menatapku, seolah ingin membunuhku?”


“Kenapa kau kemari? Apa yang kau inginkan?” tanya Joko datar.


“Hari ini adalah perayaan, 60 hari setelah kematian Yuli. Gadis yang malang. Aku sangat kasihan jika mengingat kembali hal itu. Dia bahkan tak seburuk itu, tapi siapa sangka dia meninggal dengan cara mengenaskan.”


Tri menarik sebuah kursi kecil, lalu duduk di kursi itu, berhadapan dengan Joko.


“Apa kau sudah mendengar rumor yang menyebar di agensi? Semua orang berkata, bahwa kau lah penyebab meninggalnya Yuli.”

__ADS_1


“Meski sudah ada rekaman asli yang menunjukkan bahwa kau tak bersalah, mereka tetap menganggapmu sebagai penyebab kematiannya.”


Joko masih diam dan terus menatap kedua mata Tri, seakan membaca pikiran Tri hanya dengan melihat matanya.


“Jujurlah padaku, Joko. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau juga tak mengingatnya? Apa kau terlalu teler saat itu?”


Joko tersenyum kecil dan,


“Siapa itu? Siapa yang menyuruhmu kemari? Apa itu Direktur Aji? Cara bicaramu saja sudah sangat kuno. Apa dia menyuruhmu untuk memprovokasi ku dan menyebabkan masalah ini?”


Joko pun langsung mengetahui, bahwa Aji lah yang menyuruh Tri untuk bertemu dengan Joko.


Tri menegakkan kepalanya dan menyadari bahwa Joko hanya hilang ingatan, tapi tidak dengan akal cerdas yang ia miliki.


“Apa ucapanku benar? Begitukah, cara dia ingin mengurungku disini? Biar aku bertanya balik padamu. Apa yang sedang kau sembunyikan dariku?” ucap Joko.


“Apa maksudmu? Sembunyikan apa?” tanya balik Tri yang berpura-pura.


“Walau aku berada disini. Aku dapat mengetahui bahwa Imron sudah mati. Aku yakin kau ingin mengatakan hal itu salah satunya, saat kau pergi kemari.”


Tri kembali berdiri, melangkah menatap jendela sel, karena Joko sudah mengetahui, sebelum apa yang akan Tri lakukan padanya.


“Sampaikan ini padanya,” ucap Joko yang juga berdiri.


“Hanya aku yang memutuskan, apakah aku ingin tinggal di sini atau tidak, dan entah kapan aku akan kembali,” tegas Joko.


Karena tak berhasil membujuk Joko, akhirnya Tri menyerah dan keluar dari dalam sel.


Setelah Tri pergi dari sel, Joko duduk di atas dipan, kembali memikirkan semua hal yang terjadi.


Di luar sel, Tri berbicara dengan dokter yang menjaga dan merawat Joko, selama ia berada di dalam sel.


Mereka berdua berjalan bersama, naik dari lantai basement menuju klinik, tempat masuk basement itu.


Si Dokter pun mulai bercerita bahwa, Joko mendapatkan telepon setiap harinya dari seorang wanita, yang juga pernah akan mengunjungi Joko, tapi ditolak olehnya.


“Apa kau tahu siapa wanita itu, Dok?” tanya Tri.


“Tentu saja, aku tahu. Dia adalah wanita yang terus mengunjunginya kemari. Walau Joko menolaknya untuk bertemu, tapi wanita itu terus mengunjunginya seminggu sekali, atau bahkan dua, tiga kali.”


“Siapa nama wanita itu?” tanya Tri yang memastikan.


“Nona Tini. Astaga aku sangat hafal namanya karena ia sering datang kemari. Wanita muda itu sering mengunjunginya kemari. Dia terlihat sangat khawatir pada Joko, jika aku melihat dari raut wajahnya.


“Ohh. Begitu rupanya. Terima kasih, Dok. Aku permisi dulu.”


Tri langsung pergi setelah keluar dari basement gedung.


***


Beberapa hari setelah itu, Joko akhirnya memutuskan untuk keluar dari sel, kembali pulang ke apartemennya.


Di pagi hari yang cerah, Joko berjalan keluar dari gedung ARN, menuju tempat papan iklan, dimana Imron ditemukan gantung diri disana.


Sejenak Joko menghentikan langkahnya, melihat keatas papan iklan yang berada di balik gedung yang tinggi.

__ADS_1


Beberapa saat Joko melihat, akhirnya Joko pun langsung pergi meninggalkan tempat itu.


***


Malam harinya di kediaman Tini, terlihat Tini yang baru pulang, setelah seharian bekerja.


Tini sangat terkejut saat melihat Joko yang sudah berada di dalam rumahnya. Joko duduk di sofa Tini, tempat yang pernah ia gunakan untuk beristirahat saat itu.


“Pak?” ucap Tini, sedikit merasa takut.


“Duduklah!” aku ingin berbicara denganmu.


Tini mengambil sebuah kursi, lalu duduk di atasnya.


“Aku tak bisa berhenti bertanya-tanya, apa alasanmu melakukan itu. Siapa itu? Siapa orang yang memerintahmu?”


Joko kembali membahas saat Tini mengatakan bahwa Yuli sudah siuman, tepat sebelum Joko ditangkap.


Tini hanya diam, menunduk, tak tahu harus berkata apa.


“Saat aku masih di dalam sel, kau terus berkunjung, walau aku enggan untuk menemuimu. Pasti ada yang ingin kau katakan saat itu. Apa itu Direktur Aji?”


Tini akhirnya mengangguk, karena perkataan Joko benar adanya.


“Saat itu, aku meninggalkan ruang kendali setelah aku berbicara denganmu di telepon, dan sepertinya Direktur Aji tahu akan hal itu. Dia menungguku di pintu keluar saat aku akan pergi dari sana.”


“Dia mengajakku ke ruangan tertutup. Di ruangan itu, menunjukkan sebuah foto pria paruh baya, dan mengatakan, bahwa ayahku masih hidup. Entah bagaimana dia bisa mengetahui hal yang selama ini aku tutupi.”


“Dia berkata bahwa pria yang berada di foto , kemungkinan besar adalah ayahku. Direktur Aji juga berkata. Bahwa ayahku telah mengubah wajahnya, dengan itu, agensi kita tak dapat untuk mengidentifikasikannya.”


“Dia juga sudah tahu bahwa selama ini aku sedang membantumu, Pak.”


Terlintas di pikiran Joko adalah Putra. Joko berpikir mungkin saja Putra adalah ayah Tini yang menghilang dan telah mengubah wajahnya.


Karena Imron pernah berkata padanya, bahwa Putra adalah seorang yang pernah berada di dalam agensi, sebelum mereka bergabung di dalam agensi itu pastinya.


“Apa itu saja?” tanya Joko datar.


“Ya.”


“Baiklah. Aku mengerti.” Joko menganggukkan kepalanya tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


“Apa kau tidak marah padaku, Pak? Apa kau tak merasa dikhianati?” ucap Tini yang sangat merasa bersalah pada Joko.


“Kenapa aku merasa begitu? Tentang kasus Imron, kurasa aku harus menyelidikinya dan mungkin aku akan butuh bantuanmu. Apa kau mau membantuku?” ucap Joko.


“Apa? Maksudku, kenapa kau masih mempercayaiku untuk membantumu, Pak? Setelah semua yang telah kulakukan padamu. Apa kau masih mempercayaiku?” tanya Tini.


“Aku tak berkata aku mempercayaimu. Aku bilang, aku butuh bantuanmu. Entah membohongiku lagi atau tidak, itu urusanmu,” tegas Joko


“Baiklah. Aku akan melakukannya untukmu.”


Tini mengangguk paham.


“Baiklah. Aku akan pergi dulu.”

__ADS_1


Joko berdiri, mengambil ranselnya, lalu keluar dari rumah Tini. Tini pun mengantar Joko hingga ke depan rumahnya dan melihatnya berjalan pergi menjauh.


__ADS_2