SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
075 - KEMATIAN YULI & TERTANGKAPNYA JOKO


__ADS_3

Di kantor ARN, terlihat Tini yang masih berada di dalam kantor, mengerjakan sesuatu.


*KRIING!!!


Tini mengangkat panggilan itu saat mengetahui, Joko lah yang menelponya.


“Halo, Pak. Astaga. Kenapa sulit sekali menghubungimu?”


“Aku mendapatkan rekaman cctv aslinya.”


“Apa? Benarkah?” tanya Tini.


“Ya. Akan kukirimkan filenya padamu sekarang. Periksalah dan hubungi aku kembali, begitu kau selesai memeriksanya.”


“Tunggu sebentar, Pak,” ucap Tini sebelum Joko memutuskan sambungan teleponnya.


“Agensi baru menerima panggilan dari pihak rumah sakit. Pihak rumah sakit mengatakan bahwa Kepala Yuli sudah siuman,” lanjut Tini.


“Baiklah. Terima kasih atas informasimu.”


Joko pun langsung menutup teleponnya saat itu juga.


Saat Tini mendapatkan rekaman asli dari Joko, Tini segera membuka file itu dan memutar videonya.


Dengan jelas, rekaman kamera pengawas asli itu menunjukkan, seorang dengan hoodie hitam dan topi bisbol, berjalan dari arah Joko, mengeluarkan sebuah pistol dengan peredam dan menembak Yuli.


Dengan video rekaman asli itu dapat membuktikan bahwa Joko tak menembak Yuli.


Akan tetapi, setelah Tini melihat rekaman itu secara langsung, ia malah menekan tombol delete di laptopnya.


Saat akan menekan untuk kedua kalinya untuk menghapus, Tini diam sejenak, terlihat ragu walau akhirnya dia menghapus file rekaman asli itu.


Entah apa yang dilakukan Tini, dia malah menghapus bukti yang dapat membebaskan Joko dari tuduhan itu.


Tini menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu menghembuskan kembali.


***


Di rumah sakit tempat Yuli berada, terlihat Joko yang sedang menyamar menjadi salah satu perawat yang berada di rumah sakit itu.


Joko memakai seragam perawat, lengkap dengan penutup kepala dan masker, seperti yang digunakan oleh perawat lainnya.


Joko berjalan tanpa memperdulikan orang disekitarnya saat itu. Dengan membawa tempat obat dan nasi, Joko terus mendorong tempat itu menuju ruang IGD, tempat dimana Yuli berada.


Ruang IGD berada di lantai 3 dari rumah sakit itu. Setibanya Joko di depan ruangan, Joko melepas masker dan menutup kepalanya, karena ruangan itu sudah sangat sepi, di malam hari.

__ADS_1


Joko membuka pintu ruangan, lalu masuk dan mendorong tempat obat dan makan pasien.


Di dalam ruangan, terdapat sebuah gorden yang menutup dan memberi sekat dengan pasien yang sedang dirawat.


Betapa terkejutnya Joko saat melihat bahwa, tak ada siapapun yang berada di dalam ranjang itu.


Ruangan itu benar-benar gelap dan kosong. Joko hanya diam dan berpikir, apakah mungkin ia salah masuk kamar atau Yuli yang sudah dipindahkan ke kamar lain.


Saat Joko akan kembali, tiga lase berwarna merah mengarah ke jantung dan kepala Joko.


Laser dari senjata api terus berputar mengarah ke seluruh tubuh Joko. Joko mencari dan melihat sekeliling ruangan mencari, dimana berasalnya leser yang menyorotnya itu.


Dari balik kaca, Joko melihat sebuah ruangan kosong, asal dari laser dari senjata itu.


*BRAKK!!!


“Jangan bergerak! Angkat tangan!”


Tiga orang bersenjata keluar dari ruang kosong, mengepung Joko seorang diri.


Joko pun mengangkat kedua tangannya, karena ia tak mungkin menyerang ketiga pasukan bersenjata tanpa persiapan apapun sebelumnya.


Begitupun dengan ketiga pasukan khusus yang menodongkan senjatanya pada Joko. Mereka bertiga menjaga jarak dari Joko, waspada jika Joko akan menyerang balik mereka secara tiba-tiba.


“Apa ini? Dimana Yuli?” tanya Joko pada Aji.


“Yuli sudah meninggal beberapa jam yang lalu,” jawab Aji.


Joko yang mendengarnya pun sangat terkejut. Perlahan, Joko menurunkan tangannya dan air mata Joko pun menetes mendengar kabar yang sangat mengejutkan.


Ia juga baru sadar, bahwa Tini telah berbohong padanya. Joko masih tak menyangka dan terus berpikir, kenapa Tini berbohong padanya.


Akhirnya, Joko pun harus dibekuk dengan beberapa pasukan bersenjata itu.


***


Aji menahan Joko dan menempatkan di sebuah sel yang terletak di dalam basement gedung ARN, tepat di bawah klinik medis ARN berada.


Sel yang saat ini ditempati Joko, sangatlah tidak layak untuk ditempati. Di dalam sel itu hanya ada sebuah bantal dan dipan semen, sebagai tempat tidurnya, dan satu ruang kamar mandi berukuran kecil.


Aji sengaja menempatkan Joko di dalam sel itu agar Joko tak bisa kabur, melarikan diri. Dinding sel yang terbuat dari tembok yang cukup tebal, yang tak mungkin bagi Joko untuk melarikan diri dari tempat itu.


Aji juga mendatangkan seorang dokter untuk mengecek kondisi mental dan psikis Joko yang kurang stabil, agar ia menjalani pengobatan dan terapi, selama di dalam sel.


***

__ADS_1


DUA BULAN KEMUDIAN.


Dua bulan lamanya Joko ditahan di dalam sel, dan selalu menjalani perawatan psikisnya.


Setiap minggunya, Tini selalu ingin menjenguk Joko, tapi Joko selalu menolak untuk bertemu dengan siapapun, selain dokter yang merawatnya.


Di dalam sel tahanan, Joko masih menyempatkan dirinya untuk berolahraga. Joko menggunakan tiang gantungan baju untuk pull up dan berbagai gerakan olahraga lainnya.


Joko juga mencoret-coret dinding sel dengan sebuah kapur berwarna putih, dan menghubungkan semua masalah yang saling berkaitan selama ini.


Joko menulis nama orang-orang disekitarnya, dan menghubungkan satu  sama lain, mulai dari Yuli, Imron, Sulistyo, Putra, Warrior, serta semua petinggi yang berada di agensi.


Tak lupa juga dengan tujuan awal Joko, yakni mencari sebuah petunjuk untuk menemukan seorang pengkhianat di dalam agensinya..


Joko menghabiskan hari-harinya di dalam sel hanya dengan berolahraga dan menganalisa masalah yang sedang dihadapinya, tanpa bantuan siapapun.


***


Di suatu malam yang gelap, di sebuah gedung kosong, terlihat Imron yang sudah tertangkap dengan kondisi yang cukup buruk. Kedua tangannya diikat menyatu dengan tubuhnya, dengan kepala yang tertutup dengan kain.


Imron diseret ke tengah-tengah gudang oleh beberapa orang. Tepat ditengah-tengah gudang, salah satu pria yang membawa Imron membuka penutup kepala Imron.


Seorang pria paruh baya bertubuh kekar dan tegap, berjalan masuk ke dalam gudang. Dia adalah Putra. Walau umurnya sudah cukup tua, tapi Putra tetap memiliki badan dan postur tubuh yang bagus.


Putra bersama puluhan anak buahnya berada di dalam gedung itu, setelah mereka berhasil menangkap Imron.


Putra berjalan mendekat Imron yang sedang berlutut, dengan anak buah Putra di sekelilingnya.


Putra tepat berdiri di hadapan Joko. Dengan tatapan dingin seperti yang dipunyai Joko, Putra mulai mengintrogasinya.


“Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau juga berusaha menangkapku? Apa karena kejadian di Beijing tiga tahun lalu?” ucap Putra.


Dari perkataan Putra, mengartikan bahwa Imron sebenarnya juga sedang berusaha untuk mengejar dan menangkap Putra untuk tujuan tertentu.


“Hhhh. Kau bertanya, kenapa aku mengejarmu? Kau tak akan tahu, bagaimana aku dapat bertahan sejak kejadian itu.”


“Aku didesak seperti seorang budak dan saling berselisih dengan kedua sisi, entah itu dari agensi ataupun Warrior.”


“Begitupun denganmu. Kau jatuh semakin dalam, sekeras apapun usahamu untuk keluar. Kau bahkan tak tahu, bagaimana rasanya itu.”


Dengan kondisi yang buruk, Imron tetap menjawab pertanyaan Putra.


“Apa kau berpikir, kau akan bebas jika berhasil menangkapku? Kau selalu menginginkan kehidupan normal. Apa itu cocok untukmu? Kau hanyalah seorang kacung, tak lebih dari itu.”


“Tutup mulutmu, Bangsat!!”

__ADS_1


__ADS_2