
Di gedung ARN, terlihat Aji yang sedang berada di ruangan Rina. Aji membawa berkas dengan stopmap berwarna coklat dan memberikannya pada Rina.
“Ini laporan tentang Joko, Bu. Kau harus melihatnya.”
Rina pun mengambil, lalu membuka isi stop map itu. Ia terus membuka lembar per lembar dari berkas laporan tentang Joko, hingga dimana salah satu lembar memperlihatkan sebuah foto keluarga yang dibunuh.
“Itu adalah kasus pembunuhan pasangan suami istri di Medan, Sumatera Utara. Orang tua yang mengangkat Joko sebagai anaknya dibunuh saat berada di rumah,” ucap Aji.
Ucapan Aji menyimpulkan bahwa Joko adalah anak yang telah diadopsi oleh orang tua angkat yang bertempat tinggal di Medan.
“Aku sudah melihat dan mengetahui berkas ini. Bukankah itu hanyalah perampokan rumah biasa?” ucap Rina.
“Tidak, Bu. Kami belum menemukan pelakunya sampai saat ini. Kasus ini belum selesai. Kau akan melihat di lembaran berikutnya.”
Rina pun kembali membuka lembaran itu.
“Saat itu, Joko baru berusia 10 tahun. Namun, dia ditemukan setelah akhir pekan dari tragedi itu berlalu. Dia disana bersama orang tuanya yang sudah meninggal selama tiga hari.”
“Apa ini?” tanya Rina saat melihat lembaran laporan medis.
“Laporan medis. Itulah sebabnya aku ingin bertemu denganmu, Bu. Itu adalah laporan medis Joko setelah waktu kejadian.”
“Dia menunjukkan gejala amnesia karena syok, jadi, mereka memanggil psikiater untuk memeriksanya.”
“Diagnosanya adalah amnesia disosiatif. Dia mengalami amnesia disosiatif. Dengan kata lain, dia sengaja menghapus ingatan tentang pembunuhan kedua orang tua angkatnya.”
Rina menutup kembali berkas laporan tentang Joko dan meletakkannya kembali ke meja.
“Apa menurutmu ini sebuah kebetulan, Bu? Mungkin saja Joko belum pulih, dari masa yang sulit itu, bahkan saat ia baru berusia 10 tahun.”
“Ini adalah obat yang dikonsumsi Joko selama bertahun-tahun.”
Aji mengeluarkan daftar obat-obatan dan meletakkannya di meja, berharap Rina akan melihatnya, tapi Rina pun malah menyingkirkan daftar itu dan tak mau melihatnya.
“Bu Rina!!! Joko sudah melewati batasnya. Kita tidak boleh mengabaikan kondisinya lagi,” ucap Aji dengan nada tinggi.
“Hhh. Apa kau masih merasa bahwa aku tak mengetahui ini semua hingga detik ini? Obat yang digunakan Joko, diagnosa kejiwaannya, aku tahu itu semua,” ucap Rina.
“Kau benar. Aku mengetahui itu semua tapi memilih untuk diam dan mengabaikannya. Lantas, bagaimana denganmu, Direktur Aji? Apa benar kau baru mengetahui hal ini?” tanya balik Rina yang membuat Aji terdiam.
“Aku yakin tidak, kau berusaha semampumu untuk menghentikan ini agar seorang tak melaporkannya kepadaku. Hahaha. Apa perkataanku benar? Kenapa kau diam saja?”
__ADS_1
“Bukan begitu, Bu. Maksudku hanya….”
“Pada akhirnya, kita sama saja. Tak ada yang berbeda dari kita. Jika kita mempunyai tujuan, maka kita harus bersedia untuk membayarnya, apapun itu, termasuk hal ini,” ucap Rina yang sangat egois dan tak memikirkan kepentingan orang lain.
“Apa menurutmu begitu, Bu? Apa kau yakin Joko akan memihak kita setelah semua ingatannya pulih kembali?” tanya Aji.
“Kita? Kau bilang kita? Apa aku juga termasuk?” tanya balik Rina yang tak mau terlibat dengan hal itu.
***
Berpindah di kantor Tini, terlihat Tini yang sudah berhasil mendapatkan apa yang diinginkan oleh Joko, yaitu tentang dokumen asli tentang Imron yang ia minta dari Republik China.
Tini sudah mendapat jawaban dari Menteri Kemanan, bahwa dokumen yang itu adalah tidak valid.
Tini segera mencetak lampiran itu dan memasukkannya ke dalam stop map yang akan ia berikan kepada Joko.
Saat Tini keluar ruangan, ia bertemu dengan Yuli yang saat itu akan masuk ke dalam ruangannya.
Tini yang terkejut pun langsung menyembunyikan berkas itu di balik badannya.
“Aku hanya ingin mampir kemari, Tini. Apa kau akan pulang?”
“Ya, Bu. Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku untuk hari ini,” jawab Tini.
Mau tak mau, Tini pun memberikan stopmap itu kepada Yuli agar ia bisa melihatnya sendiri.
“Itu dokumen resmi yang aku dapatkan dari Kementerian Keamanan China. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal saat aku menyelidiki proyek yang sedang kita jalankan,” ucap Tini.
“Baiklah. Aku akan menangani ini. Kau bisa pulang.”
Tini masih berdiri di tempatnya dan menatap Yuli seakan tak terima Yuli mengambil berkas yang berhasil ia dapat.
“Kenapa? Apa yang kau tunggu. Biar aku saja yang mengurus ini,” tegas Yuli.
“Apa? Kenapa tiba-tiba kau ingin mengurus ini, Bu? Bukankah sebelumnya kau tak pernah membahas ini?”
“Siapa lagi yang tahu soal ini? Kau tak membuat salinannya, bukan?” tanya balik Yuli.
“Dengarkan aku, Tini. Mulai sekarang, hanya aku yang harus tahu soal ini.”
“Ketua Yuli!!!” protes Tini.
__ADS_1
“Ini perintah! Apa kau membantah atasanmu? Lakukan saja perintahku! Apa kau mengerti?” ucap Yuli yang membalikkan badannya, lalu melangkah pergi meninggalkan Tini.
“Apa itu karena Imron?” ucap Tini yang membuat Yuli membalikkan badannya kembali dan berjalan mendekati Tini karena terkejut Tini mengetahui hal itu.
“Bagaimana kau tau namanya?” tanya Yuli.
“Imron telah memalsukan semuanya. Ia juga telah merekayasa dengan proyek yang sedang kita jalani.”
“Cukup!!! Kau tak bisa menyebut nama itu seenaknya,” tegas Yuli.
“Tidak. Aku tak akan membiarkan ini,” bantah Tini.
“Tidak! Kau harus membiarkan ini, Tini!”
“Kenapa? Kenapa aku harus melakukannya? Boleh aku tahu alasannya, mengapa kau menyuruhku untuk membiarkan ini?”
“Cepat atau lambat, kau akan menemukan jawabannya sendiri. Mengingat apa yang terjadi, aku tak akan diam saja. Kau boleh pergi sekarang, Tini. Kerja bagus.”
Yuli pun pergi meninggalkan Tini begitu saja.
Tini sebagai bawahan pun tak bisa melakukan apapun dan tak mempunyai kekuasaan untuk merebut berkas itu kembali dari Yuli.
Karena Tini sudah tak mempunyai berkas itu, Tini pun akhirnya pulang dengan tangan kosong, karena itu.
***
Di pagi hari yang cerah, waktu menunjukkan pukul 07.00. Di dekat apartemen Joko tinggal, banyak orang yang sedang beraktivitas seperti umumnya.
Anak-anak yang berangkat ke sekolah, orang dewasa yang menuju kantornya masing-masing, pedagang kaki lima yang mendorong gerobaknya.
Mereka semua sangat bersemangat untuk menjalani aktivitas di pagi hari itu, begitupun dengan Joko di dalam apartemennya.
Rapi dengan setelan jas hitam dan kemeja putih dan dasi hitam, seperti yang biasa dipakainya setiap hari. Joko membuka laptop dan masih mencari tahu keberadaan Imron dan semua orang yang berkaitan dengannya.
*KRIINGG!!!
Joko mengangkat panggilan saat melihat Tini yang menelponnya di pagi itu.
“Halo, Pak!!”
“Ya. Bagaimana?” jawab Joko dari panggilan.
__ADS_1
“Aku mendapat balasan dari Kementerian Keamanan Republik China. Catatan keluar dan masuknya dipalsukan sesuai dugaan kita. Kali ini aku yakin bahwa Imron adalah dalangnya.”