SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
070 - SEPUPU SITI.


__ADS_3

Pukul 12 siang, Joko dan Tini kembali bertemu untuk membicarakan rencananya.


Mereka berdua bertemu di bawah jembatan fly over yang sudah lama tak terpakai, tempat dimana saat itu Joko bertemu dengan Aji dengan empat mata.


“Mengenai kasus yang sedang kau selidiki bersama Yuli. Kasus itu? Kau pernah bilang itu berkaitan dengan Imron,” ucap Joko yang tiba-tiba teringat dengan hal itu.


“Oh, ya. Astaga. Kenapa aku juga baru menyadarinya. Aku juga belum menceritakannya padamu, Pak,” ucap Tini yang memang benar-benar lupa.


“Saat itu, terjadi suatu pembunuhan atas salah satu warga asing yang kabur dari China ke Indonesia. Dia adalah seorang pria yang membelot dari negaranya karena dikejar oleh suatu komunitas.”


“Sepertinya pria itu dikejar oleh salah satu dari anggota komunitas karena mengetahui rahasianya. Dia mempunyai sepupu wanita seorang reporter yang tinggal bersama dengannya, setibanya dia di Indonesia.”


“Saat ini, Siti sedang ditahan sementara atas tuduhan pembunuhan sepupunya sendiri. Karena hal itu cukup mengganjal, aku menyelidiki penyebabnya dan menemukan berkas tentang Imron, selama penyelidikan.”


“Saat aku mendapati bahwa Imron berkaitan dengan komunitas itu, Yuli langsung mengambil laporan yang pernah kau minta dan memintaku untuk berhenti menyelidikinya.”


“Aku menduga bahwa Imron ada di belakang pembunuhan sepupu Siti, karena mungkin dia mengetahui rahasia Imron, sehingga Imron membunuhnya di apartemen karena hal itu.”


“Mungkin Siti adalah salah satu korban Imron berikutnya, karena Imron mengetahui bahwa Siti telah mendengar semua cerita darinya.”


Joko terus diam dan menyimak penjelasan tinggi yang cukup panjang dan berbelit.


“Astaga. Kenapa masalah ini semakin rumit. Belum juga menyebarnya rumor buruk tentang Kepala Yuli yang berselingkuh dengan atasannya. Entahlah. Aku mulai muak dengan semua ini.”


Tini menyeka keringat yang berada di dahinya menggunakan tisu, pusing memikirkan masalah yang tak ada habisnya itu.


“Jika tak ada bukti yang kuat untuk Siti, esok hari dia akan dibebaskan karena kurangnya bukti, tapi aku mencegah itu, karena aku yakin Imron akan memburunya.”


“Siapa namanya?” tanya Joko.


“Apa maksudmu, Pak?”


“Maksudku, sepupu dari pembelot yang saat ini ditahan.”


“Siti, Pak.”


“Aku akan menggunakan Siti untuk menyelesaikan masalah ini. Itu mungkin akan sedikit membantu kita memecahkan teka-teki yang semakin berbelit ini.”


“Apa yang akan kau lakukan, Pak?” tanya Tini yang tak tahu apa rencana Joko.

__ADS_1


“Kita akan menangkap Siti lebih dulu,” ucap Joko tegas.


“Tepat Siti dibebaskan esok hari, aku akan menelpon agensi dan meminta bertemu dengan Siti, tepat di taman kota, dekat stasiun bawah tanah.


“Astaga. Apa maksudmu, Pak? Apa kau sudah gila? Kau ingin bertemu dengan Siti di tengah taman, itu akan membuat semua agen memburumu, aku yakin itu. Kau sama saja menyerahkan dirimu sendiri.”


“Mari kita gunakan Sam untuk membantu kita. Aku akan meminta bantuannya untuk meretas sistem keamanan kamera pengawas dan mengubah wajahku disana.”


“Dia berkata padaku bahwa dia dapat melakukan hal itu, jika ia dapat masuk dan membobol keamanannya. Mengubah wajah seseorang secara langsung dari kamera pengawas cctv.”


“Aku yakin mereka akan menggunakan beberapa penembak jitu dengan sniper untuk mengawasiku, dalam radius seratus meter dari lokasi.”


“Aku akan menyuruh Sam untuk mengubah wajahku menjadi wajah Yuli, saat mereka mengawasiku dari cctv. Itu akan membuat semua orang menjadi kebingungan.”


“Para penembak jitu akan melihat aku, sedangkan semua orang yang berada di agensi akan melihatku sebagai Yuli, dari rekaman cctv yang telah diubah dan diretas secara langsung.”


“Jadi, mereka akan mengawasi gerak-gerikmu melalui kamera pengawas, lalu menyuruh Sam untuk mengubah wajahmu menjadi, wajah Kepala Yuli, jadi, semua orang yang berada di ruang kendali akan melihat Kepala Yuli?”


“Ya. Aku akan balik menggunakan cara yang juga digunakan untuk menjebakku dalam penembakan Yuli,” ucap Joko.


“Aku yakin bahwa Imron adalah dalang di balik penembakan Yuli, dan orang yang telah mengambil file asli sistem kamera pengawas keamanan, dengan semua koneksi yang ia miliki.”


Tini yang mulai paham dengan maksud Joko pun hanya mengangguk dan berharap agar rencana Joko berhasil.


***


Pukul 8 pagi di keesokan harinya, saat hari pembebasan Siti. Semua orang di agensi sedang berkumpul, karena Joko menelpon kantor pusat agensi secara langsung.


Joko meminta kantor pusat untuk menyambungkannya langsung dengan Aji untuk berbicara dengannya.


Aji yang mengetahui hal itu pun segera bergegas pergi ke ruang pusat informasi untuk menerima telepon dari Joko.


Dengan tangan dan bahu yang terbalut dengan perban, Aji tetap berlari dan bergegas menuju ruang pusat informasi.


Di dalam ruang itu, terlihat Tri, Aji, serta semua agen peretas yang sudah siap untuk melacak keberadaan Joko melalui jaringan telepon.


“Sambungkan padaku sekarang juga.”


“Baik, Pak!”

__ADS_1


Salah satu operator pun langsung menyambungkan telepon Joko pada Aji saat itu juga.


Setelah tersambung dengannya, Aji memberi sebuah kode pada semua peretas untuk segera melacak keberadaan Joko menggunakan kemampuan mereka masing-masing.”


“Hei, Joko. Ini aku. Aku sudah lama menunggu telepon darimu. Kenapa kau baru menelponku sekarang?”


Aji menyapa Joko dengan sedikit berbasa-basi.


“Sesuatu yang tidak terduga terjadi padaku. Karena itu aku baru sempat menelponmu sekarang.”


Suara Joko terdengar dari ruang informasi, yang membuat semua agen dapat mendengarnya.


“Baiklah, Joko. Aku mengerti itu. Aku pun juga yakin bahwa kau tak benar-benar menembak Yuli. Aku yakin kau difitnah dengan itu. Bagaimana jika kita bertemu dan….”


“Dengarkan aku, Pak!” Joko memotong ucapan Aji yang sedang berusaha membujuknya agar kembali, sekedar menyerahkan diri.


“Bolehkah aku meminta tolong? Aku akan meminta tolong padamu, bukan sebagai juniormu, tapi sebagai kolegamu. Dapatkah aku?” ucap Joko.


“Tentu saja, Joko. Silahkan.”


“Biarkan aku bertemu dengan Siti.”


Tri dan Aji pun cukup terkejut mendengar permintaan Joko yang cukup remeh. Aji terdiam sejenak dan memikirkan, apa yang sedang direncanakan oleh Joko.


“Kenapa kau ingin bertemu dengannya? Apa kau bisa memberitahu alasanmu?” tanya Aji.


“Maaf, Pak, tapi aku tak bisa memberitahu alasannya padamu. Namun, jika kau mewujudkan keinginanku, aku akan segera datang kembali ke agensi dan menemuimu.”


“Baiklah. Apa hanya itu?”


“Besok sore pukul 17.00 WIB, di taman kota yang berada di dekat stasiun bawah tanah tepatnya. Aku ingin melihat Siti di sana. Ingat! Hanya Siti, tak ada agen atau siapapun itu.”


“Jika aku melihat satu agen saja, aku akan menganggap kesepakatan kita sudah batal.”


“Hmm. Mungkin aku harus membicarakan ini dengan atasanku……”


*TUUT!!!!


Joko memutuskan sambungan telepon, sebelum para peretas dapat menemukan lokasi Joko.

__ADS_1


Semua peretas kesal dan menggelengkan kepalanya, melihat satu sama lain. Begitupun dengan Aji dan Tri yang hanya diam tak berkata-kata.


__ADS_2