SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
062 - TERTEMBAKNYA YULI.


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Joko telah berada di rumah sakit dan menunggu Tini yang sudah siuman dengan dokter yang memeriksanya di dalam ruangan.


Saat Tini keluar dari ruangan medis, Tini tersenyum dan menyapa Joko.


“Kau disini, Pak? Untungnya, tidak ada masalah dengan tulangku. Sepertinya aku memiliki tulang yang kuat sama sepertimu, tapi, apa kau baik-baik saja, Pak? Apa kau merasa tak nyaman?”


Tini cengengesan, menyombongkan dirinya pada Joko dan bertanya balik.


Sejenak terdiam, Joko memandangi keadaan Tini dengan tatapan penuh penyesalan karena telah melibatkan seorang wanita dalam misinya yang sangat berbahaya.


“Kembalilah istirahat, Tini. Aku akan menelponmu kembali nantinya. Turuti saja perintah dari dokter,” ucap Joko yang langsung pergi meninggalkan Tini.


“Pak, Tunggu!!”


Kondisi Tini masih belum pulih sepenuhnya, dan ia pun tak bisa menyusul Joko yang sudah berjalan cepat.


***


Setelah pergi dari klinik tempat Tini dirawat, Joko kembali menaiki mobil Tini dan membawanya ke bengkel.


Di bengkel Joko teleh membayar semua tagihan dari mobil Tini yang rusak dan memberi pesan pada tukang bengkel, agar menghubunginya setelah selesai.


Sebuah taksi lewat di pinggir jalan, lalu Joko menghentikannya untuk kembali ke hotel dan mengambil mobil miliknya sendiri.


Setengah jam berlalu, Joko akhirnya sampai di depan gedung hotel. Setelah membayar ongkos taksi, ia keluar dan berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya sendiri.


Saat di dalam mobil, Joko membuka ponselnya, menghubungi Yuli, sebelum ia menyalakan mesin mobil.


Entah apa maksud Joko, secara tiba-tiba saja ia ingin bertemu dengan Yuli setelah kejadian yang menimpanya di jalan raya.


“Halo. Ini aku. Apa kita bisa bertemu?”


“Baiklah. Kurasa kita memang perlu bertemu. Sebenarnya, ada juga yang ingin kukatakan padamu juga,” jawab Yuli menerima panggilan dari Joko.


“Dimana kau berada? Di kantor? Mau kujemput?” Joko menawarkan untuk datang menjemput Yuli.


“Tak perlu, Joko. Kirimkan saja alamat lokasimu. Biar aku yang menuju ke tempatmu.”


“Baiklah. Sampai jumpa.”


Setelah mematikan sambungan teleponnya, Joko menyalakan mesin mobilnya, lalu pergi menuju suatu tempat.


Suara gahar mobil mustang milik Joko memenuhi jalanan yang ia lewati. Joko menyetir mobilnya tak lambat, juga tak cepat, hingga membuat suara mesin dan knalpot terdengar lebih tajam dan gahar.


***


Di sebuah taman kota, dengan air mancur di setiap sudut taman, dengan tanaman serba hijau yang menghiasi taman kota itu menjadi lebih asri.


Kicauan burung, suara air mancur yang jatuh, para orang tua yang sedang mengajak anaknya berjalan, pasangan muda-mudi yang dimabuk asmara, terdapat di satu taman yang cukup luas itu.


Taman itu berada di tengah-tengah bangunan yang megah, kantor perusahaan, serta beberapa toko, sepanjang jalan.


Begitupun dengan para orang dewasa yang sedang istirahat dari lelahnya mengais rezeki, mereka membeli jajan milik pedagang kaki lima, yang berada di luar area taman, membuat taman itu lebih terlihat ramai.


Joko dengan mobilnya pun sampai dan memarkirkannya di pinggir taman.


Semua mata tertuju pada mobil Joko yang terparkir di pinggir taman, selain suara mesin dan knalpotnya yang sangat gahar, mobil Joko merupakan mobil antik dari tahun lawas, yang terlihat masih mulus dan bagus, karena Joko rajin membawanya ke tempat servis.


Joko keluar dari mobil dan berjalan menuju jembatan fly over yang sudah lama tak terpakai. Sebelum sampai di jembatan, Joko sudah mengirimkan lokasinya pada Yuli, agar menyusulnya ke tempat itu.


Sesampainya di jembatan, Joko dapat melihat semua aktivitas orang-orang yang berada di taman.


Dua orang anak kecil berlarian saling mengejar satu sama lain, mengingatkan Joko pada dirinya saat masih kecil.


Saat kecil, Joko senang bermain tembak-tembakan dengan air, karena ia mempunyai cita-cita untuk bergabung menjadi pasukan militer atau pasukan bersenjata Republik Indonesia.

__ADS_1


Joko tersenyum kecil melihat kedua anak itu yang berlari dan tertawa, dan belum merasakan beban apapun di hidupnya.


“Joko!!!” Yuli tiba-tiba datang dari belakang dan menyapanya, sembari berjalan mendekat.


“Hhh. Apa ini? Bagaimana bisa kau berada disini? Lantas, ada apa dengan wajahmu?” tanya Yuli yang melihat bekas luka di wajah Joko, akibat kecelakan yang baru saja dialaminya.


“Bukan apa-apa. Hanya kecelakaan kecil,” jawab Joko dengan nada dingin seperti biasanya.


“Baiklah, kalau begitu.”


Yuli hanya membiarkan Joko kali ini, walau Yuli tahu bahwa Joko kembali berulah dengan tindakan gegabah.


“Hmmm. Apa kau mau berjalan-jalan sambil berbicara?”


Yuli tersenyum pada Joko dan menawarkan untuk berjalan di sekitar taman.


“Tentu.”


Joko mengangguk, tanda setuju dengan ajakan Yuli.


Mereka berdua kembali turun dari jembatan fly over dan mulai berjalan di trotoar, sekitar taman.


Joko dan Yuli berjalan berdampingan layaknya sepasang kekasih yang sedang bertengkar, dengan jarak yang tak jauh, dan juga tak dekat saat itu.


“Pekerjaan yang membuat kita mempertaruhkan nyawa tidak berarti, begitu kau keluar.”


Tini melipat tangannya di dada, memulai topik pembicaraan dengan Joko.


“Apa kau ingat? Saat pertama kali kita bergabung dan menjadi peserta latihan, kita berdua adalah rekan saat itu.”


“Di hari terakhir menjalani tes fisik, kita mendaki gunung dengan berlari, pergelangan kakiku cidera, tapi kau meninggalkanku untuk menyelesaikan tugasmu sendiri.”


“Saat itulah aku berpikir, mengapa ada orang yang mempunyai sifat egois seperti itu.”


Joko terus berjalan mendengarkan cerita Yuli, saat pertama kali mereka masuk ke dalam agensi.


“Akan tetapi, setelah kuingat kembali, kau tak melakukannya untuk terlihat baik ataupun mencari muka pada atasan mu, karena pada akhirnya kau tak suka diatur dengan atasanmu sendiri.”


“Aku bisa mengambil kesimpulan saat itu, bahwa kau adalah pria yang fokus dan berkomitmen dengan semua misi yang sedang kau jalani, lebih dari hubunganmu dengan orang lain, yang baru kau kenal.”


Mereka terus berjalan hingga ujung trotoar, yang membuat mereka perlu menyebrangi jalan raya untuk meneruskan langkahnya.


Langkah mereka terhenti di zebra cross, menunggu lampu hijau menyala bagi pengguna jalan kaki.


“Apa kau pernah menapaki jalan, yang kau sendiri sadar dan tahu bahwa jalan itu sangatlah keliru?”


Joko menoleh, menatap Yuli dan memikirkan, apa maksud omongan Yuli itu. Sepertinya kata-kata itu mengandung banyak maknya yang telah disembunyikan oleh Yuli selama ini.


Mungkin juga itu berkaitan dengan hubungannya dengan Imron atau dengan yang lainnya, yang membuat kepala Joko bertanya-tanya akan hal itu.


“Hhh. Aku yakin kau belum pernah, Joko. Walau kau seorang yang brutal, sadis, kejam, tapi kau melakukan itu semua hanya untuk para kriminal, dan itu adalah tindakan yang tidak salah sama sekali.”


“Aku sangat kagum padamu. Kau berdiri di atas kakimu sendiri. Kau tak terikat oleh siapa pun dan tak ada seorangpun yang bisa menggoyahkan mu, sekalipun atasanmu.”


“Jujur saja. Aku merasa iri padamu, karena komitmen dan konsisten yang selalu kau jalani.”


“Jika aku menjadi dirimu, aku tak akan pernah membuat keputusan yang bodoh, yang berdampak hingga saat ini.”


Sepatah kata pun belum keluar dari mulut Joko. Ia terus diam dan mendengarkan Yuli sembari memikirkan, apa sebenarnya yang telah Yuli sembunyikan darinya, mendengar dari semua ucapannya.


Lampu hijau pun menyala, tanda para pejalan kaki dapat menyebrangi jalan memalui zebra cross. Joko melangkah lebih dulu, tapi tidak dengan Yuli yang masih berdiri di trotoar


Setelah Joko mendapat lima langkah kakinya,


“Joko!!!”

__ADS_1


Yuli kembali memanggilnya, Joko menoleh dan melihat Yuli yang masih berdiri di trotoar, di saat semua orang sedang menyebrang jalan.


“Sebelum aku berkencan dengan El, aku berhutang budi kepada seseorang. Orang itu membuat permintaan yang tak bisa kutolak, hingga aku terikat dengan orang itu.”


Perlahan, Joko melihat situasi sekitar dan melangkahkan kakinya kembali mendekati Yuli, bertanya,


“Siapa dia? Siapa orang itu?”


Mata Yuli mulai sembab dan terlihat seperti akan menangis.


“Seharusnya aku tak menolak permintaannya saat itu, tapi aku tetap tak bisa.”


Air mata Yuli pun menetes perlahan.


“Apa dia Imron?” tanya Joko yang tanpa ragu menyebut namanya, yang membuat Yuli tak bisa membantahnya, karena ucapan Joko sepertinya tepat.


“Joko! Sebenarnya aku…..”


*DOR!!!!!


Satu tembakan yang mengarah, tepat mengenai perut bagian kiri Yuli. Kini semua orang pun berlarian dan ketakutan mendengar suara tembakan itu.


Begitupun dengan Joko yang dibuat terkejut melihat kemeja Yuli yang sudah berlumuran darah.


Dengan cepat, Joko melompat dan menopang tubuh Yuli yang hampir terjatuh ke aspal.


“Yuli!!! Yuli! Bertahanlah, Yuli!!”


Joko melihat luka di perut Yuli terus mengeluarkan darah terus menerus, disusul dengan Yuli yang mulai muntah darah.


“Bertahanlah, Yuli! Jangan berbicara! Jangan katakan apapun, dan jangan bergerak sedikitpun!!”


Joko melepas jas yang ia pakai, lalu menutup luka di perut yuli dan mengikatnya dengan dasi yang juga dicopot olehnya, dengan kaki kiri Joko yang masih menopang tubuh Yuli.


Segerombolan orang kembali mendekat dan mengerumuni Joko yang sedang menopang tubuh Yuli yang sudah banyak mengeluarkan darah, hingga membasahi aspal.


“Hei, kalian! Tolong panggilkan ambulan untuknya. Apa kalian bisa?” ucap Joko yang setengah panik melihat keadaan Yuli yang semakin memburuk.


“HEI!! APA KALIAN TULI? PANGGIL AMBULAN, CEPAT!!”


Joko berteriak dan memaki semua orang yang hanya diam dan malah mengambil sebuah foto dan merekamnya.


“Astaga!”


“Kenapa dia?”


“Dia tertembak!”


“Benarkah? Apa dia benar-benar tertembak?”


Segerombolan orang berkerumunan mulai bergumam satu sama lain dengan orang di sekelilingnya.


Seorang pria mencurigakan menggunakan hoodie berwarna hitam, dengan topi terlihat sedang meninggalkan kerumunan, seorang diri.


Mata Joko tertuju pada pria itu, saat akan mengejarnya, ia tak bisa melakukan itu karena, melihat keadaan Yuli sekarang ini.


Tangan kanan Yuli bergerak menarik kemeja Joko, sepertinya Yuli ingin mengatakan sesuatu pada Joko.


Joko mendekatkan kepalanya pada Yuli yang terus berusaha menarik bajunya agar lebih dekat lagi.


“Joko! Jangan… Jangan pernah! Jangan pernah percaya pada siapapun, Joko! Direktur Aji…..”


Perlahan mata Yuli tertutup dan tangannya yang sudah tak menarik kemeja Joko, sebelum ia menyelesaikan perkataannya, yang membuat Joko semakin panik dengan itu.


“Yuli. Bangunlah! Bangunlah, Yuli. Aku akan memanggil ambulan untukmu. YULI!!!!”

__ADS_1


Joko berteriak sekencang-kencangnya dan menggerak-gerakkan tubuh Yuli yang telah tak berdaya.


__ADS_2