
Di tempat lain, terlihat Joko yang baru sadar dari tidurnya setelah tak sadarkan diri akibat merasakan sakit yang mendalam di kepalanya.
Joko terbangun dan terkejut melihat dirinya yang sudah berada di dalam rumah sakit dengan jarum infus yang berada di tangan kirinya.
Pelipis Joko pun juga telah dipakaikan sebuah perban untuk menutupi luka saat ia mengejar Hendro kemarin malam.
Saat sadar, Joko langsung teringat kembali pada mata-mata yang pernah bekerja untuknya, dan saat ini bergabung dengan geng yang dipimpin oleh Sulistyo.
“Baiklah. Aku aku harus menemukannya. Mungkin dengan itu bisa membantu mengembalikan ingatanku. Aku yakin dia punya banyak petunjuk,” gumam Joko dalam hati.
Joko melepas jarum infus di tangan kirinya, dan mengambil jas hitam, lalu pergi meninggalkan rumah sakit begitu saja.
Di dalam perjalanan, Joko mendapat sebuah pesan SMS masuk dari Tri yang menyuruhnya untuk menemui Rina secepatnya.
Tanpa berganti pakaiannya, Joko pergi ke kantor ARN dan menemui Rina.
Sesampainya Joko di ruangan Rina, ia bertemu dengan Aji yang saat itu juga berada di ruangannya. Joko membungkuk memberi salam pada kedua atasannya itu.
“Ada apa dengan wajahmu?” tanya Aji yang terkejut melihat pelipis Joo yang terbalut dengan perban.
“Aku mengalami kecelakaan mobil dalam perjalanan pulang kemarin,” jawab Joko.
“Lantas, kenapa kau tak menelpon atau memberitahu siapapun?”
“Aku baru keluar dari rumah sakit, Pak. Maafkan aku.”
__ADS_1
“Kau mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang?” tanya Rini.
“Benar, Bu.”
Rina hanya menganggukkan kepalanya.
“Apa kau yang menginterogasi Hendro kemarin? Bagaimana hasilnya? Apa kau menemukan sesuatu?” lanjut Rini.
“Aku yakin kau sudah mendengarnya dari ketua Tri, Bu. Aku kehilangan kendali saat menginterogasinya, jadi, interogasi pun tak berjalan dengan lancar.”
“Maksudmu, kau tak bisa mendapatkan apapun darinya?”
“Benar, Bu.”
“Lantas, mengapa kau kemari?”
Joko pun tiba-tiba ingin mundur dari kasus ini.
“Boleh aku mengetahui alasannya?”
“Aku hanya ingin beristirahat dan mengambil cuti selama sepekan atau dua pekan kurang lebih.”
“Hmm. Kemarin kau sangat ingin menangani kasus ini, tapi tiba-tiba kau ingin mundur dari kasus ini. Ada apa denganmu sebenarnya?”
Aji berdiri dari kursinya dan mengajak Joko berbicara di luar.
__ADS_1
“Ikut aku. Mari bicara denganku di luar.”
“Tidak, Direktur Aji. Biarkan saja. Bila dia sakit maka dia harus beristirahat.”
Rina melarang Aji saat mengajak Joko untuk berbicara di luar dengannya.
“Baiklah, Joko. Aku mengizinkanmu untuk cuti dan kau pun juga boleh mundur dari kasus ini.”
“Bu!” ucap Aji.
“Apa lagi? Bukankah kau sendiri yang tidak setuju saat dia bersedia menangani kasus ini, sebelum kita memulainya?”
Aji pun terdiam karena ia tak mungkin membantah Rina.
“Baiklah. Kau boleh pergi, Joko. Sebelum itu, serahkan kartu identitasmu dan pistol yang yang berada di ikat pinggangmu.”
Joko melepas kartu nama di jasnya dan mengambil sebuah pistol di ikat pinggang, lalu menaruhnya di meja Rina.
“Aku permisi.”
Joko membungkuk, lalu pergi meninggalkan ruangan Rina.
Kini tinggal hanya Aji dan Rina yang berada di ruangan itu.
“Aku yakin dia tidak akan pernah berhenti menyelidiki, Bu. Apa kau yakin dengan keputusanmu? Aku yakin dia sedang merencanakan sesuatu untuk…”
__ADS_1
“Aku tahu itu. Itu sebabnya aku melepaskannya begitu saja,” potong Rina.
“Apa maksudmu, Bu?” tanya Aji yang kebingungan.