
Jantung Joko berdetak cukup kencang dan tarikan nafasnya yang mulai tak karuan karena Sulistyo benar-benar akan menyetrumnya.
*SRRRTTTTTTT!!!!!
Seluruh tubuh Joko bergetar cukup kencang, begitupun dengan matanya yang tertutup dan terbuka, saat Sulistyo menyalakan saklar yang membuat kabel itu memiliki arus listrik.
“HAHAHAHAHA!!!!!!”
Sulistyo kembali mematikan saklar saat melihat Joko yang sudah tak sadarkan diri setelah beberapa detik ia menerima arus listrik itu.
Setangguh dan sekuat apa pun Joko, ia pasti akan tumbang jika menerima arus listrik bertegangan tinggi.
Sulistyo mengambil sebuah botol whiskey, membuka tutup botolnya, lalu menyiramkannya pada Joko, yang membuat Joko tersadar karena itu.
“Bagaimana rasanya, Joko? Hahahaha. Apa kau senang dengan permainan ini?” ucap Sulistyo.
“Lebih baik kau membunuhku sekarang juga, jika tidak, aku akan menangkapmu hidup-hidup dan mencongkel kedua bola matamu, lalu ku pajang di depan makam ayahmu,” ucap Joko.
Joko terlihat sangat kesal dan marah, dari tatapan matanya dia sangat ingin mencabik-cabik Sulistyo karena telah melakukan itu padanya.
“Hahahaha. Astaga. Kau bahkan masih merasa hebat disaat kau sudah seperti ini. Apa kau berpikir kau masih mempunyai harapan untuk menangkapku?”
__ADS_1
“Aku telah mempersiapkan ini untuk menangkapmu, Joko. Aku pun tahu, jika Budi adalah mata-mata yang kau suruh, tapi aku membiarkannya, dan balik mempergunakannya untuk menangkapmu.”
“Hahahaha. Sepertinya kau dan aku mempunyai pemikiran yang sama,” tawa Joko.
“Apa? Kau tertawa? Bisa-bisanya kau tertawa?”
“Baiklah. Seperti katamu, aku sudah tidak mempunyai harapan. Kurasa kau benar. Mungkin aku tak akan keluar dari sini hidup-hidup, begitupun denganmu,” ucap Joko.
“Kudengar kau membuat kesalahan besar di daratan. Dengan itu kau tak mempunyai rute untuk memasok barang mu kembali, melihat kau dan anak buahmu yang berada di semenanjung dan sekeliling lautan.”
“Hhhh. Aku penasaran, berapa lama kalian bisa bertahan. Kalian sama sepertiku. Sama-sama terjebak di tempat ini.”
“Hahahahaha. Dasar Bodoh!!”
Sulistyo memukul kepala Joko menggunakan gagang golok yang tumpul.
“Buka ruangan itu!!!”
Sulistyo menyuruh salah satu anak buahnya untuk membuka salah satu ruangan yang berada di markasnya.
“Sial. Kenapa kau tak langsung membunuhnya saja disini?” ucap salah satu anak buah Sulistyo.
__ADS_1
“Buka sekarang juga!!!!”
Sulistyo membentak anak buahnya karena membantahnya.
Anak buah Sulistyo pun membuka pintu ruangan yang terletak di samping kiri Joko yang sedang terikat.
“Hahahahaha. Lihatlah, Joko. Apa kau tak melihatnya?” ucap Sulistyo.
Ruangan itu adalah sebuah lab yang mereka gunakan untuk memproduksi narkoba sendiri. Di ruangan itu juga terdapat beberapa pekerja yang menggunakan pakaian serba tertutup layaknya seorang ilmuwan.
Semua pekerja di lab itu tetap fokus membuat narkoba tanpa memperdulikan apa yang sedang terjadi di markasnya.
Joko sangat terkejut ternyata Sulistyo dan anak buahnya bertindak sejauh itu. Joko juga tak menyangka mereka akan memproduksi narkotika secara pribadi dan mengedarkannya keseluruh pelosok.
“Bagaimana menurutmu, Joko? Bukankah ini hebat? Hahahaha. Aku yakin kau tidak menduga akan hal ini sebelumnya.”
“Aku telah merekrut beberapa ahli dan seorang ilmuwan dari Amerika untuk membuat ini. Ilmuwan itu adalah seorang ahli kimia.”
“Dia pernah menjadi dosen di salah satu Universitas ternama di Amerika sebelum aku mengajaknya bergabung bersamaku. Bagaimana? Ini sungguh mengesankan, bukan? Hahahaha.”
Sulistyo terus memamerkan apa yang telah disiapkannya sejak lama.
__ADS_1
Joko masih terdiam dan tak bisa berkata apapun dengan itu.