SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
055 - KEKESALAN AJI.


__ADS_3

“Apa kau sudah bercermin? Lihatlah wajahmu, Pak. Kau tampak sangat pucat. Kau bahkan tak ingat apapun setelah melakukan hal itu. Kau tak bisa terus seperti ini, Pak,” ucap Dokter yang terus membujuk Joko.


“Aku akan mengurusnya sendiri, Dok. Kau tak perlu cemas,” ucap Joko yang langsung pergi keluar meninggalkan ruang medis.


Dokter yang melihat tingkah laku Joko pun hanya bisa diam, karena ia sudah memahami, memang seperti itulah sifat dan watak Joko. Ia selalu gegabah brutal, tak bisa diatur, dan bertindak sesuka hatinya.


***


Di ruang Aji, terlihat Joko yang sedang berdiri menghadap Aji untuk menyelesaikan masalah yang telah diperbuat olehnya.


“Astaga, Joko. Apa kau gila? Kekacauan apa lagi yang kau buat? Aku pun juga mendapat laporan atas hal itu, walau aku menyaksikannya sendiri, kau menodongkan pistol padanya, jadi, silahkan buat alasanmu sendiri.”


“Maafkan aku, Pak. Aku tidak punya alasan untuk hal itu,” ucap Joko.


“Begitukah? Kalau begitu, aku akan langsung ke intinya.”


Aji berjalan lalu duduk di kursi kerjanya.


“Pergilah ke tempat yang tenang dan tenangkan dirimu selama beberapa bulan.”

__ADS_1


Sepertinya Aji ingin menyuruh Joko untuk mengambil cuti dalam waktu yang panjang.


“Maafkan aku, Pak. Hal ini tak akan terulang kembali. Tolong jangan suruh aku cuti.”


“Astaga. Kurasa aku sudah memberimu cukup kesempatan, lantas apa yang baru saja kau lakukan? Aku tak bisa membiarkan ini, Joko.”


“Aku tahu kalian pernah bekerja di tim yang sama, tapi kini dia adalah atasanmu. Apa kau tak memikirkan hal itu? Kau malah menyerang atasanmu sendiri di kantor,” ucap Aji yang menggebu-gebu karena kelakuan Joko.


“Apa Kepala Yuli membuat masalah denganku?” tanya Joko.


“Apa maksudmu?” tanya balik Aji.


Joko malah membalikkan pertanyaannya yang membuat Aji cukup kesal dan berdiri mendekati Joko.


“Dasar kau! Apa kau masih tak mengerti? Kau sudah melampaui batasmu, Joko. Kau adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Kau tak menyadari itu? Aku tak akan membiarkan anggota stafku terluka lagi.”


Aji menegaskan ucapannya.


“Tidak, Pak. Aku tidak bisa berhenti begitu saja,” ucap Joko yang masih kekeh dengan pendiriannya.

__ADS_1


“Baiklah. Apa boleh buat, jika kau tak bisa menerima tawaranku. Aku harus memanggil komite disiplin,” ucap Aji.


“Hmm. Ini cukup membingungkan bagiku, Pak. Yang menurutku masih mengganjal dan sulit diterima adalah betapa sensitifnya reaksimu terhadap ini sekarang,” ucap Joko yang membuat Aji terdiam


“Kau boleh pergi!” ucap Aji yang terdengar seperti mengusir Joko saat Joko membahas hal itu padanya.


Aji pun kembali duduk ke kursi kerjanya dan berkata,


“Mulai saat ini, hukumanmu bukan tanggung jawabku lagi, Joko.”


Sepertinya Aji pun mulai putus asa dengan sikap gegabah Joko, jika mendengar dari perkataannya.


Joko tersenyum pada Aji, menunduk memberi hormat, lalu pergi dari ruangannya.


Di dalam perjalanan kembali, Joko bertemu dengan Yuli di lorong kantor ARN.


Mereka berdua berpapasan dan saling menghentikan langkahnya. Joko dan Yuli saling menatap satu sama lain.


Joko melihat leher Yuli yang cukup memar akibat ulahnya. Begitupun Tini yang melihat Joko dengan tatapan yang menyedihkan.

__ADS_1


“Apa kau baik-baik saja? Aku hendak menemuimu tadinya, tapi kau masih tak sadarkan diri. Aku sungguh tak menyangka tadinya, saat kau melakukan itu padaku,” ucap Yuli yang terdengar lesu.


__ADS_2