SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
049 - MENINGGALNYA BUDI.


__ADS_3

Markas Sulistyo pun terlihat seperti lautan darah, karena darah yang mengucur dari semua anak buah Sulistyo telah menggenang dan memenuhi ruangan itu.


Joko menuju ruang tempat Sulistyo memproduksi narkoba, lalu melumpuhkan semua pekerjanya.


Saat Joko keluar dari ruangan untuk mencari keberadaan Sulistyo, ia melihat Budi yang terkapar di pojok ruangan produksi itu.


Dengan kaki yang sedikit pincang, Joko kembali masuk ke dalam ruangan produksi untuk menyelamatkan Budi.


“Budi! Budi!! Bangun, Budi! Bangunlah!!”


Joko mengangkat kepala Budi dan mencoba menyadarkannya.


“Pak Joko!!!”


Dengan mata yang sayu dan kondisi yang sangat buruk, Budi membuka matanya perlahan dan memanggil Joko.


“Kau bangun, Budi? Jangan bergerak atau berbicara. Aku akan memanggilkan ambulan untukmu,”


Saat Jok berdiri dan akan pergi, Budi menahan tangan Joko dan menariknya kembali.


Joko pun kembali duduk berjongkok di samping Budi.


“Sudah cukup, Pak. Sudah cukup ini semua bagiku. Kau pernah bertanya padaku, kenapa aku tidak menghubungi agensi ARN setelah insiden itu.”


“Sebenarnya, saat aku mencoba untuk menghubungi nomor yang kau berikan, beberapa orang datang ke persembunyianku hari itu dan mencoba untuk membunuhku.”

__ADS_1


“Akan tetapi, aku bisa menyelamatkan diriku dan kabur dari kejaran mereka. Hhhh. Selama ini aku sangat senang bisa bekerja dan membantumu, Pak.”


“Jangan pernah percaya pada siapapun itu, termasuk semua orang yang berada di agensi mu, karena kita belum mengetahui siapa pengkhianat itu. Jangan pernah, Pak! Jangan pernah percaya!”


Karena kondisinya yang sudah tak bisa tertolong, Budi pun memejamkan matanya kembali.


“Budi! Bangun, Budi! Bangunlah! Bertahanlah!! Aku akan memanggilkan ambulan untukmu. BUDI!!!!!!!”


Joko berteriak dan berusaha menekan dada Budi untuk memancing nafasnya.


Joko meneteskan air matanya karena Budi telah kehilangannya nyawanya hanya untuk membantunya. Joko tetap berusaha menekan dada Budi walau usahanya tak akan bisa untuk membuat Budi bangkit dari kematiannya.


Saat Joko terus berusaha membangunkan Budi, salah satu pekerja lab pun tersadar dan mencoba untuk menusuk Joko dari belakang.


*DOR!!! DOR!! DOR!!!


Tini yang berhasil melacak keberadaan Joko pun datang dan berhasil menemukan keberadaan Joko di markas Sulistyo.


Tini mengeluarkan tiga tembakan dengan salah satu pelurunya yang berhasil mengenai kaki pekerja itu dan berjalan mendekati Joko dengan tetap bersiaga dengan pistolnya.


Pekerja itu pun terjatuh tepat di belakang Joko.


“Apa kau baik-baik saja, Pak?” tanya Tini.


Joko berdiri dan mengambil pistol di tangan Tini.

__ADS_1


*DOR!!!!


“Dimana Sulistyo?”


Joko menembak kaki pekerja yang gagal menyerangnya dan bertanya padanya.


Pekerja itu menunjuk pada lift, yang menandakan bahwa Sulistyo telah kabur lebih dulu.


*DOR!!!


Joko kembali menembak jidat pekerja itu yang membuatnya tewas seketika.


Tini sangat terkejut saat melihat Joko yang tak segan-segan menembak mati salah satu pekerja itu.


“Aku menyerahkannya padamu. Kau bisa panggil ambulan dan pertolongan untuk mereka yang masih hidup. Aku akan mengejar bajingan itu.”


Joko tetap memaksakan dirinya untuk mengejar Sulistyo tanpa melihat kondisinya sendiri yang sudah tak karuan.


“Tapi, Pak!!”


Joko langsung pergi dan meninggalkan Tini di markas itu.


Tini pun sudah tak bisa menghalangi Joko karena ia sangat bingung, mana yang lebih dulu ia selesaikan.


Kini Tini pun sendirian. Ia kembali terkejut saat melihat semua anak buah Sulistyo yang terkapar tak bernyawa dengan kondisi luka tusuk di bagian-bagian vital.

__ADS_1


__ADS_2