SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
078 - BEBASNYA JOKO.


__ADS_3

Keesokan harinya, terlihat Joko yang sudah kembali bekerja di kantor. Joko berada di ruang Rina untuk membicarakan kasus Imron dan menyusun rencana untuk segera membereskannya.


Joko membaca laporan kematian Imron, dan membuka lembaran laporan itu satu persatu.


“Penyebab kematiannya adalah sesak nafas karena tekanan pada leher. Itu artinya, dia masih hidup sampai di gantung di papan reklame.”


“Aku mengira dia disiksa cukup parah sebelum itu. Dia mengalami puluhan patah tulang dan beberapa luka tusuk lainnya,” jelas Rina.


“Bagaimana dengan area di dekat TKP?” tanya Joko yang masih tetap fokus membaca laporan itu.


“Kami telah memeriksa semua rekaman kamera pengawas di dekat sini, tapi aku tak bisa menemukan apapun. Aku ingin kau menyelidiki kasus ini secara terpisah.”


“Siapa itu? Siapa yang menangani kasus ini?” tanya Joko.


“Ketua Tri lah yang bertanggung jawab,” jawab Rina.


“Lalu kenapa kau memintaku untuk menyelidiki hal ini secara terpisah?”


“Bukankah sudah jelas semuanya? Jika mereka mengincarmu, kau akan makin dekat dengan kebenaran.”


“Apa maksudmu, Bu? Siapa, ‘mereka’ yang kau maksud?” tanya Joko yang tak tahu maksud perkataan Rina.


“Ah. Apa itu yang kukatakan padamu?” ucap Rina berpura-pura. “Kau bisa mencari tahunya sendiri, Joko. Itulah sebabnya aku memanggilmu kemari.”


Joko hanya mengangguk dan,


“Baiklah. Kalau begitu, aku permisi dulu.”


Joko pun pergi dari ruangan Rina.


Dalam perjalanannya kembali dari kantor Rina, Joko bertemu dengan Aji di lorong gedung.


Aji menghentikan langkahnya saat ia melihat Joko. Begitupun dengan Joko yang berhenti dan menatap Aji.


“Kau kembali?” sapa Aji. Joko hanya berdiri dan tetap diam. “Baiklah. Aku mengerti kau sangat membenciku saat ini.”


“Aku tak pernah membenci atau dendam kepadamu, Pak. Aku hanya marah pada diriku sendiri. Aku merasa telah membiarkan perasaan pribadiku, mencari keraguan yang seharusnya kumiliki,” ucap Joko.


Aji hanya mengangguk, lalu berjalan melangkah pergi.


“Apa kau pernah mendengar Warrior?” tanya Joko yang membuat langkah Aji terhenti. “Aku bertanya padamu, apa kau mengetahui Warrior?”


Aji membalikkan badannya, menatap Joko, tanpa memberi jawaban apapun.

__ADS_1


“Keheninganmu. Apa boleh aku menafsirkannya sendiri?” lanjut Joko.


“Berhati-hatilah, Joko. Kecurigaanmu, mungkin akan memakanmu hidup-hidup.”


“Hhhh. Begitukah?”


Joko tersenyum kecil, lalu pergi meninggalkan Aji.


Sesampainya Joko di kantornya, Joko langsung bertemu dengan Tini untuk membicarakan masalah yang akan mereka selesaikan.


Joko menyuruh Tini untuk pergi ke apartemen Imron, selagi mencari sesuatu yang bisa mereka gunakan untuk petunjuk.


Tini juga memberitahu Joko, bahwa ia telah berhasil menemukan sosok direktur yang pernah mempekerjakan Sam, untuk proyek mengerjakan FAKE FACE.


Tini memberikan sebuah alamat, foto dan nama direktur itu, karena Tini yakin mereka saling terhubung dengan Warrior. Direktur itu bernama Zaki.


***


Di sebuah gedung apartemen yang cukup bagus, dekat alun-alun, Joko sudah berada di tempat parkir apartemen, menunggu Zaki dari sana.


Setengah jam lamanya Joko menunggu, akhirnya Joko melihat Zaki yang baru turun dari mobilnya.


Joko langsung keluar dari mobilnya, mengejar Aji yang akan menaiki lift.


Joko menodongkan pistolnya pada perut belakang Zaki. Dia menutup tangannya menggunakan jas yang telah dilepas, agar pistol tak terlihat.


“Siapa kau?” tanya Zaki yang terkejut, Joko tiba-tiba datang dan menodongkan pistolnya.


“Menghadaplah ke depan. Ikuti saja perintahku, jika tak ingin ususmu berceceran di tempat ini.”


Zaki pun diam dan hanya  menuruti perintah Joko.


*TINGGG!!!


Pintu lift pun terbuka, mereka berdua masuk ke dalam lift, menuju ke apartemen Zaki.


Di depan pintu rumah, Joko kembali memakai jasnya, menyimpan pistolnya di ikat pinggang yang tertutup dengan jas.


“Ayah!!!!!”


Seorang anak datang memeluk Zaki saat masuk ke dalam rumah. Begitupun Zaki yang langsung memeluk anaknya sendiri.


“Kau sudah pulang?” Istri juga datang menyambutnya. “Siapa dia?” tanya istri Zaki yang melihat Joko berdiri di belakang Zaki

__ADS_1


“Oh. Dia adalah rekan bisnisku. Kalian bisa masuk ke dalam kamar dahulu. Aku akan berbicara dengannya.”


“Baiklah,” ucap istri Zaki. “Ayo, Nak. Mari kita masuk.”


Istri Zaki pun mengajak anaknya untuk masuk ke dalam kamar, lalu Zaki mengajak Jok pergi ke ruang kerjanya untuk mengobrol.


Di ruangan Zaki, Joko langsung melangkah dan duduk di kursi kerjanya, dengan Zaki yang masih berdiri menatap luar dari jendela.


Joko melihat sekitar ruangan kerja Zaki yang tampak minimali dan sederahana, tak terlihat sesuatu yang mencurigakan dari tempat itu.


“Sebelum aku kemari untuk bertemu denganmu, kurasa aku pernah melihatmu sebelumnya. Bukankah kau ada di Divisi Investigasi Keamanan hingga baru-baru ini?”


“Lalu, kini kau bekerja sebagai direktur di salah satu perusahaan terkaya di Indonesia. Apa Warrior yang memberimu jabatan itu?”


“Siapa itu?” tanya Zako yang terkejut mendengar ucapan Joko. “Siapa yang memberitahumu soal itu? Siapa yang memberitahumu tentang ku?” lanjut Zaki.


“Ssttt. Kau tak perlu takut. Aku tak mengincarmu. Kau bisa memberitahuku nama bosmu, lalu aku akan membiarkanmu hidup dengan tenang.”


“Hhh. Apa kau tahu, berapa banyak pensiunan dari ARN setiap tahunnya? Mereka membuat dan mengurus Intelijen seumur hidup. Menurutmu kemana perginya mereka?”


Zaki mengambil kursi dan duduk di hadapan Joko.


“Perusahaan, agensi dan jalanan. Mereka semua berada di sana. Ini hanya saranku padamu. Jangan mencoba membuat kami melawanmu,” ucap Zaki.


Joko hanya tersenyum kecil, lalu berdiri dari tempat duduknya.


“Hhh. Apa kau sedang mengancamku? Karena kau bekerja di bidang ini, aku yakin kau tahu, bahwa memberikan rasa sakit kepada orang-orang itu lebih sederhana dan lebih mudah dari dugaanmu.”


Joko mengambil sebuah foto Istri dan anak Zaki dari dinding, lalu meletakkannya ke meja kerja Zaki.


Hal itu membuat Zaki cukup takut dengan apa yang akan dilakukan Joko, padahal, Joko hanya mengancamnya. Tak mungkin bagi Joko untuk menyakiti seorang wanita dan anak kecil yang tak tahu apapun.


“Hei! Sepertinya kau salah orang. Kami tidak saling berkomunikasi, bahkan aku sendiri belum pernah melihat atasanku di Warrior.”


Akhirnya Zaki pun berkata jujur pada Joko, karena ancaman yang telah diberikan olehnya.


“Meskipun komunikasi di larang di organisasimu, aku yakin pasti ada cara agar kalian tetap terhubung satu sama lain, entah apa yang kalian gunakan.”


Zaki kembali memalingkan wajahnya, karena Joko terus mendesaknya.


“Baiklah. Biarkan aku menebaknya. Kurasa kalian menggunakan sebuah alat kuno, yang kalian gunakan untuk saling terhubung. Apa aku benar? Jika benar, kau bisa memberikan alat itu padaku.”


“Sial!” Zaki marah dan kesal, tapi tak mampu untuk melawan Joko.

__ADS_1


Dengan terpaksa, Zaki mengambil sesuatu di saku jasnya, lalu memberikannya kepada Joko. Alat itu terlihat seperti sebuah ponsel jadul, dengan antena kecil di bagian atasnya.


__ADS_2