
“Aku juga menemukan metode baru yang akan mengejutkan kalian. Lihatlah papan tulis yang berada di dalam ruangan itu. Semua tulisan itu adalah rumus dan resepnya.”
“Dengan metode baruku ini, tidak akan ada lagi bau, dan kau tak bisa menemukan gas yang terbuang dari limbah ini.”
“Semuanya dari bahan dan waktu produksi sangat berbeda dari metode kami sebelumnya dan metode yang dilakukan oleh ayahku.”
“Dengan kata lain, ini akan masuk dan tercatat ke dalam sejarah. Hahahaha. Ini adalah sebuah resolusi yang cukup besar, Joko!!!!”
“Aku yakin kau berpikir, bahwa aku membagikan semua obat itu melalui kurir tanpa rencana apapun sebelumnya. Hahaha. Ternyata kau tak sepintar yang kupikirkan.”
“Hei, bawa dia masuk!” ucap Sulistyo.
Beberapa anak buahnya pun menyeret Budi yang telah tak sadarkan diri ke depan Joko.
Kondisi Budi terlihat lebih buruk daripada saat Joko bertemu dengannya di terminal kontainer. Kini semua badan Budi lebam dan bonyok luka dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
*PLAK!!!
“Lihatlah bedebah ini. Kurasa dia sudah gila.”
Sulistyo menjambak dan menampar-nampar Budi yang sedang tak sadarkan diri.
__ADS_1
“Budi! Budi!! Bangunlah, Budi!!!!”
Joko berteriak dan mencoba untuk membangunkan Budi yang sudah tak bertenaga.
“Hei! Bawa tikus ini pergi dari sini!”
Anak buah Sulistyo pun kembali membawa Budi pergi dari hadapan Joko.
“Apa kau sengaja membocorkan informasi?” ucap Joko yang merasa bahwa ia telah berhasil dikelabui oleh Sulistyo.
“Astaga, Joko. Akhirnya otakmu bekerja sekarang. Kau benar, Joko. Aku ingin memanfaatkan kalian untuk mencapai tujuanku.”
“Akan tetapi, lihatlah kami, Joko! Aku bisa membuat barangku sendiri dalam jumlah banyak dan kapan pun kami mau membuatnya. Bagaimana menurutmu? Bukankah ini membuatmu bersemangat, Joko? Hahahaha.”
Joko yang sangat kesal pun menghela nafas panjang dan mencoba untuk tetap tenang agar emosinya semakin tak terpancing dengan kata-kata Sulistyo.
Joko pun kembali teringat dengan perkataan Annchi, bahwa Sulistyo hanyalah sebuah boneka, dan ada orang yang mengendalikannya yang bernama Putra.
“Hahahaha. Apa ini semua benar-benar murni idemu sendiri?” tanya Joko.
“Aku yakin ini semua bukanlah idemu. Aku pernah mendengar ceritamu bahwa kau tidak sepintar ayahmu, kau hanyalah seorang anak yang bodoh sehingga ayahmu terus memukulmu setiap hari.”
__ADS_1
“Benar sekali. Aku bahkan sangat yakin bahwa ini semua bukan idemu. Jujur saja padaku, siapa dalang di balik semua ini? Kau tak lebih seperti boneka yang dikendalikan.”
Raut wajah Sulistyo seketika berubah ketika Joko berkata demikian.
“Baiklah. Biar kutebak, siapa dalangnya. Apa dia Putra?”
Semua orang pun terdiam dan menatap Joko, termasuk semua pekerja yang sedang membuat obat-obatan terlarang itu, saat mendengar Joko yang menyebut nama Putra.
“Dasar, Bajingan. Tutup mulutmu!”
*BUKK!!!!
Sulistyo kembali memukul perut Joko dengan cukup keras.
“Hhhh. Kenapa? Apa dugaanku benar? Kau hanyalah boneka yang hanya menuruti perintah darinya.”
“Aku juga tahu bahwa kau lah yang membunuh beberapa anak buahmu, karena ayahmu lah menyuruhmu untuk melakukan itu. Dulu kau hanyalah seorang anak tak berguna di mata ayahmu,” ucap Joko.
“Hhh. Apa kau tak tahu, siapa yang bertanggung jawab atas kematian anak buahmu itu?”
Sulistyo mengambil goloknya kembali dan menodongkannya kepada Joko.
__ADS_1