
Dari kejauhan, Tini tak tahu harus berbuat apa. Ia membawa pistol, tapi tak mungkin baginya untuk menghadapi semua anak buah Sulistyo yang sedang berada di terminal kontainer itu.
***
Beberapa saat kemudian, Joko telah tersadar. Saat ia sadar, ia sudah berada di dalam markas geng Sulistyo dengan semua badan, kaki, dan tangannya yang sudah diikat di kursi.
Joko juga tak bisa melepaskan dirinya dari ikatan itu, karena ikatan itu terlalu kuat.
“Dia sudah bangun, Pak!”
Salah satu anggota Sulistyo melaporkan bahwa Joko sudah tersadar.
Sulistyo yang tertidur akibat terlalu banyak konsumsi narkoba bangun dan tersenyum pada Joko.
Ia kembali mengambil sebuah narkotika berbentuk pil dan menelannya langsung dihadapan Joko.
Tubuh Sulistyo bergetar dengan hebat karena efek yang dihasilkan oleh obat keras itu. Perlahan, Sulistyo berdiri lalu melangkah mendekati Joko yang terikat di tengah-tengah ruangan markas.
__ADS_1
Sulistyo bertingkah seperti hewan dengan mencium dan mengendus-endus Joko dari sisi kiri dan sisi kanan.
“Sepertinya, kau tak takut sama sekali padaku. Bagus. Mungkin kita bisa menjadi sangat dekat,” ucap Sulistyo yang mulai melantur perkataannya.
Sulistyo mengambil sebuah golok berukuran panjang dan duduk tepat tepat di depan Joko.
“Keluargaku. Aku tidak bisa menahannya. Dia selalu memukulku, tapi aku tak pernah membenci atau marah kepadanya. Apa kau tahu, siapa yang sedang aku bicarakan?”
“Aku membicarakan Ayahku, dasar Bajingan!!”
*SRETT!!!!
Joko hanya diam sembari menahan rasa sakit di pipinya itu.
“Dia pulang dengan bagian kepala belakang tertembak dengan peluru yang menembus kepalanya. Aku tidak menguburnya selama sepuluh hari sejak itu.”
“Masalah adalah, aku terlalu teler saat itu, dan tiap kali aku teler, aku merasa seolah dia bangun dari kematiannya dan mengelus kepalaku.”
__ADS_1
“Selama sepuluh hari itu, aku terus makan dan tertidur di sampingnya. Dan saat itulah orang-orang disekitarku mulai menganggapku gila, seperti caramu menatapku saat ini.”
Joko hanya menatap Sulistyo dengan tatapan dingin, karena dia terus mengoceh tentang ayah kandungnya yang telah mati di tangan Joko.
“Astaga. Aku masih mencium baunya? Apa kau juga menciumnya?” ucap Sulistyo yang kembali melantur.
Sulistyo mencabut kabel dispenser dengan tangannya, dan menunjukkannya kepada Joko.
“Saat aku masih kecil, tiap kali ada pasar, kami membantai beberapa lusin anjing sepertimu. Aku menghubungkan batang baja ke sebuah aki truk, lalu kumasukkan kabel itu kepada mulut hingga tenggorokan mereka.”
“Saat itulah tubuh mereka bergetar dengan hebat, lalu cahaya di mata mereka perlahan padam karena sengatan listrik itu.”
“Itu adalah pekerjaan yang tidak ingin dilakukan oleh siapapun, tapi berbeda denganku. Aku melakukan itu seharian penuh, dan tak pernah bosan sama sekali.”
Saat Sulistyo melihat Joko yang tak merasa takut sama sekali, ia memukul perut Joko, dan membuka mulutnya, lalu memasukkan kabel yang terputus itu ke dalam mulut Joko.
Sulistyo juga menggunakan lakban untuk menutup mulut Joko dan agar kabel itu tak bisa keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Kini pun Joko terus berusaha untuk memberontak dengan menggerakkan semua badannya. Akan tetapi, ia tetap tak bisa melepaskan diri dari beberapa tali yang mengikatnya di kursi.
“Astaga. Aku sudah mulai penasaran sekarang ini. Akankah jantungmu akan meledak dahulu, atau kedua bola matamu lah yang meletus?”