SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
083 - APAKAH DIA AYAHKU?


__ADS_3

Karena melindungi Tini, Joko harus terpental dan terkapar hingga pembatas jembatan, yang membuatnya langsung tak sadarkan dirinya.


Tak berbeda dengan Tini yang juga terkapar di seberang Joko, karena Joko mendorongnya, agar ledakan tak mengenainya.


Tini yang masih tersadar pun melihat Putra keluar dari dalam mobil itu, membawa pistol, dan berdiri tepat di samping Joko yang sudah tak sadarkan dirinya.


Putra menodongkan pistolnya pada Joko, sedangkan Tini mencoba untuk berdiri dengan sisa tenaganya.


Tini melihat Putra dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kini Putra mengarahkan pistolnya pada Tini yang berdiri di seberang.


Tubuh Tini bergetar dengan kencang. Dia melihat postur tubuh Putra sama persis, dengan postur tubuh yang dimiliki ayahnya, tapi dengan wajah yang sudah sangat berbeda.


Begitupun dengan Putra. Ia melihat Tini yang berdiri menatapnya, dengan tetap mengarahkan pistol itu padanya.


Sekian detik mereka saling menatap, akhirnya,


“Ayah?” ucap Tini lirih.


*DOR!!!


Sebuah tembakan diberikan Putra dan tepat mengenai dada Tini, yang membuat Tini tersungkur jatuh di atas aspal.


Sebuah mobil hitam datang. Putra segera masuk ke dalam mobil  itu untuk segera pergi dari tempat itu


***


Masih di tempat yang sama. Joko akhirnya tersadar, dan berusaha untuk berdiri.


Joko melihat Syahid yang sudah tak bernyawa, dan melihat Tini yang sudah tak sadarkan diri.


Dengan sekuat tenaga, Joko berdiri dan menghampiri Tini.


Joko sangat lega, saat ia mengetahui bahwa Tini memakai rompi anti peluru di dalam bajunya.


Peluru pun tak bisa menembus jantungnya, tapi hanya membuat Tini tak sadarkan diri dengan itu.


Beberapa saat kemudian, beberapa mobil ambulan dan polisi setempat datang, karena Joko yang telah memanggil bantuan itu.


Begitupun Tini yang sudah sadar. Tini duduk di atas bangku ambulan, dengan Joko yang mulai bertanya, apa yang terjadi saat ia tak sadarkan diri.


Tini pun mulai bercerita bahwa ia melihat Putra, dan mengatakan bahwa Putra mungkin saja adalah ayah kandungnya yang menghilang, karena agensi menutupi tragedi saat ayah Tini menghilang.


“Maksudmu,  dia mungkin ayah kandungmu?” tanya Joko memastikan.


Tini hanya menunduk dan tak memberi jawaban untuk Joko.


“Oi, Tini. Apa kau mendengarkanku? Kau tau siapa dia?”

__ADS_1


“Ya, kudengar dia adalah orang yang dikenal dengan nama Putra. Dia adalah seorang pria yang mendominasi perbatasan Indonesia-China.”


“Dia dikenal dengan sebutan, penjahat di atas penjahat lain. Dia penjahat paling terkenal sepanjang masa.”


“Siapa yang memberitahumu akan hal itu?”


Joko pun terkejut, bahwa Tini selama ini mengetahui hal itu.


“Apa Direktur Aji yang memberitahumu? Kenapa kau tak memberitahuku, jika kau sudah mengetahui hal itu?” ucap Tini.


“Entahlah. Sebenarnya aku juga belum sepenuhnya yakin dengan hal itu, karena, Direktur Aji juga berkata, bahwa dia mungkin juga bukan ayahku.”


“Direktur Aji berkata, dia mungkin juga agen lain yang menghilang saat bertugas. Semuanya masih awang-awang di dalam benakku.”


“Apa kau melihat wajahnya?” tanya Joko.


Sejenak Tini diam dan kembali mengingat wajah Putra yang mempunyai postur yang sama seperti ayahnya. Tini cukup yakin bahwa Putra kemungkinan besar adalah ayahnya.


“Ya. Aku melihatnya, tapi itu bukan ayahku.”


“Apa kau yakin?”


“Apa kau tak bisa melihat ini?” Tini memegang bajunya yang berlubang akibat peluru. “Jika dia memang benar ayahku, dia tidak akan melakukan hal ini padaku.”


“Entahlah. Belum tentu. Dia tidak memastikan, apa kau sudah mati atau masih hidup, bahkan saat ia mempunyai banyak waktu.”


Imron menatap Tini yang masih syok akibat mendapat tembakan, meski ia telah memakai rompi anti peluru.


“Putra membunuh Imron?” tanya Tini terkejut.


“Dia mengetahui ada sebuah petunjuk yang tertinggal di tubuh Imron. Itu sebabnya dia sengaja mendekatiku, lalu dia dengan sengaja membocorkan informasi itu. Agar kita bisa menemukan Syahid.”


“Rencana Putra sangat rapi dan terorganisir. Aku yakin dia bukanlah orang biasa,” jelas Joko.


“Entahlah. Aku masih tak mengerti semua ini,” sahut Tini.


“Orang yang mengirimi kita pesan melalui alat kuno tentang petunjuk di tubuh Imron adalah Putra. Dia orang yang memberi petunjuk pada kita, agar kita dapat menemukan Syahid,” jelas Joko.


“Tapi, Pak. Bagaimana bisa Putra mempunyai alat kuno itu?”


“Kurasa dia mengambil alat kuno itu dari Imron, setelah membunuhnya. Dia sudah merencanakan semua ini, seolah-olah telah menunggu kita, agar kita melihat dia mengeksekusi Syahid, tepat di depan mata.”


“Sama persis seperti saat dia membunuh Imron yang tergantung di papan iklan yang kosong.”


Tini berusaha memahami apa kesimpulan yang diambil oleh Joko.


“Warrior dan Putra mengendalikan Imron. Apa mungkin mereka berdua adalah sekutu?” tanya Tini.

__ADS_1


“Aku tak yakin itu, tapi, pasti ada lebih dari yang kita lihat. Pasti telah terjadi sesuatu yang memisahkan mereka.”


“Tapi dia mengeksekusi Imron dan Syahid secara terbuka. Apa maksud dia melakukan itu?” ucap Tini.


“Kurasa dia ingin mengirim pesan kepada Warrior dengan melakukan itu.”


Tini pun akhirnya mengangguk, mulai memahami, semua alur masalahnya.


“Jadi, apa isi pesan terakhirmu?” tanya Joko pada Tini yang belum sempat membacakan isi pesan yang masuk ke dalam alat kuno itu.


“‘Jangan mencoba mencari jawabannya dari jarak jauh. Mungkin jawabannya ada di sekitarmu’. Begitu pesan itu tertulis.”


“Bisakah aku menyimpulkan bahwa ketua Warrior adalah salah satu orang terdekat kita?”


Sejenak Joko terdiam dan kembali mengingat perkataan Aji, yang pernah mengatakan hal yang sama padanya.


***


Dua minggu pun sudah berlalu. Sesuai janji Rina, dia akan bertanggung jawab dan mengundurkan diri dari agensi, jika tak mampu menangani kasusnya dalam jangka waktu tersebut.


Dan saat itulah, Aji diangkat sebagai wakil komisaris untuk menggantikan posisi Rina.


Di sebuah ruangan pertemuan, para petinggi ARN berkumpul bersama, menindaklanjuti Rina yang sudah mengundurkan diri.


Disana terlihat juga Aji yang ikut serta bersama, Sugeng, Bowo, dan Rizal, beserta Biro Intelijen luar negeri lainnya.


“Karena kita sedang membahasnya, tidak akan bagus, jika posisi itu tetap kosong. Pak, aku berpikir mungkin kau harus mengumumkannya sekarang.” Bowo memulai percakapan memberi usul pada Sugeng.


“Baiklah. Pak Bowo sebagai Manajer merekomendasikan seseorang untuk menempati posisi itu. Aku juga sudah mempertimbangkan beberapa sudut pandang.”


“Aku akan ingin mengangkat Direktur Aji untuk dari Biro Intelijen Asing menjadi komisaris yang baru, menggantikan posisi Nona Rina. Bagaimana menurutmu, Direktur Aji?” lanjut Sugeng.


Aji berdiri mengangguk dan,


“Aku akan melakukan yang terbaik untuk agensi ini, Pak.”


“Hahahaha. Bagus. Duduklah, kau tak perlu berdiri.”


Sugeng tertawa dan mengacungkan jempolnya pada Aji.


“Astaga. Benar juga. Karena semua berada disini. Ada yang ingin kutunjukkan pada kalian.”


Bowo mengambil sebuah lembaran dari tasnya, meletakkannya di atas meja.


“Apa ini?” tanya Sugeng penasaran.


“Ini adalah proposal mengenai perombakan dan pergantian personil yang akan mendatang. Pemilu akan diadakan sebentar lagi, jadi, kurasa kita juga harus bersiap untuk itu,” jelas Bowo.

__ADS_1


“Meskipun begitu, kenapa kau membahasnya disini, Pak?”


Sugeng pun sepertinya tak setuju dengan tindakan Bowo yang seenaknya sendiri.


__ADS_2