SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
054 - JOKO MENYERANG YULI.


__ADS_3

“Ya. Katakan saja!”


“Sebenarnya, aku tak yakin untuk mengatakan ini padamu.”


“Tak apa, Irul. Katakanlah! Aku sendirian,” ucap Joko


“Orang terakhir yang dihubungi selama keadaan darurat di Beijing adalah Kepala Yuli. Hanya nama itu yang berhasil aku temukan dari sini.”


Joko cukup terkejut mendengar bahwa Yuli adalah orang yang menerima panggilan darurat, ditambah melihat Yuli yang baru kembali ke ruangannya setelah menerima telepon di luar ruangan.


*KLOTAK!!!


Ponsel Joko terjatuh saat mendengar kabar itu dari Irul. Joko tiba-tiba kembali merasakan pusing. Joko berdiri dengan keadaan sempoyongan dan hampir terjatuh.


“Ada apa? Apa kau baik-baik saja?” tanya Yuli yang melihat Joko akan terjatuh.


“Joko!! Ada apa denganmu?”


Saat Yuli akan menolongnya, Joko menangkis tangan Yuli, lalu mencekik Yuli dan memojokkannya ke dinding ruangan.


Begitu pula dengan Yuli yang sangat terkejut karena ia tak tahu kenapa Joko melakukan itu padanya.


“Apa yang kau lakukan, Joko?” tanya Yuli.


Joko malah menekan leher Yuli semakin kencang dan bertanya,


“Katakan sejujurnya! Apa kau mengenal, Budi?” tanya Joko.

__ADS_1


“Apa yang kau bicarakan, Joko? Aku tak mengerti maksudmu?” jawab Yuli dengan nafas yang tersendat karena Joko mencekiknya.


Joko mengeluarkan pistolnya dengan tangan kiri, lalu menodongkannya pada Yuli.


“Apa kau orangnya? Apa kau pengkhianat itu? Siapa orang yang menyuruhmu?”


“Lepaskan, Joko!”


Yuli berusaha melepas tangan kanan Joko, tapi ia tak sanggup karena secara fisik Joko lebih unggul jauh.


“Jawab aku!!! Aku bertanya padamu. Siapa dalangnya?”


Joko semakin menggebu-gebu dan menarik pelatuknya. Satu tarikan dilepaskan Joko, maka peluru akan menembus kepala Yuli.


“Apa kau sudah gila? Kendalikan dirimu, Joko!”


Joko berteriak menggebu-gebu dan menempelkan pistol tepat di jidat Yuli.


“JOKO!!!”


*BRAKKK!!!


Aji yang tiba-tiba muncul pun di ruangan Yuli pun langsung mendorong Joko hingga kepala Joko terbentur meja dengan keras.


Saat Joko berusaha untuk berdiri, tiba-tiba ia pun terjatuh kembali dan tak sadarkan diri.


***

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Joko pun tersadar dan dia sudah berada di klinik ARN, dengan dokter yang pernah memeriksanya dahulu.


Joko tersadar dengan nafas yang terengah-engah. Joko terlihat kebingungan dan sangat panik saat menyadari, ia sudah berada di klinik ARN.


Joko langsung memeriksa pistolnya untuk melihat jumlah peluru. Ia kembali menghela nafas saat menyadari isi pelurunya masih utuh, karena telah memastikan bahwa ia tidak benar-benar menembak Yuli di kantornya.


Joko benar-benar hampir tak percaya pada dirinya sendiri karena ia telah melakukan itu di kantor ARN.


Joko meletakkan kembali pistolnya, lalu menarik nafas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya kembali untuk menenangkan dirinya sejenak.


“Kau sudah siuman?” tanya Si Dokter yang baru kembali ke dalam ruang medis.


“Bagaimana aku bisa kemari, Dok?”


“Salah satu staf kami membawamu kemari. Kau pingsan di kantor Kepala Yuli. Apa kau tak ingat?”


“Lantas, apa yang terjadi dengan Yuli? Bagaimana kondisinya?” tanya Joko.


“Dia memar parah di bagian leher dan lengannya,” jawab Si Dokter.


“Itu saja?” tanya Joko yang terlihat masih sangat bingung akibat kejadian itu.


“Itu termasuk kekerasan di tempat kerja, Pak. Selain itu, dia adalah atasanmu. Kau menyerang atasanmu sendiri saat berada di kantor.”


“Kepala Yuli berkata padaku, bahwa dia akan melupakan dan memaafkan kejadian ini, tapi itu…”


“Terserah kau saja, Dok. Aku tak peduli, jadi, silahkan ajukan laporannya. Aku tak keberatan sama sekali dengan itu,” potong Joko yang kemudian berdiri dan mengambil jas miliknya, lalu memakainya kembali.

__ADS_1


__ADS_2