
Malam harinya, di apartemen tempat pembunuhan sepupu Siti. Joko sudah berada di dalam, duduk di atas sofa, menunggu Imron untuk bertemu.
Beberapa saat kemudian, Imron membuka pintu apartemen TKP. Imron mengenakan setelan jas dan membawa sebuah pistol di tangannya.
“Dimana Siti?” tanya Imron yang baru memasuki apartemen kosong itu.
Joko menoleh dan menatap Imron sejenak. Sepertinya itu pertama kalinya mereka berdua bertemu.
“Kenapa kau mencarinya disini? Dia tak ada disini,” ucap Joko yang lalu berdiri.
“Apa maksudmu? Bukan itu yang kau janjikan padaku sebelumnya,” ucap Imron yang telah tertipu Joko.
Joko berjalan menuju meja makan, lalu duduk di atas kursi, meletakkan kedua tangannya di meja.
“Aku tahu kau membunuh sepupunya disini.”
“Hhh. Kau hanya ingin mengatakan itu? Dia sangat menyedihkan, tapi jawabannya cukup sederhana. Yang tahu harus mati,” ucap Imron.
“Apa kau masih berpikir, bahwa aku datang kemari tanpa rencana apapun?” tanya Joko.
Imron meletakkan pistolnya di meja, lalu duduk berhadapan dengan Joko, dan berkata,
“Kuharap kau sudah membawa jawabannya.”
“Siti akan memberitahu semua media, bahwa siksaaan mata-mata ini palsu.”
“Selagi dia melakukan itu, dia juga akan mengungkap daftar agen ARN yang bocor tiga tahun lalu, yang membuat organisasi swasta bernama Warrior,” gertak Joko.
“Hahaha. Siapa yang akan mempercayai omong kosong tanpa bukti itu?” tantang Imron.
“Kudengar seseorang informan memberinya informasi setelah daftarnya bocor. Dia adalah seorang informan yang berada di TKP saat itu. Apa kau ingin tahu, siapa orang itu?”
Imron terdiam, seperti memikirkan sesuatu.
“Oi, Imron! Apa kau mendengarkanku? Itu kau, bukan? Kau yang menelponnya kala itu,” tebak Joko yang sepertinya memang benar. Imron lah dalang di balik bocornya daftar agen itu.
“Sayang sekali. Aku sudah tak mau mendengarkan itu dari mulutmu.”
Imron yang tak bisa menyangkal pun mengambil pistolnya kembali.
“Oh ya. Tadi kau bilang, aku tak punya bukti.” Joko mengeluarkan ponselnya.
“Lantas, bagaimana dengan ini?” Joko menunjukkan sebuah foto yang telah dikirim Siti padanya, yang membuat Imron tak bisa berkata-kata.
“Beberapa hari sebelum daftar itu bocor, foto ini diambil di Beijing, saat aku dan timku juga berada di tempat itu. Aku baru menyadari hal itu setelah melihat foto ini. Kau ada di sana saat itu, Imron. Dasar idiot.”
“Hhh. Astaga. Aku sangat kecewa padamu, Joko. Apa yang bisa kau lakukan hanya dengan sebuah foto?” sangkal Imron.
__ADS_1
“Astaga. Ternyata kau memang benar-benar idiot. Aku tak berusaha membuktikan apapun. Aku hanya berusaha menimbulkan keraguan,” ucap Joko.
“Bagaimana menurutmu jika bukan aku yang meragukan? Bagaimana jika itu adalah Warrior? Hahaha. Bagaimana?”
Joko terus memancing emosi Imron, berharap dia akan marah dan memberikan apa yang sedang dibutuhkan Joko.
“Siti akan memberitahu media, bahwa informasi itu dari seseorang yang berada di TKP saat itu, dan juga dengan foto ini.”
Joko kembali menunjukkan foto di ponselnya.
“Cepat atau lambat, Warrior akan mengetahui, bahwa kau lah informan itu. Kau yang telah membocorkannya, Imron. Hahahahahaha.”
Joko tertawa dengan puas karena membuat Imron terdiam tak bisa berkata, atau menyangkal.
Joko berdiri dari kursinya dan,
“Seseorang pernah memberitahuku, bahwa kecurigaan memang dapat membuat manusia menjadi kesepian.”
“Cukup!” ucap Imron yang sepertinya mulai emosi dengan semua perkataan Joko.
“Kenapa kau tiba-tiba ingin berbagi informasi? Kenapa kau melakukan itu, Imron? Apa kau sudah muak menjadi kacung Warrior?”
“Kubilang padamu, hentikan!” ucap Imron yang tak mau mendengar perkataan Joko.
“Astaga. Itukah sebabnya, kau sangat ingin membunuh Siti? Hanya karena dia dan sepupunya yang tahu, kau telah mengkhianati Warrior?”
Imron berteriak menarik pelatuk dan menodongkan pistolnya pada Joko. Joko hanya tersenyum dan tak takut sedikitpun dengan ancaman itu.
“Tembak! Ayo. Disini!”
Joko memegang tangan Imron yang membawa pistol, mengarahkannya pada kepalanya sendiri.
“Ini tidak akan mengubah apapun, tapi aku tahu caranya, untuk mencegah kabar itu tersebar pada Warrior,” lanjut Joko.
Kata-kata Joko berhasil membuat Imron kembali menurunkan pistolnya.
“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” tanya Imron.
“Rekaman. Rekaman asli diriku saat tragedi penembakan Yuli.”
“Hanya itu?” tanya Imron.
“Dan semua identitas orang ini.”
Joko kembali menunjukkan foto yang telah diberikan Siti padanya. Di foto terlihat beberapa orang yang sedang berkumpul di sebuah restaurant mewah, dalam hotel bintang lima.
“Apa kau tahu siapa mereka? Orang yang duduk di tengah. Aku yakin dia terlibat dengan Sulistyo. Apakah dia orang yang bernama Putra?” tanya Joko.
__ADS_1
Suasana hening sejenak, karena Imron belum menjawab apapun, saat Joko menyebut nama Putra.
“Aku tak tahu apa-apa soal itu, tapi, kudengar dia adalah anggota ARN dulunya. Hanya itu yang kutahu,” jawab Imron lirih.
“Kurasa sudah cukup kesepakatan kita, untuk ini.”
Imron membalikkan badannya, akan pergi keluar dari apartemen itu.
“Yuli. Kenapa kau menembaknya?” tanya Joko.
Imron menghentikan langkahnya, berbalik, lalu mendorong Joko, memojokkannya di dinding, dengan menodongkan pistol.
“Tutup mulutmu sebelum aku benar-benar menembakmu,” ancam Imron yang kembali emosi mendengar perkataan Joko.
“Kenapa? Apa kau merasa bersalah dengan itu?” tanya Joko.
“Aku sudah berusaha semampuku untuk menghentikannya. Kau tau tak tau apapun,” sangkal Imron.
“Hhh. Apa kau yakin, kau berusaha menghentikannya? Bukankah kau hanya menonton saat itu? Setakut itukah dirimu pada Warrior? Kau sungguh pengecut.”
Joko terus memancing emosi Imron, tanpa takut sedikitpun, Imron akan menembak kepalanya.
*DORR!!!
“Jaga ucapanmu!”
Imron melepaskan satu tembakan mengarah pada pintu apartemen, lalu mengarahkan kembali pistolnya di kepala Joko, sambil tetap menahan Joko di dinding.
Joko pun hanya diam dan mau membuang tenaga untuk menghabisi Imron saat itu juga, karena Joko juga belum mendapat apa yang sedang diincarnya.
Hanya akan sia-sia jika Joko melawan dan membunuh Imron di tempat itu.
“Yuli… Dia hanya….” ucap Imron yang terbata-bata dan meneteskan air matanya saat membahas Yuli.
Imron menurunkan pistolnya, membalikkan badannya, karena tak mau Joko melihatnya dengan keadaan mata yang sembab, akibat itu.
Imron mengusap air matanya yang jatuh, lalu berbalik menatap Joko.
“Jangan pernah berpikir, bahwa yang kau lihat adalah segalanya. Kau salah besar, Joko. Kau hanya ingin melihat hal yang ingin kau lihat saja, karena kau tak punya nyali untuk menghadapi kenyataan itu.”
“Apa maksudmu?” tanya Joko datar.
“Jangan terlalu gegabah! Meskipun kau kehilangan ingatanmu, itu tidak akan mengubah apa yang terjadi padamu di masa lalu.”
“Dan jika kau menunggu, masa lalu akan kembali padamu dan merobek lehermu. Jangan pernah berpikir ini adalah akhir. Jangan pernah!”
Imron pun melangkah pergi meninggalkan Joko di apartemen itu.
__ADS_1