
“Kami akan masuk ke dalam dan….”
“Tidak. Aku yang akan masuk sendiri ke dalam,” Joko memotong omongan Tri.
“Sebelum aku masuk, tolong matikan semua cctv yang berada di dalam ruangan itu.”
“Tapi, Tuan. Kami tetap harus mengikuti peraturan yang berada.”
Kepala polisi pun tak yakin untuk mematikan cctv yang berada di dalam ruangan interogasi.
“Kau tak perlu khawatir. Kami lah yang akan bertanggung jawab dengan semua ini mulai sekarang, jadi, matikan saja cctvnya dan juga lepas borgolnya.”
Kepala polisi akhirnya mengizinkan Joko untuk melakukan itu dan menyuruh anggotanya untuk melepas borgol di tangan Hendro.
Setelah borgolnya terlepas dari tangan Hendro, Joko pun langsung bersiap untuk memasuki ruangan interogasi.
*BRAK!!!!
*BRAK!!!
*BRAK!!!
Dan benar saja, saat Joko masuk ke dalam ruangan, ia langsung menjambak rambut Hendro, lalu membenturkan kepalanya ke meja sebanyak tiga kali.
__ADS_1
Hendro pun tak bisa menahan lagi karena secara postur dan kekuatan, jelas Joko lah yang lebih unggul.
“Benar kau Hendro?” tanya Joko yang masih menahan kepala Hendro di meja.
Joko melepas, lalu duduk di kursi tepat di depan Hendro yang sudah menegakkan kembali kepalanya.
Hendro masih terlihat menantang dan terlihat meremehkan Joko, setelah apa yang dilakukan Joko padanya.
“Anak buahmu membunuh polisi hanya untuk menyelamatkanmu. Aku tahu itu akan terjadi, tapi tetap saja itu terlalu berlebihan. Kenapa kau bertindak sejauh ini?”
Hendro malah tersenyum sinis dan mengacungkan jari tengahnya ke Joko dan masih tak mau mengatakan sepatah kata pun.
“Baiklah. Kita tak punya banyak waktu.”
“Kau mempunyai sejarah yang panjang dan sangat kelam. Kau keluar masuk penjara di Amerika, lalu berada di penjara rusia selama 2 tahun.”
“Setelah itu, kau berhasil selamat saat berada di China setelah aku melenyapkan kartel narkoba milik bosmu. Bukan begitu?”
“Baiklah. Biar kucari tahu seperti apa masa lalumu.”
*SREEEK!!!!
Joko merobek kemeja kaos yang dipakai Hendro dengan kedua tangannya, hanya dengan satu kali tarikan saja.
__ADS_1
Hendro masih saja tak mau membuka mulutnya, lalu melepas sisa kemeja kaosnya dan membuangnya ke lantai.
Tubuh Hendro dipenuhi oleh tato di setiap bagiannya, dan hanya berjarak 1 cm dari satu tatto ke tato lainnya.
Joko berdiri di sebelah Hendro dan menunjuk salah satu yang berada di tangan hendro yang bergambar ikan teri.
“Itu. Awalnya, kau memulai sebagai pencopet kelas teri di sekitar kota kelahiranmu, lalu kau beranjak dewasa saat kau berada di penjara.”
Mata Joko beralih melihat tato di tangan kanan Hendro yang menampilkan sebuah jeruji besi.
“Hhhh. Kau sungguh memulainya dari pencopet kelas teri? Astaga. Aku sangat kecewa. Kau adalah sampah sesungguhnya.”
Joko menepuk kepala Hendro untuk memancing Hendro, agar ia mau membuka mulutnya.
Akan tetapi, Hendro masih saja belum mau untuk membuka mulutnya.
“Kebanyakan orang pintar, belajar menghindari di hukuman saat mereka masih di penjara, tapi tidak berlaku sepertinya untuk dirimu yang terlalu bodoh.”
“Kau juga pasti cukup lama kecanduan dengan obat-obatan terlarang lainnya selain narkotika. Apa karena itu kau menjadi keringat dingin seperti ini?”
Joko juga melihat beberapa bekas suntikan di lengan Hendro yang menghitam akibat terlalu banyak suntikan.
“Jika kau belum dipenjara karena hal itu, kau pasti akan sangat berhati-hati sebelumnya dan kau juga bisa untuk merawat dirimu. Setidaknya kau tidak tampak seperti tikus got seperti sekarang ini.”
__ADS_1
Joko terus berjalan melangkah mengelilingi Hendro yang sepertinya ucapan Joko mulai membuat Hendro kesal, melihat Hendro yang mulai mengepalkan tangannya.