
“Izin aku untuk menginterogasinya, Bu,” ucap Joko.
“Tidak. Aku tidak akan mengizinkan kau untuk melakukan itu,” potong Aji yang tak setuju.
Aji tak menyetujuinya karena ia tahu, Joko pasti akan menggunakan kekerasan dan menghajar Hendro sampai babak belur jika ia mengintrogasinya.
“Tentu. Aku akan mengizinkanmu. Kau bisa mengintrogasinya, Joko,” ucap Rina yang membuat Aji dan Tri terkejut.
“Tunggu, Bu. Aku tak yakin untuk melakukan itu. Joko masih harus beristirahat karena kondisinya yang belum cukup pulih untuk melakukan itu. Dia tak bisa langsung turun ke lapangan untuk melakukan hal itu.”
Aji tetap belum menerima jika Joko harus menginterogasi Hendro saat ini.
“Lantas? Apa kau punya saran lain? Siapa diantara kita bertiga yang sanggup menghadapi orang sepertinya, jika bukan Joko? Seperti yang kalian tahu, hanya Joko lah yang mampu menghadapinya.”
“Kita tidak punya waktu untuk duduk dan mengobrol seperti ini. Ketua Tri, antar Joko ke kantor polisi tempat Hendro ditahan sekarang juga! Biarkan dia melakukan itu.”
Tri dan Aji pun tak bisa membantah dan hanya menuruti kemauan Rina karena pangkatnya yang lebih tinggi di ARN.
“Baik, Bu. Aku akan mengantarnya,” jawab Tri dengan jawaban yang terdengar sangat terpaksa karena tak mempunyai pilihan lagi.
__ADS_1
“Baiklah. Kalian boleh pergi dari sini,” ucap Rina.
Mereka bertiga pun segera bubar dan pergi dari ruangan Rina.
Di tempat parkir mobil kantor, terlihat Tri yang diam-diam mengikuti Joko yang akan menuju ke mobilnya.
Tempat parkir itu cukup sepi karena semua orang sedang dalam urusannya masing-masing.
“Hei, Joko!!!”
Tri berteriak memanggil Joko. saat melihat Joko akan memasuki mobilnya dan berjalan cepat kearahnya.
Tri yang sedari tadi kesal pun mengoceh dan langsung menarik kerah kemeja Joko di parkiran mobil itu.
Joko masih tetap tenang saat Tri mencengkram kerah kemejanya.
“Apa kau pikir situasi memihakmu saat ini, hanya karena Bu Rina menyukaimu? Ini bisa membahayakan pekerjaan kita dalam sekejap, jadi apa yang kau inginkan?”
Tri terus menarik kerah kemeja Joko yang dan terus mengoceh yang membuat Joko semakin kesal padanya.
__ADS_1
“Singkirkan tanganmu jika tak ingin melihatku menghajarmu disini!” ucap Joko.
Tri yang mendengar Joko mengancamnya langsung melepas tangannya dari kerah kemeja Joko.
“Ini sangatlah aneh. Orang yang membuat terbunuhnya dua kolegaku dan membuat agensi kita berantakan, tepat muncul di depan kita, dan aku kau terlihat seperti tak keberatan sama sekali dengan itu,” ucap Joko.
“Ketua Aji. Seharusnya kau melawannya, bukan melawanku yang sudah pasti bukan tandinganmu atau anak buahmu.”
Joko kembali memojokkan Tri dengan ucapannya.
“Hhh. Mari kita lihat seberapa lama kau bisa tetap tenang dan menyombongkan kemampuanmu itu,” ucap Tri.
***
Beberapa saat kemudian, Joko dan Tri bersama asistennya pun telah sampai di kantor polisi untuk mengantar Joko menginterogasi Hendro yang sedang ditahan.
Kepala polisi pun menemani mereka bertiga menuju ruang interogasi tempat Hendro berada.
Sesampainya disana, terlihat Hendro yang sedang duduk di kursi interogasi dengan tangan yang terborgol.
__ADS_1
“Dia menolak makan sejak tiba di sini, dan dia tak mau mengatakan apa pun. Kami sudah bertemu banyak orang disini, tapi tak segigih dia, jadi, apa rencana kalian?” tanya Kepala polisi pada Tri dan Joko.