SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
067 - TRI & TINI.


__ADS_3

Berpindah di tempat lain di kediaman Rina tepatnya. Rumah Rina sangatlah luas dengan bangunan megah dengan dinding kaca, yang membuat rumah itu tampak sangat indah di malam hari.


Sebotol Vodka dituangkan Rina ke dalam gelas, lalu menegaknya, menikmati nikmatnya alkohol itu, sambil beristirahat sejenak.


Rina masih memikirkan tentang semua para petinggi yang mulai tak sejalan dengan pemikirannya, dan hanya ia sendiri yang dikucilkan, karena kasus Joko dan Yuli.


*KRIING!!


Ponsel Rina berdering. Rina pun mengangkat panggilan itu saat melihat Tri lah yang menelponnya.


“Halo?”


“Maaf menelponmu selarut ini, Bu. Aku ingin memberitahumu sesuatu. Kurasa kau harus mengetahui hal ini,” ucap Tri.


“Apa itu?”


“Apa mungkin kau sudah mendengar, bagaimana Joko menembak Direktur Aji?”


“Lanjutkan bicaramu.”


Kabar itu membuat Rina cukup terkejut dan menyuruh Tri untuk melanjutkan pembicaraannya.


“Kondisinya tidak terlalu kritis, tapi ada luka di bahu dan lengannya. Hal itu dilaporkan kepada Direktur Eksekutif, dan dia memberi izin untuk menembak Joko,” jelas Tri.


“Ketua Tri!”


“Ya, Bu.”


“Bagaimana menurutmu sendiri? Apa kau juga berpikir bahwa Joko sungguh menembak Direktur Aji?” tanya Rina.


Percakapan di telepon hening seketika, karena Rina menanyakan pendapat Tri mengenai hal itu.


“Itu….”


“Lupakan saja. Aku hanya ingin bertanya pendapatmu saja, tadi,” potong Rina.


“Apa aku bisa meminta tolong padamu, Ketua Tri?”


“Tentu saja, Bu. Katakan saja. Aku akan membantumu sebisaku.”


“Saat fajar tiba, pergilah ke Badan Forensik Nasional dan cari tahu, apakah hasilnya sudah keluar dari permintaan kita ke polisi polisi atas peristiwa ini.”


“Baik, Bu. Aku akan melakukannya.”


“Kerja bagus, Ketua Tri. Baiklah. Sampai jumpa.”


“Baik, Bu.”


***


Pagi hari pun tiba, suara ayam berkokok, burung berkicau, dan kerumunan ibu–ibu yang sedang berkumpul, memenuhi pagi yang indah itu.


Di kediaman Tini, terlihat Tini yang baru bangun dari tidurnya. Tini sangat terkejut saat melihat Joko sudah tak ada. Tini kebingungan karena ia juga tidur di ruang tamu semalaman, dan saat ia bangun, ia melihat Joko yang sudah tak ada di rumahnya.


Dengan mata yang masih menahan kantuk, Tini mencari keberadaan Joko di setiap bagian rumahnya.


Joko juga meninggalkan pakaiannya di sofa. Sepertinya Joko telah mengganti pakaiannya dengan pakaian ayah Tini, yang diberikan Tini untuknya.

__ADS_1


Tini juga melihat sebuah ponsel berwarna hitam yang terjatuh di bawah sofa, tempat Joko berada sebelumnya.


Tini mengambil dan membolak-balikan ponsel itu. Di dalam ponsel itu tertulis sebuah catatan dari Joko untuk Tini.


“Aku meminta bantuanmu untuk mencari semua rekaman cctv yang berada di sekitar lokasi penembakan Yuli, lalu, kau bisa mengirimnya padaku menggunakan ponsel ini melalui email yang sudah ada.”


***


Di gedung ARN, Tri sedang berada di ruangan Rina untuk melaporkan hasil, yang telah diminta Rina.


“Ini, Bu.”


Tri menyodorkan beberapa laporan dari Badan Forensik Nasional untuk Rina.


“Tepat setelah peristiwa itu, residu tembakan tidak ditemukan dari tangan dan pakaian Joko.”


Rina yang duduk di kursinya pun mulai melihat dan membuka berkas itu satu persatu.


“Berdasarkan analis bekas alur spiral pada peluru, itu tidak cocok dengan pistol milik Joko.”


“Menurut pendapat mereka, senjata yang digunakan adalah senjata pribadi yang dibeli secara ilegal.”


Rina menutup kembali laporan itu dan bertanya,


Siapa lagi yang tahu soal ini?”


“Tak ada, Bu. Aku sudah mencegatnya sebelum polisi mendapatkan laporan ini.”


“Ketua Tri!”


“Ya, Bu.”


Rina membuka laci mejanya, lalu memasukkan laporan itu ke dalam.


“Apa yang akan kau rencanakan, Bu? Bukannya aku tak yakin dengan rencanamu, tapi, Direktur Aji telah memimpin seluruh Departemen saat ini. Kita harus merilis bukti yang bisa membersihkan namanya. Agar kita bisa menghentikan…”


“Tidak. Belum saatnya. Kita tak perlu terburu-buru, Ketua Tri. Direktur Aji dan Joko bahkan belum memulainya,” Rina memotong perkataan Tri.


“Lantas, kau hanya akan diam saja?” tanya Tri.


“Mari kita tunggu sampai salah satu dari mereka menyerah. Saat itu tiba, giliran kita yang akan maju.”


Sepertinya Rina sedang mempersiapkan rencana untuk keberhasilannya sendiri.


***


Siang hari pun tiba, terlihat Tini yang sedang berada di depan laptonya dan mengirimkan beberapa file rekaman cctv kepada Joko.


Semenjak membaca pesan dari Joko di pagi hari, Tini langsung bergegas menuju lokasi dan meminta semua rekaman cctv yang berada di lokasi sekitar penembakan.


Tini dan Joko pun dapat berkomunikasi melalui emailnya, tanpa bisa dilacak oleh siapapun.


Sesuai dengan apa yang dilihat Joko. Seorang pria dengan tinggi 170 cm, dengan hoodie hitam dan topi bisbol, terekam cctv di dekat ruko saat ia berjalan melewati ruko itu.


“Baiklah. Kerja bagus, Tini.”


Joko mengirimkan pesan itu ke Tini, setelah Tini mengirimkan semua file rekaman yang berhasil ia dapatkan.

__ADS_1


Tini keluar dari kantornya dan menuju ke kantin untuk makan siang.


Di dalam perjalanan, Tini berpapasan dengan Tri yang saat itu juga berada di kantin.


“Permisi, Pak. Selamat siang.”


Tini membungkuk dan menyapa Tri.


Saat Tini sudah melangkah, Tri kembali memanggilnya.


“Oi!!!”


Tini menengok dan bertanya.


“Ada apa, Pak?”


“Ikutlah denganku!”


Tri pergi ke meja makan di pojok kantin dan mengajak Tini berbicara disana. Sebelum sampai ke meja, Tri mengambil 2 botol minuman kemasan, satu untuknya, dan satu untuk diberikan pada Tini.


“Duduklah. Ini!”


Tri memberikan minuman kemasan itu pada Tini yang duduk di depannya.


“Astaga. Kulihat kau sangat sibuk belakangan ini,” ucap Tri.


“Aku hanya mempunyai pekerjaan lebih di luar kantor, Pak,” jawab Tini dengan tersenyum.


“Begitukah? Lantas, kapan kau bertemu Joko?”


“Apa?” Tini kaget saat Tri bertanya hal itu secara tiba-tiba.


“Apa kau tak mendengarkanku? Kapan kau bertemu dengannya?”


“Mungkin sekitar empat atau lima hari yang lalu, sejak terakhir kali aku melihatnya,” jawab Tini.


“Setelah itu? Semanjak kasus baru yang dialami Joko?”


“Belum, Pak. Aku belum bertemu dengannya setelah itu.”


“Hmmm. Apa ada orang lain yang mendatangimu selain aku?”


“Apa maksudmu, Pak?”


“Aku berbicara pada petinggi lainnya. Direktur Aji dan Wakil Komisaris Rina.”


“Astaga. Apa kau sedang mengintrogasiku, Pak?”


“Hahahaha. Mengintrogasi katamu? Aku hanya mencoba membantumu, Tini,” ucap Tri sembari meminum minuman di botol kemasan.


“Dengarkan aku! Aku yakin kau tahu keadaan agensi kita belakangan ini. Jika kau terlibat banyak dengan itu, kau sendirilah yang akan hancur. Apa kau mengerti?”


“Jadi, jika kau bertemu atau berkomunikasi dengannya, atau mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengannya, jangan pergi ke orang lain, dan temui saja aku, apa kau paham?”


“Baik, Pak.”


Tini hanya meng iya kan dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2