SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
069 - SAM, PEMBUAT SISTEM FAKE FACE.


__ADS_3

Di sebuah parkiran mall yang cukup sepi, terlihat Joko yang sedang berada di dalam mobil Tini untuk membicarakan kejadian itu.


“Bagaimana hasilnya, Pak?”


“Aku mendapatkan orang itu,” jawab Joko dengan nada putus asa.


“Benarkah? Tapi kenapa dengan raut wajahmu? Apa terjadi sesuatu?”


“Dia bunuh diri dengan menusuk lehernya sendiri.”


“Apa?” Tini terkejut.


Joko mengeluarkan ponsel Roy, memberikannya pada Tini.


“Lihatlah! Ini ponselnya.”


Tini berhasil membuka ponsel itu dan melihat beberapa panggilan dan pesan SMS masuk dari kontak yang berinisial, I.


“Inisial I. Menurutku itu adalah Imron, atau mungkin seseorang yang berkaitan dengannya. Entah orang kepercayaannya, atau anak buahnya,” ucap Joko.


“Apa mungkin juga, bahwa orang dibalik penembakannya Kepala Yuli adalah Imron?” Tini menduga.


“Mungkin saja itu benar,” sahut Joko.


Tini mengembalikan ponsel Roy pada Joko.


“Pak! Apa kau mengingat sebuah proyek bernama FAKE FACE yang pernah kuceritakan padamu?”


“Ya. Aku mengingatnya. Ada apa?” tanya Joko.


“Proyek itu telah dihentikan beberapa bulan lalu, jadi, aku mulai mencari tahu keberadaan mereka dan aku menemukan kepala peneliti yang pernah menangani proyek itu.”


“Kepala peneliti itu bernama Sam. Dia cukup mencurigakan menurutku.”


“Sam? Apa yang mencurigakan darinya?” tanya Joko.


“Baru-baru ini dia bergabung dengan sebuah perusahaan kecil dan menjadi eksekutif disana, tapi masalahnya adalah, itu hanyalah perusahaan cangkang,” jelas Tini.


“Baiklah. Cari lebih banyak informasi tentangnya dan kirimkan itu padaku.”


“Baiklah. Aku akan mendapatkan itu secepat mungkin. Aku merasa dia mungkin terlibat langsung dengan Imron.”


***


Keesokan harinya, tepat pukul 5 pagi, di suatu komplek perumahan kecil. Udara pagi yang sejuk, dengan embun yang menetes dari daun, serta para orang dewasa yang sedang menyiapkan kendaraannya untuk pergi bekerja.


Begitupun dengan Joko yang berada di salah satu rumah di kompleks itu. Joko bersembunyi dengan menyewa salah satu rumah kosong di dalam komplek, agar tak ada orang yang mencarinya.


Di pagi yang cerah itu, Joko memakai sepatu olahraga, celana training panjang, dengan jaket hitam dan bersiap untuk olahraga.


Sebuah lapangan bola yang cukup luas berada di sekitar kompleks itu. Beberapa anak kecil terlihat sedang bermain bola di tengah lapangan itu.

__ADS_1


Begitupun Joko yang sudah berada di lapangan. Ia melakukan pemanasan dengan meregangkan semua otot di tubuhnya.


Setelah dirasa cukup dengan pemanasan, Joko mulai berlari memutari lapangan.


Tak berada di tempat gym, tidak membuat Joko untuk beralasan untuk tak berolahraga. Ia tetap berolahraga walau hanya berlari memutari lapangan yang tak cukup bagus.


Sesekali Joko melakukan push up dan pull up untuk mengencangkan otot lengan dan perutnya.


Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Tepat satu jam Joko berolahraga. Joko segera kembali ke rumah persembunyiannya, membersihkan diri dengan mandi, dan melanjutkan kesibukannya.


Selesai mandi dan mengganti pakaiannya, Joko mendapat sebuah pesan dari Tini melalui ponselnya.


Tini mengirimkan nama dan alamat yang tertulis dari pesan SMS nya. Alamat itu adalah tempat tinggal Sam.


Tanpa pikir panjang, Joko bergegas mengambil jaket, helm dan kunci motornya, lalu pergi ke alamat yang telah diberi oleh Tini.


Setengah jam berlalu, dan Joko sudah berada di lokasi alamat itu berada. Sebuah apartemen kecil yang terletak di pinggir kota. Apartemen terlihat sangat kumuh dan cukup tua.


Melihat dari dinding yang mulai retak dan beberapa cat yang mulai memudar.


Joko berhenti dan memarkir motornya di samping apartemen itu. Ia mematikan mesin, melepas helm, lalu turun dari motornya.


Sejenak Joko melihat sekitar apartemen yang hampir tak terlihat penghuni satu pun di sana.


Joko naik melewati tangga dan berhenti di lantai 2 apartemen. Kamar paling ujung, hampir mepet dengan tangga. Disanalah alamat Sam yang tertera sesuai apa yang dikirim Tini padanya.


*DING DONG!!!!


“Siapa itu?” sapa seseorang dari dalam.


“Paket, Tuan,” jawab Joko.


“Letakkan saja di balik pintu, lalu pergilah.”


*DING DONG!


*DING DONG!


*DING DONG!


Joko menekan bel pintu rumah it berkali-kali, sengaja untuk memancing kemarahan orang yang di dalam dan keluar untuk menemuinya.


*BRAKKK!!!


“Astaga. Sudah kubilang taruh di balik pintu dan pergilah. Apa kau tak dengar?”


Sam sebagai pemilik rumah, membuka pintu dengan keras dan memaki Joko.


Saat pintu terbuka, Joko mendorong Sam ke dalam hingga tersungkur dan menutup kembali pintu apartemennya.


“Siapa kau?” tanya Sam.

__ADS_1


Pria berumur pertengahan 40 tahun itu ketakutan melihat Joko yang tiba-tiba mendorongnya.


Joko mengeluarkan pistol dan menodongkannya pada Sam.


“Jawab aku dengan jujur, jika kau tak ingin aku meledakkan kepalamu disini.”


Sam menelan ludah semakin ketakutan dengan ancaman Joko.


Joko menghampiri Sam yang terjatuh, membantunya berdiri dan menyuruhnya duduk di kursi untuk ditanyai lebih lanjut.


Di dalam apartemen Sam yang cukup kecil, Joko melihat beberapa suntikan dan obat-obatan yang terlarang. Joko pun langsung mengetahui bahwa Sam adalah pengguna narkoba yang aktif.


Joko juga melihat foto anak dan istri Sam yang berada di bingkai foto, di dinding kamarnya, dan sebuah komputer dengan monitor yang cukup besar di kamar tidurnya.


Tanpa basa-basi, Joko pun langsung bertanya dan menginterogasi tentang proyek FAKE FACE yang pernah Sam lakukan.


“Sebenarnya aku pernah mendapatkan tawaran untuk mengerjakan proyek itu dengan ARN, tapi berakhir dengan gagal. Setelah itu, mereka menelponku. Seolah-olah dia sudah menanti itu sejak lama.”


“Dia? Siapa dia yang kau maksud?” tanya Joko.


“Entahlah. Aku hanya memanggilnya dengan sebutan Direktur, tanpa mengetahui identitas aslinya. Dia menawariku gaji dan tunjangan yagn sangat tinggi kala itu.”


“Aku pergi ke kantor mereka di Jakarta Selatan dan terus mengerjakan proyek itu.”


“Detailnya, apa yang kau lakukan di kantor itu?” tanya Joko.


“Aku menciptakan alat yang bisa memanipulasi sebuah rekaman video dengan proyek FAKE FACE, kemudian, aku bahkan harus memalsukan video itu sendiri.”


“Video macam apa itu?”


“Biasanya adalah video yang diambil dari ponsel atau kamera pengawas, tanpa mengetahui, untuk apa video itu. Aku hanya menuruti keinginan Direktur dan mendapatkan upah dari itu,” jelas Sam.


Joko sangat yakin bahwa Sam berkata jujur padanya dalam hal itu. Joko lanjut bertanya padanya mengenai rekaman cctv yang membuatnya menjadi tersangka dalam penembakan Yuli.


“Pak Sam. Apa kau bisa mengetahui secara langsung, saat sebuah video telah direkayasa oleh alat buatanmu itu? Apa kau bisa mengetahuinya, hanya dengan melihat rekaman itu?”


“Dahulu aku bisa hanya dengan cara orang berkedip dan sudut cahaya berasal, tapi tak bisa lagi untuk sekarang ini.”


“Alat yang telah kubuat itu menggunakan algoritma diskriminator untuk membuat salinannya sangat mirip dengan yang asli, jadi, sangat mustahil mengetahuinya dengan itu,” jelas Sam.


“Lantas, adakah cara untuk membuktikan bahwa video itu telah direkayasa?” tanya Joko yang masih berusaha untuk membuktikan bahwa ia tak menembak Yuli saat itu.


“Tidak bisa, Tuan. Salah satunya cara adalah, kau harus menemukan rekaman aslinya dahulu.”


“Apa kau bisa membobol sistem kamera cctv atau kamera pengawas keamanan, dan mengubah seseorang dalam rekaman secara langsung?”


“Ya, Tuan. Aku bisa melakukannya.”


“Baiklah. Tuliskan nomormu disini. Aku akan meminta bantuanmu suatu saat nanti.”


Joko memberikan sebuah kertas dan pulpen, lalu Sam menuliskan nomornya, memberikannya pada Joko.

__ADS_1


__ADS_2