SPECIAL AGENT JOKO

SPECIAL AGENT JOKO
068 - FAKE FACE.


__ADS_3

Setelah jam makan siang berlalu, Tini kembali ke kantornya dan menemukan sebuah sobekan kertas kecil yang bertuliskan sebuah kode, yang terletak di atas laptop, di meja kerjanya.


Tini mengamati dan melihat sejenak kertas itu, lalu mencari petunjuk menggunakan laptopnya.


Ternyata kode itu adalah sebuah petunjuk yang menunjukkan, pemalsuan wajah orang lain ke dalam video atau rekaman.


*KRIING!!!!


Ponsel Tini yang telah diberikan Joko berdering, Tini pun langsung mengangkat panggilan itu.


“Halo, Pak,” ucap Tini dengan pelan, agar tak ada yang mendengar percakapan mereka.


“Aku yakin dia adalah orangnya.”


“Benarkah dia adalah orangnya? Kau yakin?”


“Ya. Sekarang semuanya jelas. Aku hanya perlu menemukan penembak Yuli sekarang.”


“Baiklah. Kirimkan fotonya padaku setelah ini. Akan kuperiksa identitasnya sekarang juga.”


“Selain itu, mengenai rekaman cctv yang menunjukkanmu menembak Kepala Yuli. Kurasa aku tahu darimana asalnya. FBI pernah menangani proyek bernama FAKE FACE.”


“FAKE FACE?” tanya Joko.


“Ya. Sederhananya, mereka menggunakan proyek itu untuk memalsukan wajah orang lain ke dalam sebuah rekaman video. Tampaknya teknologi yang digunakan untuk masalah yang kau alami.”


“Bagaimana kau bisa tahu hal itu?”


“Itulah yang menurutku cukup aneh. Seseorang meninggalkan sobekan kertas bertuliskan sebuah kode di atas meja kerjaku.”


“Seseorang masuk kedalam ruanganmu dan meninggalkan petunjuk?”


Joko sudah curiga, bahwa orang yang meletakkan itu di meja Tini adalah salah satu orang dari agensi.


“Ya,” jawab Tini.


“Baiklah. Aku akan mengirimkan fotonya. Kau bisa menghubungiku saat kau sudah menemukan KTP orang itu.”


“Baik, Pak.”


Joko pun langsung mematikan sambungan teleponnya.


***


Di tempat lain, terlihat Imron dengan beberapa pengawalnya yang cukup banyak. Semua pengawal Imron berbaris, berjajar rapi dan membungkuk saat Imron berjalan menuju suatu ruangan.


Mereka berada di dalam sebuah tempat kosong. Asisten pribadi Imron memimpin jalan untuk menuju ke suatu ruangan di dalam gedung.


“Kami telah mengintrogasinya semalaman, tapi dia tetap tak mau bicara. Bahkan semua anak buahku mulai muak dengan orang itu,” ucap Si Asisten.


“Silahkan, Pak!”


Asisten Imron membuka pintu ruangan.


Saat memasuki ruangan itu, terlihat Sulistyo yang sudah berlumuran dengan darah, dengan tangannya yang digantung, hingga kaki Sulistyo tak dapat menyentuh lantai.

__ADS_1


Entah darimana Imron dapat menangkap Sulistyo sejak semua anak buah Sulistyo berhasil dilenyapkan Joko.


Imron menatap Sulistyo dari ujung kaki hingga kepalanya tanpa ekspresi apapun.


Imron mengambil ponselnya, lalu menunjukkan sebuah foto Putra yang berada di dalam foto itu kepada Sulistyo yang sudah sangat teler, akibat dihajar oleh semua pengawal Imron.


Semua masalah yang terjadi sangatlah berkaitan dengan adanya itu.


“Bukankah dia bosmu?” ucap Imron menunjukkan foto.


*CUIHH!!!!


Sulistyo malah meludahi Imron, yang membuat wajah Imron terkena ludah dengan campuran darah.


“Apa kau mencarinya? Hahahaha. Tak lama lagi, aku akan melihatmu digantung hidup-hidup di depan umum.”


Sulistyo balik menertawakan Imron.


Imron tersenyum, mengelap wajahnya menggunakan tisu.


“Jika dipikir-pikir, rasa sakit bukanlah apa-apa. Rasa sakit akan segera berlalu, jika kau bisa menahannya.”


Sebuah golok tajam yang berada di ruangan itu diambil oleh Imron, melihatnya, dan menakut-nakuti Sulistyo dengan itu.


“Aku lebih menyukai sebuah keputusan daripada rasa sakit atau sebuah penderitaan.”


Imron meletakkan golok tajam di lengan Sulistyo, sembari berbisik,


“Aku sangat paham apa yang harus dipotong dari bagian tubuhmu, yang tak menyebabkan terlalu banyak rasa sakit, tapi dapat membuatmu memakai popok seumur hidupmu.”


Sulistyo berteriak meminta Imron untuk membunuhnya saja, daripada harus mengatakan tentang Putra.


“Sstttt. Suaramu terlalu keras. Kenapa kau berteriak seperti seorang wanita? Sebentar lagi kau akan sadar, bahwa hidupmu akan jauh lebih buruk daripada api penyucian di neraka.”


“Aku akan menunjukkan kepadamu, bagaimana keputusan yang sesungguhnya.”


Imron memutar badan Sulistyo yang digantung, dan,


*SREETTT!!!!!


***


Di sebuah warung internet di pinggir kota, terlihat banyak sekali pelajar yang berada di tempat itu, setelah pulang dari sekolah.


Begitupun dengan Joko yang sudah berada di pojok tempat komputer warnet.


Joko menyalakan komputer, memakai headset dan membuka emailnya untuk memeriksa pesan dari Tini.


Satu pesan baru terkirim dari Tini. Kabar sangat baik, Tini dapat menemukan identitas pria yang berada di TKP penembakan Yuli.


“Aku berhasil menemukannya, Pak. Namanya adalah Roy. Dia membelot dari China 9 tahun yang lalu. Dia pernah mengikuti militer dan bertugas di pasukan khusus. lalu meninggalkan militer saat ia menjadi Sersan Mayor.”


“Akan tetapi, dia tak mempunyai alamat tempat tinggal yang tetap saat ini. dia selalu berpindah dari satu motel ke motel yang lain. Alamat lamanya pun sudah dihapus dari data.”


“Satu petunjuk yang aku dapatkan adalah, ia selalu berada di dalam sebuah bar menjelang malam hari. Bar itu milik sepupunya yang sudah tinggal lama di Indonesia. Aku akan mengirim alamat bar itu padamu.”

__ADS_1


Begitu isi pesan email dari Tini untuk Joko. Beberapa menit kemudian, Joko menerima sebuah alamat, dimana letak sebuah bar itu.


***


Malam harinya, sebuah persimpangan jalan yang tak ramai, dan tak sepi. Terdapat ruko, street food, kedai kopi, dan beberapa motel penginapan dengan harga murah di sepanjang jalan persimpangan itu.


Kaum muda-mudi yang sedang dimabuk asmara bergandengan tangan, menuju sebuah motel untuk sekedar menginap dan melampiaskan hasratnya.


Di ujung jalan, terdapat sebuah bar kecil yang buka 24 jam. Begitupun dengan Joko yang sudah menunggu sedari tadi. Joko berada di dalam sebuah kedai kopi dan mengawasi keadaan sekitar bar kecil itu.


Seorang pria memakai kostum yang sama, hoodie berwarna hitam, dengan topi bisbol masuk ke dalam sebuah bar kecil itu.


Joko sangat yakin bahwa dia adalah Roy, seorang pria yang berada di TKP penembakan Yuli saat itu.


Joko pun bergegas keluar dari kafe, lalu pergi menuju ke sebuah bar yang tak jauh dari kedai kopi.


Saat Joko masuk ke dalam bar, ternyata itu bukan hanya sekedar bar, terdapat beberapa studio karaoke yang berada di dalam bar itu.


Wanita-wanita pemandu karaoke berdatangan menyambut Joko saat ia mencari Roy, tapi Joko hanya mengabaikannya.


Joko terus berjalan menyusuri setiap ruang di dalam bar itu, hingga sampailah di lorong studio yang mengarah ke toilet.


Dari arah Toilet, Roy muncul dan langsung menyerang Joko menggunakan pisau kecil di tangannya.


Joko yang sudah bersiaga, dengan cepat menghindari serangan Roy dan balik memberinya sebuah pukulan cukup keras, tepat di rahang Roy, membuatnya tersungkur seketika.


Masih tak mau menyerah, Roy berdiri dan kembali menyerang Joko. Joko menghindar, memelintir tangan Roy, menjatuhkan pisau yang berada di tangannya.


Joko menarik hoodie Roy, lalu membantingnya ke lantai, dengan keras. Jelas Joko juga bukan tandingan Roy, walau Roy pernah menjadi Sersan Mayor saat masih berada di militer.


Roy tersungkur, menggeliat kesakitan, karena punggungnya terbentur ke lantai cukup keras.


Roy mengeluarkan sebuah pistol kecil dari celananya dan,


*DOR!!!!


Satu tembakan dikeluarkan, tapi Joko lebih cepat menghindar, lalu menendang perut Roy dengan keras, dan mengambil pistol kecil itu.


Roy mengerang kesakitan, memegangi perutnya, karena tendangan Joko yang cukup keras.


Joko membuka topi Roy dan menjambak rambutnya.


“Siapa itu? Siapa yang menyuruhmu?”


“Hahahaha. Kau tak akan mendapatkan apapun dariku. Aku sudah selesai denganmu, Joko.”


Tangan Roy mengambil pisau kecil miliknya yang tergeletak di sampingnya, lalu menusuk lehernya sendiri dengan pisau itu.


Darah mengucur dari leher Roy bak sumber air yang mengalir, mengenai wajah Joko yang masih menjambak rambut Roy.


“Sial!!”


Joko berusaha menahan darah yang keluar dari leher Roy, menahannya agar tak mati, tapi tetap saja usaha Joko sia-sia. Kini tak ada lagi seorang saksi yang bisa Joko gunakan untuk membela dirinya.


Joko menggeledah saku celana mencari ponsel Roy, yang bisa ia jadikan petunjuk.

__ADS_1


Karena pria itu telah bunuh diri, Joko segera pergi dari bar itu untuk bertemu dengan Tini.


__ADS_2