
“Kau benar. Sudah beberapa tahun lamanya aku tak merawatnya kembali. Dia mengalami depresi dan insomnia, tapi dia bilang padaku untuk tak meninggalkan catatan pengobatan,” ucap Psikiater.
“Kenapa?” tanya Joko.
“Dia bilang jika perusahaanmu mengetahuinya, dia mungkin tak akan bisa bekerja rapi.”
“Tidak. Bukan itu yang kumaksud. Aku bertanya bagaimana bisa dia berakhir seperti itu.”
“Perusahaanmu. Semuanya karena agensi perusahaanmu. Tempat itu telah menghancurkan Yuli. Seharusnya aku menghentikannya saat dia bilang, dia ingin bekerja di sana untuk bekerja di bawah direktur.”
Keadaan di sana pun agak berbeda saat psikiater mulai emosi saat membahas itu.
“Yuli mungkin terlihat dingin dari luarnya, tapi sebenarnya dia sangat emosional dan sensitif. Dia juga sangat simpatik terhadap orang lain. Mungkin itu sebabnya, dia kesulitan menghadapi semua tekanan dan kejadian di perusahaanmu.”
“Kejadian apa yang kau maksud?” tanya Joko.
“Apa kau tak tahu? Kau sungguh tak mengetahuinya? Semua kejadian dan hal-hal buruk yang menimpa koleganya. Dia sangat membenci organisasi, karena memaksa seseorang untuk berkorban seperti itu.”
“Karena kejadian itu terus berulang, dia mengalami gangguan depresi dan kecemasan yang berlebih,” jelas sepupu Yuli.
“Apa ada faktor eksternal lainnya yang mempengaruhi itu?” tanya Joko.
“Tidak! Biar kutekankan padamu, bahwa perusahaanmu adalah satu-satunya yang membuatnya seperti itu,” ucap psikiater dengan nada tinggi karena emosional.
Joko yang menyadari bahwa kakak sepupu Yuli mulai emosi pun langsung berpamitan dan pergi dari klinik itu.
“Baiklah. Terimakasih atas semua informasimu. Kalau begitu, aku permisi dulu.”
Joko berdiri membungkuk, lalu bergegas keluar dari ruangan.
***
Setibanya di kantornya, Joko melihat Tini yang sedang menyelidiki seseorang yang berkaitan dengan misi yang sedang ia jalani.
“Pak, kemarilah! Lihatlah ini!”
Tini memanggil Joko yang baru masuk ke dalam kantor untuk melihat komputer.
“Apa apa?” tanya Joko yang melihat seorang pria di layar komputer Tini.
__ADS_1
“Apa kau mengenali pria ini? Namanya adalah Imron. Dia adalah salah satu agen hitam yang berada di luar pulau Jawa. Selama ia bekerja, ia memiliki karir yang sangat bagus sepertimu, Pak.”
“Entahlah. Aku tak mengingatnya. Bagaimana kau bisa mendapatkan akses ke berkas-berkas ini?” tanya Joko pada Tini.
Joko terkejut saat melihat Tini dapat mengakses data diri agen hitam yang berada di luar pulau Jawa itu.
“Astaga. Apa kau lupa? Bukankah aku pernah bilang padamu, aku pernah bekerja di Divisi Intelijen dan analis? Pegawai di sana mempunyai akses yang lebih luas dari pegawai biasa.”
“Astaga. Aku cukup terkejut saat melihat karirnya yang sangat bagus. Selama beberapa tahun terakhir ini, dia berhasil menyusup ke dalam salah satu geng besar di Malaysia, tanpa ada satupun orang yang mengenalinya.”
“Kami juga telah mengeluarkan setidaknya empat identitas samaran untuknya. Dia membuat uang palsu, memalsukan paspor, dan membuat KTP palsu saat bergabung dengan geng.”
Joko yang cukup tertarik dengan orang itu pun bertanya,
“Darimana asalnya?”
“Aku telah menyelidikinya dan dia berasal dari Lampung dengan keturunan Indonesia-China. Dia tumbuh dewasa di China dan Hongkong, tapi, ada yang sedikit aneh darinya.”
“Saat daftar itu bocor, diantara semua agen gelap rahasia, hanya dia lah yang selamat dari semua orang.”
“Dimana keberadaan orang itu saat ini?” tanya Joko yang entah dia lupa atau tak mengenali orang itu.
“Entahlah. Aku telah mencoba mencarinya, tapi tetap saja, aku tak bisa menemukan keberadaan orang ini.”
“Dia sudah terpikat,” ucap Joko.
“Apa maksudmu, Pak?”
“Terkadang, agen hitam sepertiku terpikat dengan identitas palsu mereka, dan saat itu terjadi, mereka memutuskan kontak dengan agensi dan menyembunyikan dirinya.”
“Astaga. Mungkinkah itu alasannya? Aku bahkan tidak bisa menemukan catatan keuangan dan komunikasinya,” ucap Tini yang mengotak atik komputernya dan berusaha untuk menyelidiki Imron lebih dalam.
“Hhh. Kau tak akan bisa menemukannya jika dia tak ingin ditemukan. Kita harus menunggu sampai dia memutuskan dirinya sendiri untuk muncul kembali,” jelas Joko.
“Lantas, apa yang bisa kita lakukan sekarang?” tanya Tini.
Joko berjalan mondar-mandir, memikirkan sesuatu.
“Kau pernah bilang bahwa Kementerian Keamanan Republik China memberikan catatan keluar masuk, bukan?” tanya Joko.
__ADS_1
“Ya. Benar, Pak.”
“Kirimkan dokumen resmi untuk memastikan keasliannya,” Joko memberi saran.
“Tapi China tak akan menjawab permintaan seperti itu, Pak.”
“Aku tidak menginginkan jawaban. Agen hitam yang memiliki cukup koneksi lokal untuk mendapatkan catatan masuk secara diam-diam, pasti akan mendengar tentang bagaimana kita membuat permintaan untuk melihat catatan aslinya.”
“Jadi maksudmu, kau ingin menggertaknya dan membuatnya panik?”
“Ya. Begitulah kurang lebih. Mari kita tunggu dan melihat hasilnya. Aku yakin dia akan bereaksi,” ucap Joko yang sangat yakin dan terus memandangi layar komputer yang menampilkan biodata Imron.
***
Di tempat lain, terlihat seorang pria dengan tato naga merah yang menghiasi punggungnya.
Pria itu berada di sebuah rumah yang cukup luas dan mewah, dengan beberapa barang dan berlian mewah lainnya yang memenuhi isi rumahnya.
Pria itu membuka lemari besarnya, lalu mengambil salah satu kemeja berwarna putih untuk dipakai.
Di dalam lemari pria itu, terdapat beberapa jam rolex, berlian, dan beberapa emas batangan yang tertumpuk.
Saat ia membuka laci, terlihat juga beberapa identitasnya sendiri dengan nama yang berbeda, dan juga beberapa buku paspor yang berjajar rapi.
Imron. Dia adalah Imron. Agen hitam yang memutuskan dan menyembunyikan dirinya. Pria berumur 40 tahun awal itu memilih baju, jam tangan dan cincin berlian yang akan ia pakai di hari itu.
Setelah mengenakan pakaian, jam tangan dan kaca Imron berjalan menuju meja makan, lalu menyantap hidangan yang telah disiapkan olehnya sendiri sebelum itu.
Sebelum menuju ke meja makan, Imron mengambil sebuah tablet miliknya di meja kerjanya. Terdapat sebuah foto yang sama seperti saat Joko melihat foto pantai kuta dengan sebuah villa yang berjajar di tepi pantai.
Dengan itu, Imron pasti berkaitan tentang Yuli dan apa yang telah disembunyikan oleh Yuli selama ini, karena ia juga memiliki foto yang sama dimiliki oleh Yuli.
Di meja makannya, ia membuka tablet miliknya dan melihat beberapa rekaman cctv yang menunjukkan Joko sedang beraktivitas.
Sembari menikmati makanannya, ia melihat video rekaman Joko saat pertama kali ia kembali hingga sekarang ini.
Imron dapat melihat semua video Joko yang terekam semenjak Joko di tangkap di kapal, membantai Hendro di ruang interogasi, dan menghabisi semua anak buah Sulistyo dengan membabi buta,
Entah darimana dia mendapatkan semua rekaman itu, Imron hanya tersenyum dan mengatakan,
__ADS_1
“Selamat datang kembali, Saudaraku.”
Entah apa maksud Imron mengatakan hal itu saat melihat Joko yang berhasil selamat dari kematiannya.