
Saat membalikkan fotonya kembali, Joko melihat sebuah bayangan yang terlihat di dalam foto.
Bayangan itu adalah seorang laki-laki yang sedang mengambil foto Yuli yang sedang berpose di pantai itu.
“Itu artinya, dia mengencani seorang pria sebelum El,” gumam Joko dalam hati.
Joko menyimpulkan bahwa Yuli pernah mengencani seorang pria sebelum ia mengencani El saat itu, dan ia sangat yakin dengan itu.
***
Setelah mendapatkan informasi itu, Joko bergegas kembali menuju gedung ARN.
Sesampainya di sana, Joko menuju ke ruang kerja Tri untuk menanyakan hal yang telah ia lihat itu, tentang apakah Yuli pernah mengencani seseorang sebelum El.
Di kantor Tri, Tri pun saat heran saat mendengar Joko mempertanyakan hal itu padanya.
“Hhhh. Apa yang sebenarnya kau inginkan, Joko? Kau menemuiku hanya ingin untuk mempertanyakan hal itu? Kenapa kau tiba-tiba ingin tahu?” tanya Tri.
Joko diam dan masih tetap berdiri menghadap Tri.
“Hmmm. Kau benar, Joko. Yuli pernah mengencani seseorang, tapi itu sudah lama sekali. Aku pun tak tahu kapan itu tepatnya. Kurasa itu sekitar 7 atau delapan tahun yang lalu.”
“Bagaimana kau bisa yakin, Pak?” tanya Joko.
“Kau pikir aku akan diam saja? Cobalah kau ada di posisiku saat ini. Kau akan melihat beberapa hal yang tak ingin kau mau.”
“Caramu bekerja, hal yang kau pikirkan, saat menjawab telepon, dan bahkan saat kau pergi ke kamar mandi.”
“Meski tidak melakukan apapun, aku bisa melihat semuanya, Joko. Aku yakin Yuli mengencani orang yang juga berada dalam agensi saat itu,” jelas Tri.
“Siapa dia? Apa kau tahu?” tanya Joko.
Tri menggelengkan kepalanya dan,
“Entahlah. Aku hanya mempunyai firasat seperti itu. Lagi pula, siapa yang mau mengencani seorang wanita yang mudah marah sepertinya. Aku yakin hanya orang yang bekerja di bidang yang sama yang bisa dengannya.”
“Apa kau yakin itu sekitar 7-8 tahun yang lalu?” tanya Joko.
Waktu itu adalah waktu sekitar setahun atau dua tahun pertama Joko masuk dan bergabung bersama agensi.
“Ya. Aku yakin itu. Itu sekitar waktu putriku mulai dirawat.”
Tri kembali ke meja kerjanya, lalu duduk.
“Astaga, Joko. Kudengar kau membuat keributan di kantor Yuli tadi pagi. Apa ini berkaitan dengan itu?”
Tri pun mulai curiga dengan pertanyaan Joko.
“Tidak, Pak. Terimakasih telah memberitahuku. Aku permisi dulu.”
Joko menunduk memberi hormat pada Tri dan meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
Joko kembali ke kantornya dan mengajak Tini yang akan pulang untuk berbicara sebentar dengannya.
“Kau datang, Pak?” sapa Tini.
“Ya. Apa kau akan segera pulang?”
“Ya. Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku. Ada apa? Ada yang bisa kubantu?”
Joko keluar sebentar dan melihat situasi di luar kantor, lalu kembali.
“Aku ingin kau menyelidiki Yuli untukku. Aku menyelinap ke dalam rumahnya dan melihat ia menggunakan obat tanpa resep.”
“Jika kau memeriksa orang di sekelilingnya, kau akan menemukan orang yang bekerja di bidang farmasi atau dokter.”
“Kenapa kau melakukan itu, Pak? Kenapa kau ingin menyelidiki Kepala Yuli?”
Tini pun bertanya-tanya dan sangat penasaran kenapa Joko ingin dia menyuruhnya untuk menyelidiki Yuli.
“Apa kau bisa melakukannya untukku?” tanya Joko.
“Kau bahkan bisa menyelidikinya sendiri, Pak, meski tanpa bantuanku. Itu tak cukup sulit. Kau bisa menggunakan komputer atau laptop biasa di kantor ini.”
“Aku telah diblokir dan tak bisa mengakses basis data internal kita. Selain itu, ada banyak orang yang mengawasiku mulai sekarang.”
“Kalau begitu, itu berarti kau butuh bantuanku untuk saat ini, bukan begitu? Hmmm. Bagaimana kalau begini saja?”
“Mulai sekarang, kita akan saling berbagi semua informasi yang kita ketahui tentang Kepala Yuli. Apa kau setuju? Aku sedang mengerjakan proyek baru dan terhubung langsung dengan Kepala Yuli.”
“Baiklah, kalau itu maumu. Mari kita lakukan itu.”
“Deal,” ucap Tini dengan semangat
“Kalau begitu, aku akan pulang lebih dulu, jika kau sudah selesai.”
Saat Tini akan pergi, Joko memanggilnya kembali.
“Satu hal lagi. Aku sangat penasaran dengan satu hal. Apa kau punya pacar?” tanya Joko.
Tini menggelengkan kepalanya dan bingung kenapa Joko menanyakan hal itu.
“Baiklah. Anggap saja kau mengencani seseorang.”
“Apa maksudmu, Pak?”
“Tidak, anggap saja begitu. Ini hanya perumpamaan. Jika kau mengencani seorang pria, apa kau akan membawanya ke tempat kau membuat kenangan dengan mantan pacarmu sebelumnya?”
Pertanyaan Joko berkaitan dengan foto yang ia lihat di apartemen Yuli. Joko sengaja bertanya pada Tini, karena ia tak tahu kenapa Yuli mengajak El ke tempat yang pernah ia kunjungi bersama mantan kekasihnya.
“Astaga. Kenapa kau menanyakan hal itu, Pak?” tanya Tini.
“Bukan apa-apa. Aku hanya ingin tahu cara berpikir wanita,” jawab Joko dengan polosnya.
__ADS_1
Joko yang sama sekali tak pernah berkencan dengan wanita pun bingung dengan hal itu.
“Hmm. Entahlah. Jika aku serius dengan pria yang kukencani sekarang, kurasa aku tidak akan melakukan hal itu, karena jika dia tahu, mungkin akan menyakiti hatinya,” jawab Tini.
“Bukankah kau juga begitu, Pak? Kau tak akan melakukan itu, kecuali kau masih memikirkan mantan pacarmu. Astaga. Ada apa denganmu? Apa ini berkaitan tentangmu? Apa kau punya pacar baru?”
Tini tersenyum dan balik menggoda Joko.
“Baiklah. Terima kasih atas pendapatmu.”
Joko pun langsung pergi dan mengabaikan pertanyaan Tini.
Begitu pula dengan Tini yang langsung pulang karena Joko mengabaikan pertanyaannya.
***
*TIING!!!
Di pagi harinya saat Joko akan berangkat bekerja, ia mendapatkan notif SMS dari Tini.
“Pak, aku sudah menyelidikinya, dan salah satu kakak sepupu Kepala Yuli adalah seorang psikiater yang mempunyai klinik pribadi. Aku akan mengirimkan lokasi kliniknya padamu melalui e-mail.”
Setelah menerima alamat lokasi itu, Joko pun bergegas pergi ke tempat itu menggunakan mobilnya.
Beberapa saat kemudian, Joko telah sampai ke alamat yang telah dikirim oleh Tini.
Klinik itu berada tepat di sebelah mall Sarinah di persimpangan jalan. Klinik itu terlihat sangat ramai dengan pengunjung, tapi Joko tetap masuk untuk menemui psikiater, kakak sepupu Yuli.
Di resepsionis, Joko menunjukkan kartu identitasnya sebagai anggota agensi terbesar di Indonesia yang membuat petugasnya pun langsung mengantar Joko untuk menemui dokter pemilik klinik itu.
Saat semua orang sedang mengantri, Petugas resepsionis mengantar Joko langsung masuk ke dalam ruangan Dokter untuk mempertemukannya.
“Silahkan masuk, Pak,”
Joko pun masuk ke dalam setelah petugas resepsionis berbicara pada psikiater.
“Duduklah, Pak. Kenapa kau kemari? Ada yang bisa kubantu?”
Kakak sepupu Yuli adalah seorang wanita yang umurnya lebih tua sedikit dibanding Joko.
Ia langsung menyambut Joko dan menyuruhnya untuk duduk.
“Apa kau mengenal Nona Yuli?” tanya Joko yang membuat raut wajah sepupu Yuli pun berubah seketika.
“Apa aku boleh tau, siapa kau?”
Joko kembali mengeluarkan kartu identitas, lalu menunjukkannya.
“Kami bekerja di perusahaan yang sama.”
“Tunggu sebentar!”
__ADS_1
Psikiater itu berdiri dan mengunci pintunya, agar tak ada orang yang menggu mereka berbicara.
Setelah itu, Joko pun mulai bercerita mengenai Yuli dan tentang penyakit yang sedang dideritanya.