
“Kenapa kau mengundurkan diri secara tiba-tiba? Aku tau betul kau ingin menyelidikinya sendiri. Apa kau pikir Bu Rina tak tahu, jika kau ingin menyelidiki kasus itu sendiri?” ucap Aji.
“Dia tahu, tapi dia membiarkanmu untuk melakukan itu, Joko. Dia membiarkanmu melakukan itu, karena ia tak mau disalahkan jika masalah terjadi.”
“Astaga. Kau sedang dimanfaatkan, Nak. Apa kau tak menyadari itu? Kau harus berhenti dan jangan keras kepala.”
Aji menasehati Joko dengan menggebu-gebu.
“‘Selalu buat orang lain berpikir mereka memanfaatkanku.’ Itu adalah kata-kata yang pernah kau katakan padaku dahulu, saat pertama kali aku bergabung dengan agensi,” ucap Joko.
“Orang yang mengendalikan situasi saat ini adalah aku. Bukan Bu Rina, Ketua Aji atau siapapun itu.”
Joko mengeluarkan amplop besar berwarna coklat yang berisi label manufaktur dan memberikannya pada Aji.
“Apa ini?” tanya Aji.
“Sulistyo dan semua anggota gengnya menyelundupkan ratusan kilogram narkoba di Indonesia. Mereka mengirimkan itu menggunakan jasa kurir dan mengirimkannya ke seluruh kota besar dan itu adalah label manufakturnya.”
Aji terkejut dan membuka amplop itu.
“Jika itu berhasil diringkus oleh departemen kita, maka itu akan memberi departemen kita mendapat nilai tambahan dan angka tertinggi dari sebelumnya di dalam agensi kita,” jelas Joko.
__ADS_1
“Beri aku waktu dua hari lagi, maka aku akan menemukan Sulistyo dan membereskan semuanya.”
“Sebenarnya, misi ini ditugaskan untuk Tri dan anggotanya dan jikalau kau berhasil menyelesaikannya, tetap saja tim ketua Tri lah yang akan mendapatkan pujian dari semua orang, termasuk semua orang di agensi kita. Apa kau tak keberatan dengan itu?” jelas Aji.
“Tentu saja. Aku tak mempermasalahkan itu. Aku hanya ingin melindungi negara ini dari para kriminal bajingan itu, tanpa memperdulikan jabatan atau pujian sedikitpun,” ucap Joko.
Aji tersenyum mendengar ucapan Joko itu.
***
Di kantor Joko, terlihat Tini yang sedang bekerja mencari informasi, sesuai dengan tugas yang diberikan Joko kepadanya.
Saat ia hendak beristirahat, Yuli, mantan kekasih El yang telah meninggal pun datang ke ruang kerjanya.
Sapa Tini pada Yuli, yang tak belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Kemana semua orang yang berada di sini?” tanya Yuli.
“Ya. Sepertinya begitu. Ada yang bisa kubantu, Nona?”
Tini berdiri dari kursinya dan mendekati Yuli.
__ADS_1
“Astaga. Aku belum pernah melihatmu? Apa kau baru bekerja? Baiklah. Aku adalah Yuli, ketua dari pusat yang mengurus cabang ini,” ucap Yuli.
“Astaga. Maafkan aku. Namaku Tini, Bu.”
Tini menunduk dan memperkenalkan dirinya pada Yuli setelah mengetahui bahwa Yuli memiliki jabatan yang lebih tinggi.
“Apa kau rekan sekaligus bawahan Joko?” tanya Yuli.
“Ya. Benar, Bu.”
“Hmm. Dimana dia? Aku tak melihatnya hari ini.”
“Dia mengambil cuti untuk satu minggu kedepan, dan akan memulihkan keadaannya terlebih dahulu.”
“Omong-omong, Bu. Apa kau sangat dekat dengan Pak Joko?” tanya Tini.
“Ya. Dahulu kami berada di dalam satu tim.”
“Wah. Begitu rupanya. Baiklah kalau begitu,” ucap Tini.
Yuli melangkah mendekat pada Tini dan menatapnya dengan sinis.
__ADS_1
“Bukankah itu sulit? Pasti kau cukup kelelahan saat bekerja dengannya,” ucap Yuli.
“Itu tidak masalah, Bu. Dia mungkin terlihat sangat dingin, tapi sebenarnya dia sangat baik dan menjagaku selama ini,” ucap Tini yang membalas omongan Yuli dengan senyuman.