
Kicau sang burung berpadu kokok serak si ayam jantan, sukses membuat Ghina terbangun dari alam mimpinya. Seperti telah menjadi rutinitas di pagi hari, Ghina menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
"Gila!!! kalo nggak demi 5 lembar uang 50 ribuan itu, ogah deh main lumpur-lumpuran demi dapetin daun suji."
Joen tu memang gila, tapi Ghina nggak menyangka kegilaan Tuan mudanya terhadap es cendol tuh melebihi segalanya.
...#Flashbcak on#...
Nyariin kang cendol di jam segini, saat matahari sudah lelah berdiri tegak di atas sana. Alih-alih lebih lama menyinari dunia, matahari pun bisa lelah dan akhirnya memilih langkah condong ke barat.
"Telponin deh, udah langganan bertahun-tahun masa nggak punya nope si abang cendol."
"Emang penting ya nyimpen nope abang cendol?."
Joen melirik Ghina, tajam"Eh bahlul, makanya punya otak tuh di asah biar tajem. Nih, kalo keadaan kaya begini kan kita perlu banget nope nya abang cendol."
Bibir si kecil Ghina maju beberapa senti, ucapan Joen sungguh menyentil hati"Dari pada mengasah otak saya, mending pedang samurai yang di asah sampe tajem Tuan."
Joen memicingkan mata menatap Ghina"Apa hubungan pedang samurai sama saya? orang ngomongin otak cetek kamu, kok kamunya ngomongin pedang samurai?."
"Buat ngegorok leher Tuan!! samurainya buat misahin kepala Tuan dari badan Tuan!!," sentak Ghina dengan emosi meletup-letup.
Seketika Joen memegangi lehernya"Gila nih si cebol, otaknya horor."
"Udah tahu otak saya horor, kenapa selalu di kata-katain? jangankan kerja, marah juga bikin capek Tuan!," bukannya ciut di pelototi Joen, Ghina membalas tatapan anak majikan itu.
Joen mendeteksi amarah yang akan mengundang bencana, Ghina si anak koki pasti akan melaporkan dirinya kepada sang mamah. Demi kedamaian dunia, Joen memilih mengurangi takaran jahilnya terhadap Ghina sore ini"Maaf deh, udah, jangan ngedumel terus. Sekarang gimana dong cara nyariin si abang cendol."
Baiklah, karena Joen sudah meminta maaf, meski berat Ghina akhirnya jinak kembali"Emang, mau ngapain kalo ketemu abang cendol? Ghina yakin jualannya udah habis."
"Ya.....tapi kan dia bisa bikin lagi."
"Dih, emang pangkat Tuan apaan? demi secangkir cendol buat Tuan, si abang cendol di suruh bikin ulang," celoteh Ghina. Di pandanginya wajah tampan si anak majikan, ugh! untung cakep, meski ngeselin wajahnya bikin hati sedikit tenang.
"Emang, nggak bisa ya bikin secangkir doang?."
Demi neptunus, Ghina memutar bola mata Jengah"Setahu Ghina, abang cendol tuh sekali bikin dalam porsi banyak, kalo secangkir doang mah, tanggung."
"Emang, sebanyak apa?," tanya Joen terkesan polos.
__ADS_1
Entah memang polos atau kelewat bego, Ghina lelah harus menjelaskan hal itu kepada Joen.
Gadis itu merentangkan tangannya"Banyak Tuan," ujarnya.
"Segitu doang? sebanyak rentangan tangan pendek kamu?," di lihatnya tangan kecil Ghina, gemoy dan lucu! Ghina seketika berwajah masam, membuat Joen tertawa.
"Pokoknya banyak deh, sampe bisa di buat berenang. Heh, puas-puas dah tuh berenang di kolam cendol."
"Hahahah," Joen tergelak tawa, bikin Ghina kesal tuh memang sangat menyenangkan"Mau, mau banget berenang di kolam cendol. Ayo cari abang cendol lagi."
Kalo nggak di tawarin upah 5x lipat, Ghina pasti sudah keluar dari dalam mobil Joen. Ngabisin ongkos bus buat pulang ke rumah, rasanya nggak akan merugikan bagi Ghina yang perhitungan dengan uang.
Lama memarkir mobil di depan abang cendol biasa berjualan, membuka jalan mereka untuk menemukan kediaman si abang cendol. Ghina yang mengenal istri abang cendol berseru saat melihat wanita itu tak jauh dari tempat mereka.
Benar apa yang di katakan Ghina, jualan abang cendol udah habis. Ghina lantas menawarkan diri untuk mencari minuman itu ke tempat lain, namun Joen seolah enggan untuk berpisah darinya.
"Bikin lagi dong bang," pinta Joen.
Pria itu mengusap wajah perlahan"Bukannya nggak mau bikin lagi, stok daun suji saya habis."
"Beli lagi dong," tukas Joen.
Melipat kedua tangan di dada, Joen memaksa otaknya untuk berpikir keras. Ghina terus membujuknya untuk menunda keinginan menikmati cendol itu hingga esok siang. Namun, sayangnya Joen tidak terlahir dengan kepala yang mudah melunak.
"Ya udah," ucapan singkat pria tinggi itu sempat mengukir senyum di wajah Ghina. Namun, senyum itu segera sirna saat Joen kembali berkata-kata.
"Kita cari saja daun sujinya!."
"Yak!! kira-kira dong Tuan. Kemana nyari daun suji? di tengah kota begini, susah tau!!!."
"Ada kok, di ujung komplek sebelah tuh," seloroh istri si abang cendol.
Dua manik Joen seketika berbinar senang"Tunggu apa lagi? ayo cepat cari."
"Tapi di tepi sungai, kudu turun ke sungai, dangkal sih sungainya tapi ada lumpurnya," ujar istri abang cendol lagi.
Abang cendol nggak bisa membantu"Maaf nih ya Tuan, saya nggak bisa lama-lama berendam di air, takut rematik saya kambuh."
Alamat tidak baik, ujung mata Ghina melirik Joen. Ternyata si Tuan muda juga sedang melirik kepadanya.
__ADS_1
"Apa?!!, jangan bilang Ghina harus nyemplung ke sungai demi daun suji itu??," sentaknya mulai merasakan hawa-hawa suram.
"Ntar cendolnya aku bagi sama kamu deh."
"Hilih, nyemplung ke sungai demi secangkir cendol. Yang benar dong, lagipula saya kan kecil, gimana kalo saya kelelep?."
"Nggak akan! kodok-kodok pasti bantuin kamu."
"Tuan!! jangan saya dong!," Ghina mulai merengek.
"Terus kalo bukan kamu siapa? masa saya? harga celana saya aja bisa buat beli motor, ya kali di pake buat nyemplung ke sungai."
"Idih, sombong, hidup pula," cecar Ghina, memang benar harga celana Joen terbilang mahal, tapi nggak setara sama sebiji motor juga kali. Kalo semahal itu mah mending di gondol Ghina, di jual lagi setidaknya masih sedikit mahal.
Abang cendol mulai jengah dengan adu mulut dua bocah di hadapannya. Buru-buru dia ingin memastikan, apakah mereka bisa mendapatkan daun suji itu?
"Gampang! Ghina akan dapetin daun sujinya bang."
"Nggak! jangan maksa dong Tuan!."
"Heh, aku bayar 5x lipat, apa kamu lupa?."
Duit....duit.....duit....
Benda itu menari-nari di dalam pikiran Ghina. Setelah berpikir ulang, nyemplung ke sungai kayaknya nggak buruk-buruk amat deh, kan di bayar 5x lipat 🤩🤩🤩🤩
"Bayar dulu! ntar saya di tipu."
Joen mengeluarkan dompet dari sakunya, menarik pecahan uang biru sebanyak 3 lembar.
"Katanya 5x lipat! segini mah mana cukup, saya nyemplung lho Tuan, nyemplung ke sungai!!!, kalo saya hanyut gimana? memangnya nyawa saya seharga 3 lebar doang??," uang itu tak di sambut dengan baik oleh Ghina. Dia bahkan enggan kembali menatap uang tersebut.
"Ya elah, DP dulu kali Ghin, dua lembarnya menyusul kalo sudah dapat daun sujinya."
"Buruan! keburu malam," tukas abang cendol.
"Set!," Ghina mengambil uang di tangan Joen sedikit kasar, kalo nggak demi gendutin tabungan buat ongkos masuk kuliah, akh!!! begini amat pengen sekolah!
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗